Skip to content

LOVE PART 4

LOVE PART 4

‘’Maaf, maafkan kami ya nak. Sebagai gantinya, ini. Terimalah ini.’’ Ibu pemilik restoran sate itu memberikan sebungkus sate secara gratis pada Cuky. Tadinya Cuky ingin tersenyum senang, tapi kemudian ia malah bergaya so cool. Dilihatnya Cecile yang ternyata adalah anak pemilik restoran sate ini.
‘’Jangan seperti itu lagi ya dik.’’ Cecile yang dipanggil adik oleh Cuky hanya memelototi pria itu.
‘’Baiklah, terima kasih. Aku pamit.’’ Pamit Cuky, ia kemudian berbalik pergi.
‘’Sudah kubilang jangan berbuat seperti itu lagi, itu tidak sopan kau tahu? Kenapa kau pulang semalam ini?’’ tanya Ibu pemilik restoran.
‘’Sudah kubilang hari ini aku ada kursus Bu.’’
‘’Ya…’’
‘’Astaga! Hampir saja aku lupa, Juno, dia kan menjadi mc malam ini. Apa acaranya sudah dimulai?’’ Cecile segera naik ke lantai dua menuju kamarnya.
‘’Ada apa dengan anak itu?’’ Ibunya menggeleng.
Beberapa artis baru saja turun dari mobil mereka menaiki tangga dan masuk ke dalam gedung acara. Terlebih dulu mereka melewati red carpet. T’ra, anggota girlband Ey’es yang akan mewawancarai artis di red carpet ini.
‘’Hi, saya dari Ey’es yang akan menemani kita semua disini. Siapa artis yang akan datang ya? Mmm, mari kita kesebelah sini, lihat siapa yang datang? Fame dari boyband T’Boyz, apa kabar?’’
‘’Baik.’’
‘’Apa konsep busanamu malam ini?’’
‘’Yang kupakai ini adalah rancanganku sendiri. Sebulan yang lalu aku sudah belajar menjadi seorang desainer, apa ini terlihat keren?’’
‘’Sangat keren.’’ Puji T’ra. ‘’Bagaimana tanggapanmu tentang Juno dari T’Boyz yang akan menjadi mc utama?’’
‘’Sebenarnya aku sedih karena tak terpilih.’’
‘’Benarkah?’’
‘’Tidak, aku sudah pernah menjadi mc tahun lalu. Yang aku ingin katakan, fighting!’’ tutup Fame.
Sementara itu Cuky baru sampai di restoran pizza.
‘’Hai semua..’’ sapanya sambil melepaskan sepatu.
‘’Kenapa tidak ada yang menjawabku ya? dimana mereka semua?’’ bingungnya. Kemudian melangkah menaiki tangga. Benar, ternyata mereka semua sedang berada di lantai dua, asik menonton tv.
‘’Sepertinya sangat seru, apa yang kalian tonton?’’ tanya Cuky.
‘’Jangan berisik, acaranya akan dimulai sebentar lagi!’’ perintah Edo, satu-satunya koki yang bekerja disini. Cuky juga melihat bosnya disana, sama-sama menunggu acara yang akan dimulai. Dengan sedikit penasaran, Cuky ikut duduk bersama mereka.
Acara dimulai, semua bersiap.
‘’Three, two, one, on air!’’
‘’Selamat malam semua.’’ Sapa Dina bersamaan dengan Juno. Mereka kemudian saling menatap.
‘’Wah, gadis disebelahku, ada yang mengenal gadis cantik ini?’’ selidik Juno sambil mengembangkan senyumnya.
‘’Malam, namaku Dina, Aku adalah mc pengganti. Terimakasih atas pujianmu itu ya Juno.’’
‘’Siapa yang memujimu?’’ Dina dibuat kikuk, agak takut dan malu.
‘’Ah?’’
‘’Mulai sekarang sepertinya kau harus belajar bagaimana membedakan fakta atau sekadar pujian. Sudah, ayo kita mulai acaranya. Aku bisa gila melihatimu terus.’’ Dina tertawa renyah, diikuti Juno yang tersenyum memikat.
‘’Oh, jadi pria itu yang disukai Mina?’’ Edo mulai membicarakan calon pacarnya, pelayan di restoran sebelah.
‘’Cuky, dia tidak terlalu tampan kan?’’
Cuky tidak sepenuhnya sadar, ia masih merasa Dina yang sekarang wajahnya menghiasi tv adalah miliknya seutuhnya, bukan milik pria lain, ataupun Juno.
‘’Tapi, dia memang keren.’’ Edo yang mendengar jawaban Cuky memulai cemberutnya, sementara bos sudah ditahu kalau ia menunggu penampilan Nona Ressa, penyanyi klasik yang sudah berumur.
‘’Ibu…’’ Cecile memeluk bonekanya, ia menjerit tiba-tiba melihat Juno menatap Dina lagi. Ibunya yang sudah tahu hanya menggerutu dari balik selimutnya.
Penampilan Nona Ressa membuat bos lupa akan dirinya. Edo melihat tampang bos yang seketika menjadi bodoh. Cuky yang duduk agak dibelakang, masih cemburu.
‘’Bagaimana penampilan Nona Ressa tadi? Mmm? Bagus ya?’’ Dina memulai membawa acara lagi. Bos mengangguk setuju.
‘’Sekarang siapa yang akan tampil? Juno? Dimana dia?’’
‘’Aku disini.’’ Panggung yang tadinya gelap berubah menjadi sangat terang, sorak-sorai penonton terdengar sangat keras. Jelas, T’Boyz akan tampil sebentar lagi.
‘’Ini lagu untuk wanita yang sangat cantik malam ini, girl, I need a girl.’’ Ucap Juno yang langsung membuat semua penonton histeris. Wanita itu, mungkin Dina.
Lagu girl I need girl milik T’Boyz mulai menggema ke seluruh ruangan, tak terkalahkan meskipun penonton menjerit sangat keras. Cecile yang melihatnya hanya dari tv saja sudah bergetar. Ia bahkan memegangi dadanya, rasanya hati ini akan hilang seketika.
‘’Apa pria seperti ini yang disukainya?’’ Cuky memajukan bibirnya, bodoh, ini justru terlihat sangat lucu saat ia cemburu.
‘’Semua mengidolakanmu.’’ Ucap Dina dibelakang panggung saat acara sudah selesai, entah untuk memuji atau apa, hanya ia yang tahu.
‘’Kau sudah tahu bagaimana diriku sebenarnya?’’ Juno menatap Dina tepat pada matanya, Dina mengalihkan pandangannya, tapi Juno malah makin mendekat, dan terlihat berbisik.

Dina berada di kamarnya, ia baru saja mengganti pakaiannnya, dikeringkannya rambutnya.
‘’Tunggu sampai besok, apa yang akan terjadi.’’ Ucap Juno semalam penuh teka-teki. Tidak mau memikirkannya, ia mengambil handphonenya untuk menelpon Yuri menanyakan soal dramanya tahun depan. Tapi, Yuri justru yang terlebih dulu menelponnnya.
‘’Ada apa?’’
‘’Cepat…cepat nyalakan tv. Lihat!’’ ucapnya putus-putus. Mendengar itu semua, Dina segera menyalakan tv di kamarnya.
‘’Aku tidak tahu apa tadi malam dia itu bidadari atau bukan. Yang jelas, aku jujur kalau ia memang sangat cantik.’’
‘’Apa kau menyukainya Juno?’’
‘’Tidak. Maksudku, aku tidak tahu, aku belum mengerti perasaanku ini. Tanyakan padanya apa dia menyukaiku atau tidak. Beritahu aku ya.’’ Setelah memberi penjelasan, Juno segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.
‘’Lihat, dia pasti sudah melihatnya.’’ Senyumnya dari dalam mobil.
Yuri menelpon lagi.
‘’Kau sudah melihatnya?’’
‘’Ya.’’
‘’Katakan, apa kau menyukainya?”
‘’Apa maksudmu?’’
‘’Apa kalian pacaran?’’
‘’Tidak.’’
‘’Benarkah?’’ suara Yuri mulai terlihat lemah. ‘’Baiklah, kalau begitu.’’ Putus Yuri.
Bel apartemennya berbunyi, Dina agak bingung, setahunya hanya Yuri yang tahu apartemennya, tapi bukankah Yuri baru saja menelponnya. Dia tidak berada di sekitar sini kan? Tapi jika tidak ini siapa?
Takut-takut Dina membukanya. Tidak ada seorang pun disini. Lalu…
‘’Apa ini?’’ Dina mengambil sebuah perekam suara yang hampir saja diinjaknya.
Ditekannya satu-satunya tombol yang ada, terdengarlah suara Juno.
‘’Kau tahu siapa aku kan? Bagaimanapun aku memintamu untuk menjaga ini, setiap hari di saat malam tiba, kau akan mendengar pengakuanku.’’ Kata Juno tak jelas, Dina baru saja akan membuangnya.
‘’Jangan dibuang! Simpan.’’ Dina menatap perekam suara itu dengan aneh. Sementara itu Juno berada di apartemennya yang baru.
‘’Lebih baik seperti ini.’’ Ucapnya sambil menaruh perekam suara yang sama di atas mejanya. Dipandanginya seluruh penjuru ruangan.
‘’Kini kita sangat dekat.’’ Kau tahu, Juno, tetangga baru Dina.
~Bersambung~

Please komen, jelek gak jelek, tetep komen. I wait it here…

Iklan

LOVE PART 3

LOVE PART 3

Perasaan Dina kini bercampur aduk, belum jelas apa maksud Juno memeluknya seperti ini. Juno, dia tidak melakukan ini sebagai salam perkenalan kan? Entahlah, Dina masih bisu. Sama sekali tak terpikirkan untuk meminta Juno melepaskannya.
‘’Bersikaplah profesional.’’ Bisik Juno dalam. Lalu perlahan dilepaskannya pelukan itu, berlalu pergi meninggalkan gadis berambut panjang yang gemetaran dalam ruangan.
Di suatu tempat, sepertinya sebuah café. Juno sedang mabuk-mabukan, sesekali ia tersenyum pada teman yang datang menyapanya. Seorang dari perempuan yang duduk di lengan kursi tempat duduknya, mencium pipinya. Juno tersenyum lagi.
‘’Dia bukan wanita seperti yang kubayangkan.’’ Ucapnya pelan.
Dina melepaskan sepatunya dan langsung terbaring di tempat tidurnya, dari wajahnya terlihat ia sangat kelelahan. Diingatnya lagi, kejadian itu. Saat Juno memeluknya. Dina, ia masih bingung pada apa yang terjadi. Apa Juno sengaja mempermainkannya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Beberapa saat setelah itu handphone Dina berbunyi. Dirabanya tempat tidur itu, lalu memulai pembicaraan dengan Yuri.
‘’Maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang, kau sudah sampai di rumah kan?’’
‘’Ya.’’ jawab Dina sekenanya.
‘’Hari ini aku ada rapat tentang drama tahun depan, mungkin aku akan pulang pagi, apa tidak masalah?’’
‘’Bukankah selalu begitu? Aku harap kau tak mengambil keputusan itu seorang diri, aku tidak terlalu suka berakting dalam drama, kau tahu kan?”
‘’Ya? ah, aku mengerti.’’ Permbiacaraan mereka tertutup, Dina melanjutkan tidurnya tapi malah membuka matanya lagi.
‘’Baik bos.’’ Cuky memberikan hormatnya yang seperti polisi pada bos dengan senyum yang mengembang.
‘’Kau sudah normal kembali sepertinya, cepat sekali.’’ Respon bos cepat. Ya, Cuky sudah kembali seperti biasanya, selalu ceria dan jauh dari kata putus asa, apapun itu ia akan mencoba mendapatkannya. Tidak peduli betapa suasahnya mengambil hati Dina lagi. Ia harus berhasil.
‘’Pelayan!’’ panggil seorang pengunjung yang baru datang, Cuky menghampirinya dengan bergairah.
‘’Sepertinya hanya aku yang merindukannya.’’ Pikir Dina dari dalam taksi, ditutupnya jendela taksi yang tadi terbuka sedikit.
‘’Jalan.’’ Perintahnya.
Dina membuka laptopnya sesaat setelah ia sampai di apartemen. Ini sudah malam, tapi sepertinya kantuk yang sempat menderanya tadi sudah hilang. Hal pertama yang dia ingat, twitter. Dina tersenyum sesekali membaca mention dari penggemarnya.
‘’Kak Dina banjir mention ya? yah, tolong balas mentionku yang ini saja. Right?’’ Tulis fans ber-user name @dededei ‘’Kakak, mengapa kau begitu cantik?” tulis yang lain.
‘’Jangan bekerja terlalu keras ya. Jaga kesehatanmu baik-baik.’’ Tulis @cukycuky. Dina berhenti membaca. Ia tahu, itu pasti mention dari Cuky.
Cuky sedang duduk-duduk di tangga restoran pizza yang sudah tutup sejam lalu. Ia terus mengamati handphonenya, menunggu balasan dari Dina. Tapi, Dina tak membalasnya. Sempat terpikir kalau gadis itu memang sudah benar-benar melupakannya. Tapi, demi rasa cintanya, ia tidak akan pernah menyalahkan Dina.
‘’Pasti dia tidak sempat membacanya.’’ Begitu katanya.
Dina masih berada di depan laptopnya, ia mulai mengetik. Cuky, iya aku tidak akan bekerja terlalu keras, aku disini baik-baik saja. Sayang, dia menghapusnya lagi.
‘’Sungguh, aku minta maaf.’’ Ditutupnya laptopnya malam itu. Bulan semakin tinggi, namun kemudian menghilang tegantikan matahari yang sinarnya membangunkan Dina lewat jendela kaca yang Yuri sengaja buka.
‘’Ini sudah pagi. Kita akan mempersiapkan penampilanmu nanti malam.’’ Dina memaksa dirinya untuk terbangun, dilihatnya Yuri yang sudah berpakaian rapi.
‘’Hari ini…’’ gumam Dina.
‘’Arghh!’’ Cuky menjerit lagi, sudah jelas ia alergi bulu kucing tapi kenapa Tinkerbell, si kucing milik bosnya itu sangat menyukainya? Cuky membersihkan bajunya dari bulu kucing yang berserakan, setelah Tinker, sapaan manis kucing itu lari terbirit-birit melihat Cuky yang marah saking takutnya.
‘’Cuky!’’ panggil bos dari bawah. Panggilan bosnya itu tak dihiraukannya, ia harus mandi sebelum bekerja. Tentu.
Dina bersama dengan Yuri melangkah masuk ke dalam salah satu rumah mode yang paling terkenal di negerinya. Banyak selebriti disini yang mendapatkan busana dari desain rumah mode d’unique. Tapi, bukankah hanya selebriti papan atas yang kesini. Dina menatap Yuri sekali lagi, gadis yang sepantaran dengannya itu hanya menganguk mengiyakan. Dina masuk seorang diri sementara Yuri sudah mengatakan pada aktrisnya jika ia harus bertemu seseorang. Dina melangkah penuh percaya diri, meskipun ada rasa takut jika ia bertemu selebriti lain disini, apa tidak apa-apa? Benar saja.
‘’Kau kesini juga rupanya?’’ Dina menoleh, keningnya berkerut, kenapa ia harus betemu pria itu disini. Juno yang sedang duduk di kursi di pojok ruangan besar itu menghampri Dina. Ia berbisik di telinga gadis itu lagi.
‘’Jangan pakai gaun merah lagi, kau mengerti?’’ Lagi-lagi merah, apa maksudnya semua ini.
‘’Nona, mari coba gaunnya.’’ Panggil seorang dari asisten desainer. Dina melangkah menghampirinya.
‘’Bagaimana jika ini?’’ tawar asisten desainer tadi pada Dina yang kini sudah berada di dalam sebuah ruang ganti. Dina menggeleng.
‘’Ini bagus untuk acara formal.’’ Jelas asisten desainer lainnya.
‘’Aku ingin gaun warna merah.’’
Sementara itu dari luar, desainer sekaligus pemilik rumah mode ini sedang berbincang-bincang hangat dengan Juno yang berdiri saling berhadapan.
‘’Ya, aku sangat menyukai jas ini.’’ Ungkap Juno.
‘’Benarkah? Kami sangat senang mendengarnya, bagaimana jika, waw, dia cantik sekali..’’
‘’Siapa?’’ Juno memalingkan wajahnya, dan tirai ruang ganti mulai terbuka. Semakin jelas terlihat. Dina, dia nampak anggun dengan gaun merah menyala yang dikenakannya. Berdiri manis, menghadap Juno dan desainer tadi. Juno sama sekali tidak tersenyum, ia justru terlihat marah. Tanpa pikir panjang, dihampirinya Dina dan ditariknya tangannya. Dibawanya ke ruangan lain yang tak terlihat.
‘’Cepat ganti!’’ Dina tidak menjawabnya.
‘’Aku bilang cepat ganti.’’
‘’Ada apa denganmu? Bukankah ini cocok dengan jas yang akan kau kenakan?’’ belanya.
‘’Apa? Kau ingin mempermainkanku kan?’’ Dina mulai diam lagi. Ditatapnya lekat-lekat wajah Juno, pria dingin itu.
‘’Aku mohon, jangan pakai gaun ini lagi.’’ Pintanya, ada nada memelas dari ucapanya.
Dina sudah berada di apartemennya lagi, ia akan berangkat sebentar lagi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Merah, warna itu.
‘’Bisakah kita mengganti gaun ini?’’ tanyanya pada Yuri.
Cuky ada kesempatan keluar malam ini, setelah semua pekerjaannya selesai.
‘’Aku akan kemana ya?’’ ia bingung juga. Biasanya ia akan bertanya pada Dina saat mereka jalan berdua, kemana mereka akan pergi. Tapi sekarang, tidak ada yang bisa ditanyainya. Ia terus berjalan dan menendang-nendang botol mineral yang ditemuinya. Membuatnya hampir saja terpelset. Aroma bakaran sate tercium dari sebelahnya, diikutinya sampai aroma itu tercium sangat jelas. Ia berhenti di sebuah restoran sate tanpa nama.
‘’Harum sekali, tapi sepertinya aku baru tahu ada restoran yang menjual sate disekitar sini?’’ gumamnya.
Cecile, salah satu J’yes yang hampir pingsan ketika bisa melihat Juno, idolanya secara langsung itu, berlari terburu-buru menuju restoran sate dan langsung duduk di meja tempat Cuky duduk.
‘’Siap-siap..’’ Cuky baru saja akan mengambil satu tusuk sate yang sudah diincarnya sejak tadi, tapi…
‘’Mmm, enak sekali.’’ Cuky terbengong-bengong melihat Cecile yang tanpa asal-usul yang jelas memakan sate incarannya begitu saja.
‘’Hei kau!’’ bentaknya.
~Bersambung~

I wait your comment

LOVE PART 2

LOVE PART 2

Langit malam itu gelap sekali, sepertinya akan turun hujan. Cuky mungkin tidak sadar akan hal itu, ia tidak mempercepat langkahnya dan malah berjalan lemah menuju restoran pizza. Diingatnya lagi kejadian yang baru saja terjadi.
‘’Pria sepertimu, aku tidak membutuhkannya.’’ Begitu kata Dina tadi.
‘’Pria sepertiku, aku ini bukan pria. Mana mungkin seorang pria membuat gadis yang sangat dicintainya kecewa. Ya, aku memang salah..tapi, apa itu artinya dia memutuskan hubungan denganku?’’ Cuky berjalan lagi dalam kesedihannya.
Sementara itu, Dina baru saja masuk ke dalam mobil Yuri yang menunggunya sejak tadi. Dina berusaha menahan tangsinya. Tapi ia tetap saja menangis. Bukan karena ia perempuan, tapi hatinya memang sedang terluka.
‘’Maafkan aku.’’ Ucapnya sepelan mungkin, berusaha agar Yuri tidak mendengarnya.
‘’Kau…tidak apa-apa?’’ tanya Yuri dari belakang kemudi.
‘’Ya.’’ Mobil itu pun pergi, menjauh dari kampus ditengah malam yang mencekam.
Hari ini Cuky tidak ada kuliah, ia harus bekerja seharian penuh di restoran. Tapi sikapnya sangat berbeda dari biasanya, ia terlihat murung. Menyadarinya bos yang melihatnya menuruni tangga, memanggilnya.
‘’Hei, Cuky, ada apa denganmu?’’ Cuky tak menanggapi pertanyaan bosnya, ia dengan seragam lengkap pelayan pizza dengan pakaian merah dan sepotong celana jeans panjang segera memulai pekerjaannya hari itu.
‘’Ada apa dengan anak itu?’’ bingung bos.
Dina baru terbangun dari tidurnya. Dirabanya tempat tidur empuk warna putihnya itu. Nuansa putih batik sangat jelas terasa di kamar itu. Dibukanya selimutnya lalu melangkah masuk menuju kamar mandi, sekilas terlihat matanya sembab karena menangis semalaman. Perpisahan itu menyakitkan.
Didepan apartemen, Yuri menunggu diluar. Ia tahu Dina mungkin masih mandi jam segini, percuma menekan bel terus menerus. Agak lama memang, menunggu pintu untuk terbuka.
‘’Iya.’’ Yuri tersenyum melihat Dina membukakan pintu.
‘’Ada apa?’’ tanya Dina yang heran melihat kedatangan Yuri sepagi ini. Yuri membetulkan posisi duduknya diatas sofa yang lagi berwarna putih lembut itu. Mereka sedang berbincang bersama di ruang tamu.
‘’Ada kabar baik untukmu. Kau tahu, kau didaulat untuk menjadi mc di acara N’tv music award, besok malam.’’ Beritahu Yuri yang juga menjadi manager Dina.
‘’Benarkah? Tapi apa tidak terlalu mendadak. Bukankah perlu satu minggu untuk persiapan acara seperti ini?’’
‘’Ya, itu karena kau adalah mc pengganti. Kau belum lihat beritanya, Gina yang menjadi mc sebelumnya harus mendapat perawatan di rumah sakit, mereka memilihmu sebagai gantinya.’’ Dina hanya tersenyum kecil mendengarnya.
‘’Ada apa dengannya ya?’’
‘’Entahlah, tapi sepertinya ia seorang pelayan.’’ Bos yang baru datang segera berlari ke dalam restorannya mendengar bisik-sisik yang terdengar itu.
‘’Maafkan aku.’’ Cuky menunduk meminta maaf. Tapi, pengunjung laki-laki itu sepertinya sudah sangat marah.
‘’Minta maaf? Kau pikir dengan minta maaf semua masalah akan selesai?’’
‘’Tunggu!’’ Bos dengan terburu-buru menghampiri mereka.
‘’Ada apa ini?’’ tanya bos.
‘’Apa kau bosnya?’’
‘’Ya.’’
‘’Lihat, pelayanmu ini sudah menumpahkan jus ke baju pacarku. Lihat, baju ini sekarang kotor kan?’’ Bos melihat ke arah baju pacar laki-laki itu yang memang kotor tertumpahi jus. Ia menatap Cuky yang ketakutan.
‘’Baiklah saya akan menggantinya.’’ Tegas bos.
‘’Bos…’’ heran Cuky.
Masalah sudah selesai sekarang, kedua pengunjung itu pun sudah pulang, pengunjung yang lain dapat makan dengan nyaman. Tapi, Cuky…
‘’Ada apa denganmu sebenarnya? Tadi pagi kau terlihat sangat murung, tidak seperti biasanya. Mmm?” prihatin bos.
‘’Maafkan aku. Aku…hanya sedang sedih saja.’’ Bos baru saja akan bertanya lagi, soal mengapa Cuky bersedih. Tapi, ia baru sadar tidak baik bertanya terus tentang kehidupan pribadi seseorang. Jadi, ia menasehati anak temannya itu.
‘’Ya, aku tahu, anak sepertimu pasti banyak masalah yang akan membuatmu sedih. Tapi, jangan lari dari masalahmu, cobalah untuk mengahadapinya. Ah apa ini masalah cinta? Atau sebuah perpisahan? Mmm? Dengarkan aku baik-baik, Jika kau kehilangan seseorang atau ia meninggalkanmu, kejar ia sekali lagi, mungkin ia akan sadar dan berbalik untuk melihatmu. Tapi, jika ia tetap meninggalkanmu, lepaskan ia. Kelak akan datang seseorang yang lebih memahami dirimu. Kau mengerti?’’ Selepas itu, Cuky kembali seperti diriya, periang, meski masih ada yang mengganjal perasaannya. Tapi paling tidak ia punya tujuan hidup, satu, berjuang sekali lagi untuk mendapatkan hati Dina. Ya, ia harus bisa.
Hari ini, Dina akan memulai latihannya. Ia turun dari mobil dari silvernya dan melangkah masuk menuju gedung pertunjukan. Dengan pasti ditemuinya seorang crew yang berdiri di depan panggung.
‘’Ini naskahnya. Aku harap kau bisa mempelajarinya dengan cepat.’’ Ucap crew wanita itu sambil memberikan sebuah naskah acara dan berlalu pergi.
Dari luar gedung, fans-fans dari Juno, anggota boyband T’Boyz berharap-harap cemas menunggu idolanya untuk latihan. Mereka memang tidak dobolehkan masuk, tapi melihat idolanya berjalan masuk gedung itu saja sudah cukup, sangat cukup mestinya.
‘’Apa dia tidak datang?’’ tanya seorang fans pada temannya yang lain. Cecile, salah satu J’yes, sebutan bagi fans Juno baru saja masuk kedalam kerumunan J’yes yang lain. Ia gadis yang sepertinya masih anak SMA, terlihat dari seragamnya. Rambutnya yang diikat kiri dan kanan dan giginya yang berbehel pink agak kekanak-kanakan.
‘’Itu dia.’’ Juno yang dikawal ketat oleh beberapa pengawal pribadi dengan santai terus berjalan. Sesekali, dilemparkannya senyumnya. Gayanya sangat cool, style rambutnya juga sangat keren, dengan celana jeans abu-abu ketat dan jaket bebulu coklat, dibukanya kacamatanya sambil memandang ke arah para J’yes. Cecile, dia hampir pingsan seketika.
‘’Udaranya sangat dingin disini.’’ Juno yang baru masuk langsung didatangi crew wanita yang juga menghampiri Dina tadi. Ia sudah mendapatkan naskahnya sekarang, dibukanya sambil terus berjalan, tiga pengawal pribadinya yang berotot dan crew wanita tadi terus mengikutinya.
‘’Apakah kau mau, kami menurunkan suhunya?’’ tanya crew tadi.
‘’Tidak, aku pakai jaket. Kau tidak lihat?’’
‘’Oh iya.’’ Angguknya.
Juno berhenti. Ia melihat ke arah Dina yang sedang membaca naskahnya di salah satu kursi penonton.
‘’Kalian tidak perlu mengikutiku terus. Aku akan memanggil kalian nanti.’’
Juno berjalan lagi, dihampirinya Dina dan langsung duduk disebelahnya.
‘’Merah.’’ Dina yang menyadari kedatangan Juno melihat ke sebelah kanannya. Ia tidak bersuara sedikit pun, tapi mimiknya seperti bertanya apa maksud perkataan Juno itu.
‘’Merah, aku tidak suka warana itu. Norak. Bajumu, apa kau tidak punya perancang busana lain yang lebih keren Nona?’’ledek Juno.
Dina melihat ke arah gaun yang dipakainya, warna merah.
‘’Kau Juno kan? Perkenalkan aku Dina, aku yang akan menggantikan Gina sebagai mc.’’ Dina berusaha untuk tidak memperdulikan perkataan Juno tadi. Diulurkannya tangannya.
Juno hanya melihat tangan itu, tak menjabatnya. Ia malah tertawa.
‘’Dina? Namamu Dina? Kau artis baru ya? ini baru pertama kali aku mendengar namamu.’’
‘’Iya, aku memang baru untuk soal ini. Tapi, namaku menjadi trending topic twitter pada debut filmku dua minggu yang lalu.’’
‘’Oh ya? aku baru tahu kalau prestasi sekecil itu saja bisa membuat artis baru sepertimu sangat senang. Tidakkah kau berpikir itu sangat lucu?’’ Dina sudah tidak bisa bicara lagi, ia lebih baik pergi. Ia pun berdiri, dan hendak beranjak pergi. Tapi, Juno menarik tangannya lalu memeluknya erat. Dina diam.
~Bersambung~
Komen yaw…

Love part 1

LOVE PART 1

Jam sudah berputar menuju angka 8. Cuky baru terbangun dari tidurnya. Kamarnya terletak di lantai dua restoran pizza kecil. Dari kamar itu hampir setiap pagi terdengar suara teriakan Cuky yang ketakutan dengan Tinkerbell, kucing putih berpita merah jambu yang tiba-tiba saja berada dikamarnya milik bosnya yang galak itu. Selera bosnya memang agak aneh.
‘’Ahhh!!!’’ teriak Cuky. Segera dibersihkannya seluruh badanya dari bulu-bulu kucing yang tersebar itu.
‘’Ihhh.’’ risihnya jijik. Sambil mengomel-ngomel tak jelas, diangkatnya wajahnya untuk melihat jam. Hasilnya, ia berteriak lagi.
‘’Terimakasih.’’ Bos yang merangkap menjadi kasir itu baru saja melayani seorang pembeli. Badanya gemuk dengan kepala yang kecil, agak kebesaran untuk topi koki yang dipakainya. Dia bukan koki, tapi koki adalah cita-citanya sejak kecil, mungkin itu yang membuatnya selalu memakai topi koki kemanapun ia pergi. Meski hasilnya terkadang tak sesuai harapan, wajar, karena kalau boleh jujur masakannya sama sekali tidak enak.
‘’Kemana anak itu ya? apa dia belum juga bangun?’’ heran Bos. Tak lama, Cuky berjalan tergapah-gopoh menuruni tangga. Bos melihat pelayan barunya itu dengan muka kesal.
‘’Lihatlah dia terlambat lagi.’’ Setelah menggerutu kecil, dilanjutkannya perkerjaannya.
Sementara itu seorang loper koran baru saja lewat di depan restoran pizza di kota Bandung itu. Ia melempar sebuah koran dan tepat mengarah mengenai kepala Cuky yang sedang berdiri diluar untuk menunggu Bus, ia seorang mahasiswa.
‘’Aisshh!’’ kesal Cuky. Dibacanya koran itu, ada sebuah rubrik disana, semacam berita selebriti. Dina sukses mencuri hati lewat film I Need a Girl, begitu tertulis disana. Sejenak Cuky tersenyum manis. Tubuhnya tidak berotot, matanya tertutupi kacamata lensa, tapi senyumnya yang mungkin membuat Dina jatuh cinta. Ya, benar Dina, aktris baru yang sedang naik daun itu. Ia jatuh cinta pada pelayan toko pizza seperti Cuky, padahal dilihat sepintas Cuky tidak terlalu tampan, cute mungkin iya. Saat ini Cuky teringat kembali janji mereka hari ini.
‘’Sebelum kuliah temui aku di perpustakaan kampus. Jangan terlambat, aku tidak bisa berlama disana.’’ Pinta Dina. Cuky menyanggupinya, malah ia menggangguk bersemangat saat itu.
Tanpa disadari Cuky, bus kampus sudah jauh melewati restoran pizza itu.
‘’Kemana busnya ya?’’ bos mendengar pertanyaan Cuky itu, lantas ia menjawabnya.
‘’Sudah lewat. Busnya sudah lewat barusan.’’
‘’Apa?’’ Cuky menepuk dahinya. ‘’Bodoh sekali aku ini!’’
Cuky kini sibuk berpikir, tidak mungkin menunggu bus biasa, bus kampus itu bus terakhir yang melewati restoran ini. Apa ia harus menunggu sampai jam satu siang, bus lain baru akan lewat. Semua itu membuatnya pusing. Diliriknya sepeda motor restoran pizza itu, sepeda motor dengan box tempat pizza dibagian belakannya.
‘’Aha!’’ Cuky tersenyum licik.
‘’Bos, aku pinjam motor ini ya!’’ izin Cuky. Bos yang mendengarnya, berniat melarangnya tapi gagal, pekerjanya itu jelas sudah jauh dari restoran pizza ini.
‘’Anak itu, lihat saja nanti.’’ Dengan segera, ditelponnya 666.
‘’Halo.’’
Cuky dengan hati yang begitu lega dan gembira, mengendarai sepeda motor merah itu, selama ia bekerja belum pernah ia diizinkan membawanya ke kampus, sudah dibilang, bosnya sangat galak. Tapi hari ini, ia bisa memakainya. Lebih dari itu, ia sangat senang karena akan bertemu Dina lagi. Tapi, helm merah itu mengganggunya.
‘’Aihh, helm ini. Sangat tidak nyaman. Apa ini helm bos, kecil sekali.’’ Setelah menggerutu, dipikirkannya lagi gadis itu.
‘’Dina, sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Ah gadis itu, bagaimana kabarnya ya? apa dia maih sesehat dulu, atau dia jauh lebih kurus. Kenapa dia harus bekerja sekeras itu ya, Dina…’’ Samar-samar didengarnya sirene polisi.
‘’Ah, kenapa berisik sekali. Apa ada penjahat di kota ini? Pasti mereka mengejar seorang pencuri.’’
‘’B1122, B1122, segera berhenti. B1122, diharap segera menepi. B1122, berhenti!’’ perintah polisi itu dengan microphone. Suaranya terdengar sangat jelas.
‘’B1122, mengganggu saja. Siapa dia itu, B1122. Ah, apa BI22???’’ Cuky berhenti tiba-tiba.
‘’Pak, Pak, aku tidak bersalah. Aku tidak berniat mencurinya. Aku hanya meminjam motor itu, tolong lepaskanlah aku. Pak…’’
‘’Diam!’’
Dibentak seperti itu Cuky diam juga. Sekarang ia berada dalam jeruji besi, meski belum memakai baju tahanan, masih bajunya yang tadi, kaus pink bersetelan jeans abu-abu.
‘’Bos ini, tega sekali dia.’’ Keluhnya.
Sementara itu Dina sedang menunggu di perpustakaan. Dengan dress merahnya, ia berpura-pura membaca buku seperti mahasiswa lainnya. Tapi, pikirannya tidak disana.
‘’Cuky, apa dia tidak akan datang?’’ dijatuhkannya wajahnya.
‘’Pak, jam berapa sekarang ini?’’ tanya Cuky khawatir pada Dina.
‘’Jam tiga.’’
‘’Jam berapa sekarang?’’ tanya Cuky beberapa saat setelah itu.
‘’Jam lima.’’
‘’Pak…’’
‘’Sekarang jam 9.’’
‘’Apa? Jam 9?’’ kaget Cuky.
Dina terbangun dari tidurnya, diangkatnya wajahnya dari atas buku.
‘’Apa ini sudah malam?’’ sepertinya ya. Sudah tidak ada lagi mahasiswa di perpustakaan, hanya ia seorang.
‘’Ya, aku yang menelelpon. Tidak, aku kesini untuk mencabut tuntutanku.’’ Beritahu bos yang baru datang.
Diluar kantor polisi, Cuky bersungut-sungut pada bosnya yang juga teman baik kedua orang tuanya yang sudah meninggal itu.
‘’Aihh, apa yang bos lakukan. Baru menjemputku semalam ini. Aku jadi tidak bisa kuliah kan? Tidak. Kuliah? Dina!’’ Cuky berlari segera, ia baru sadar, Dina pasti menunggunya tapi apa Dina masih disana. Ia harap begitu.
‘’Dina tunggulah aku.’’ Pintanya saat masih berada di taksi.
‘’Dina, bangun. Ini sudah malam.’’ Yuri menggoncang-goncangkan tubuh Dina untuk membangunkannya.
‘’Jam berapa ini?’’
‘’Sepuluh.’’ Dina melihat kesekeliling perpustakaan, Cuky belum juga datang.
Di dalam taksi…
‘’Pak bisa lebih cepat lagi. Aku sedang terburu-buru.’’
‘’Baik.’’
‘’Kenapa Pak?’’ tanya Cuky heran ketika taksi tiba-tiba berhenti.
‘’Maaf Tuan, jalannya macet.’’ Cuky menghela nafas panjangnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia keluar dari taksi dan segera berlari menyisip di antara banyaknya kendaraan yang terjebak macet. Tujuannya hanya satu, menemui Dina.
‘’Dina!’’ suara itu terdengar hingga ke telinga Dina. Gadis delapan belas tahun itu menoleh ke belakang ke arah sumber suara. Tidak ada siapapun disana, tidak ada yang memanggil namanya, tidak juga Cuky.
‘’Dina? Ada apa?’’heran Yuri.
‘’Ah, tidak.’’ Mereka kembali berjalan lagi, meninggalkan perpustakaan kampus itu. Berjalan masih dalam gelap.
‘’Dina! Dina! Dina!’’ panggil Cuky berkali-kali tapi tetap tak ada jawaban, dicarinya gadis itu di perpustakaan. Sangat sulit melihat disini, meskipun Cuky memakai kacamata, tapi ini sungguh gelap. Ia berjalan keluar perpustakaan dengan wajah murung. Didudukinya kursi di depan perpus itu, sambil menatap langit ia mulai bersuara.
‘’Gadis itu, dia pasti sudah lelah menungguku disini. Maaf…’’ Hening sejenak.
‘’Kenapa lama sekali?’’
Cuky menoleh, dibetulkannya kacamatanya. Tapi, ia yakin ia tak salah lihat. Itu benar Dina, kekasihnya. Ia berdiri, jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang saat Dina semakin mendekat. Dina jauh lebih cantik. Ditutupinya kegugupannya itu dengan sebuah suara permohonan maaf.
‘’Maaf.’’
‘’Aku sudah mendengarnya tadi.’’Dina mengatakan itu tanpa tersenyum, itu membuat Cuky sedikit aneh, tapi meski begitu, Cuky kembali pada dirinya, bodoh dan tak tahu apa-apa, kini berusaha berbicara santai dengan Dina, yang jauh berbeda.
‘’Mau jalan-jalan denganku. Atau kita makan pizza di restoran bagaimana? Kau mau kan?’’ Cuky menampakan senyum manisnya lagi, Dina hampir saja tersenyum membalasnya, tapi ia justru berkata sinis, suatu perkataan yang tak pernah sekalipun ia lontarkan pada Cuky dulu.
‘’Apa? Jalan-jalan dengan pelayan sepertimu. Kau, tadinya aku berpikir kau ini sangat baik dan selalu memenuhi janji, aku memilihmu diantara pria-pria yang mengejarku bahkan sebelum aku menjadi aktris seperti sekarang. Tapi, aku rasa kau sama saja. Pria sepertimu, aku tidak membutuhkannya.’’ Dina berlalu pergi. Sementara itu Cuky masih berdiri diam tak percaya. Matanya yang tertutupi lensa itu sama sekali tak berguna, kenapa harus melihat dengan jelas apa yang tidak seharusnya terlihat. Entahlah, tapi barangkali ia sedang menahan sakit hatinya.

~Bersambung~

PostGirl part 5

PostGirl

Part 5
Buona Lettura..! Kekeke gak ngerti ya? ini tuh salah satu bahasa Nias..eh enggak deh bohong. Ampun!! Ok, ok. Buona Lettura is Happy reading in Italian.

Tidak ada suara yang keluar dari Nick atau pun Manager Ja, bukan karena mereka sibuk menghabiskan makanan yang ada di atas piring mereka, tapi sepertinya ada pikiran yang masih mengganjal di hati mereka masing-masing.
‘’Apa…’’ mulai Nick. Manager segera menghentikan makanannya, ia melihat Nick.
‘’Ya?’’
‘’Ah tidak, itu tidak penting!’’ Nick belum sempat melanjutkan makanannya, Manager Ja kembali berbicara.
‘’Tidak ada yang terjadi. Nyonya bilang, ia tidak mempermasalahkan masalah kemarin. Jadi, lanjutkan makananmu, bersantailah hari ini.’’ Jelas Manager Ja. Nick hanya tersenyum dengan gengsi.
Kembali ke Ify, ia masih sibuk dengan surat tadi yang masih tergenggam erat di tangannya. Ia berjalan di sekitar kompleks perkantoran dan ia merasa aneh dengan tempat ini.
‘’Ah, sebenarnya dimana ini? Aku merasa aku hanya berputar-putar di tempat ini saja. PostDol? PostDol?’’ ulangnya terus sambil mencari-cari lokasi alamat yang tercantum dalam surat.
‘’Ah, benarkah? Ini PostDol?’’ riangnya. Cukup terkejut juga karena mendapati PostDol berada dibelakangnya, saat ia berbalik.
Ia segera masuk ke dalam gedung besar itu. Sepertinya PostDol adalah sebuah kantor yang berada dalam gedung besar itu. Ify tahu karena ia pernah sekali pergi ke sini bersama Ren, mantan pacarnya. Ify melangkah masuk dan sangat terkejut saat seorang gadis menabraknya dari belakang. Untung ia tak terjatuh, meski rasanya sedikit sakit. Ia masuk sambil menarik koper bajunya.
‘’Lantai 7..’’ gumamnya saat akan memasuki lift.
Didalam lift ia hanya bisa memandang lurus ke depan, jika melihat kiri-kanannya, ia akan malu sendiri karena semua yang di dalam lift melihatinya dan juga kopernya, untuk apa membawa koper sebesar ini ke kantor? Mungkin itu pikir mereka. Tak lama lift pun terbuka dan beberapa orang yang yang berada dalamnya termasuk Ify berhambur keluar dengan langkah cepat.
Ify berjalan sambil melihat plang nama kantor. Ia tersenyum begitu tahu kantor PostDol sudah ada di depannya, tapi…siapa dia? Ify menepuk bahu gadis yang berada di depannya, sepertinya itu gadis taddi yang menabraknya.
‘’Maaf.’’ Ucap Ify memberitahu keberadaannya. Ify bingung juga mengapa seorang gadis pagi-pagi seperti ini berdiri membungkuk di depan pintu. Diperhatikannya gadis yang sepertinya sedang mengintip lewat celah pintu yang terbuka itu. Rambutnya diikat dua, kiri dan kanan tidak seperti rambutnya yang ikal dan terurai begitu saja. Ia memakai rok agak pendek dan berkaos bertuliskan, ah, PostDol? Hem dia pasti seorang pegawai, tapi kenapa ia tak masuk saja? Ify menyapanya sekali lagi.
‘’Hai, maaf, apakah kau?’’
‘’Diam!’’ bentaknya tanpa melihat ke arah Ify sedikit saja, ia masih serius memperhatikan seseorang yang berada di dalam. Ify penasaran, ia akhirnya ikut mengintip ke dalam. Seorang laki-laki sedang memakai jasnya dan berjalan keluar. Apa? Ia akan membuka pintu ini?
‘’Gubrak!’’ Ify dan gadis yang belum dikenalnya itu terjatuh ke lantai.
‘’Ada apa?’’ tanya pria itu yang sekarang sudah berada di depan pintu, bingung melihat seorang pegawainya dan Ify terjatuh ke lantai.
‘’Selamat pagi Bos.’’ Gadis itu berdiri dan segera menunduk memberi hormat. Ia menatap Ify yang masih berada di lantai, diberikannya tangannya agar Ify berdiri lagi.
Ify memegang tangan gadis itu dan melihat ke arah kartu identitas yang tergantung dilehernya. Ada nama gadis itu disana, Minie ‘’Dan dia? Siapa dia?’’ tanya Bos sambil melihat ke arah Ify. Ify diam sejenak, jujur pria ini sangat tampan dan juga tua, tidak, lebih enak jika ia disebut dewasa . Ya, Bos si pria dewasa.
‘’Ini.’’ Ucap Ify sambil memberikan surat yang tergengam di tangannya. Bos melihat surat itu.
‘’Terimakasih. Tapi, apa kau ini gadis tukang pos?’’ tanyanya. Ify menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
‘’Ah, bukan. Tadi seorang tukang pos menjatuhkannya, aku tidak tahu harus mengembalikannya kemana, disana tidak tertulis nama pengirimnya, jadi aku rasa akan lebih mudah jika aku antarkan saja suratnya, lagi pula jaraknya dekat.’’ Ungkap Ify panjang lebar.
Bos hanya mengangguk dan berpikir sejenak.
‘’Pegawai Min, bisa antarkan gadis ini, ah ya siapa namamu?’’
‘’Ify.’’
‘’Ya, Ify, pegawai min tolong antarkan dia ke restoran di bawah, kau juga harus sarapan sebelum bekerja.’’ Bos itu, sepertinya ia orang yang baik.
Ify melihat kesebelahnya, Minie, gadis yang baru dikenalnya itu sedang meleleh, tidak bisa berkedip melihat ke arah Bosnya yang tersenyum. Aneh, tapi Ify merasa Minie menyukai Bosnya yang tua. Ahay…
‘’Jadi kau semalam tidur di halte bus?’’tanya Minie, sepertinya ia tidak yakin dengan apa yang barus saja didengarnya.
Ify mengangguk membenarkan.
‘’Ify…’’
‘’Ya?’’ sepertinya mereka sudah saling mengenal dan cukup akrab.
‘’Lalu apa kau ini masih kuliah?’’ tanya Minie, Ify menghentikan makannya.
Ify menggeleng terlebih dahulu, baru setelah itu ia mulai memberitahu.
‘’Aku berniat mencari kerja hari ini. Tapi ya, bahkan ijazah mahasiswaku saja tidak ada.’’ Ify berusaha tersenyum agar tak terlihat menyedihkan. Minie hanya diam, tapi ia terlihat sedang berpikir tentang sesuatu. Sepertinya Minie berniat membantu Ify.
‘’Tolonglah Bos. Dia sudah membantumu, kau berhutang budi padanya. Tolong berikan dia pekerjaan ya. Ya ya ya?’’ pinta Minie.
Bos Dan (baca:Den) tidak memperdulikan Minie yang terus saja memohon. Ia sibuk membaca berkas-berkas yang berada di atas mejanya.
Tak disengaja, Ify mendengar kejadian itu dari balik pintu. Ia tersenyum dan berjalan pergi.
Di luar gedung, ia melihat Ronald, aktor yang sering muncul akhir-akhir ini keluar dari mobilnya. Ia berjalan masuk ke dalam gedung. Ify tidak mengacukannya, ia masih berdiri diam di luar gedung. Tapi sepertinya tadi ia melihat wajah Ronald yang sangat marah, dan beberapa surat. Surat? Apa ini ada hubungannya dengan PostDol. Dengan cepat Ify mengingat kembali obrolan Minie denganya di restoran tadi.
‘’Iya, PostDol itu Post Idol, jadi Fans bisa mengirimkan surat untuk idolanya langsung ke rumahnya.’’
‘’Langsung ke rumahnya?’’
‘’Ya, terkadang kami masuk diam-diam, atau menitipkan surat itu pada manager atau orang terdekat. Tapi, meski begitu ada saja artis yang marah karena merasa surat itu membebaninya.’’
Kembali ke Ify sekarang ini.
‘’Surat?’’
Ify berbalik dan segera berlari menuju kantor PostDol. Ada ketakutan dalam pikirannya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Bagaimana jika aktor itu membuat keributan, atau menutup kantor ini? Bukankah selebriti bisa melakukan apa saja? Tidak, bagaimana dengan Minie yang baik itu nanti, dan Bos yang disukai teman barunya itu. Arghh…
‘’Tunggu!’’ Cegah Ify. Ia mengambil nafasnya yang hampir habis karena terlalu lelah berlari. Tapi kemudian ia berlari lagi, menghampiri Ronald dan mereka kini saling berhadapan, meski Ronald terlalu tinggi, sehingga membuat Ify harus memandang ke atas.
‘’Ada apa?’’ Ify melihat sekelilingnya. Ada Minie dan juga Bos yang melihat ke arahnya dengan wajah bingung yang diartikan Ify bahwa mereka kagum padanya.
‘’Jangan lakukan itu. Aku tahu kau ini aktor hebat dan punya banyak penggemar, tapi tidak kah kau berpikir perasaan penggemarmu jika mereka tahu idolanya tidak mau membalas suratnya bahkan untuk sekedar membacanya. Apalagi, datang marah-marah ke kantor. Jadi, kumohon jangan lakukan itu.’’ Jelas Ify panjang lebar.
‘’Hai, Nona apa kau sudah selesai bicara?’’ ucap Ronald sambil menahan tawa.
‘’He? Sudah.’’ Sinis Ify.
‘’Bagaimana ini, apa dia pegawai barumu Pak Pos?’’ Ronald menoleh ke arah Bos, begitu pula dengan Ify.
‘’Maafkan dia.’’ Pinta Bos, Ify memandanginya heran. Lalu, Ronald tersenyum pada Ify, itu membuat Ify sedikit grogi.
‘’Tidak apa-apa. Tapi, kau salah orang. Aku kesini untuk memberitahu bahwa aku sudah pindah ke apartemenku yang baru. Jadi, kalian harus mencatat alamatnya. Kau mengerti?’’
‘’Apa? Jadii, ah, maaf, maafkan aku.’’ Ify menunduk malu.
Ronald sudah pergi. Ify, Minie dan Bos berada di dalam ruangan kantor yang kecil. Ify berdiri sedangkan Minie masih berusaha meminta maaf pada Bosnya soal Ify tadi.
‘’Sebenarnya siapa kau ini?’’ tanya Bos pada Minie.
‘’Ya?’’ bingung Minie.
‘’Kenapa harus kau yang meminta maaf. Hei kau, siapa namamu?’’
‘’Ify.’’Ucap Minie. Bos menatap Minie sekali lagi dan Minie menunduk lalu beranjak keluar. Ify tanpa disuruh langsung duduk di kursi yang tadi ditempati Minie. Ia menunduk tanpa berani melihat ke arah Bos.
‘’Maafkan aku Bos.’’
‘’Bos? Apa kau sangat terobsesi bekerja disini sehingga kau memanggilku Bos?’’
‘’Ah, maaf, maafkan aku.’’
‘’Meminta maaf berarti mengakui kesalahan. Itu baik karena itu berarti kau orang yang jujur. Tapi, jangan terus melakukan kesalahan setelah bekerja ya.’’
‘’Apa? Apa maksudmu?’’ Ify menatap Bos Dan, mencari jawaban pada matanya.
‘’Mulai sekarang kau harus memanggilku Bos. Kau mengerti?’’ Masih dalam kebingungan Ify, Bos sengaja meninggalkannya sendiri di dalam ruangan. Tak berapa lama, Minie masuk dengan beribu pertanyaan.
‘’Bagaimana? Apa kau dimarahi? Ah, jangan terlalu dipikirkan, dia memang orang seperti itu. Lagi pula kau ini bukan siapa-siapanya kan, jangan bertemu dengannya lagi. Tapi kau harus bertemu denganku, kau mengerti?’’ nasehat Minie.
‘’Kenapa semua orang disini selalu bertanya ‘kau mengerti?’ ya, aku mengerti.’’
‘’Apa maksudmu?’’ Ify tidak memberitahu lebih dulu, ia sangat senang dan segera berdiri untuk memeluk Minie.
‘’Ify, ada apa?’’ tanya Minie tak mengerti.
Mantenere Commento! *Keep comment in Italian*

PostGirl part 4

PostGirl

Part 4
Okay, ketemu lagi deh. Gak kerasa udah part 4 nih, jangan bosen-bosen ya baca tulisanku ini, *seneng banget kalau bisa menghibur*. Please Reading…
Ia masih berjalan pulang ketika tempat kos yang berada di dalam gang itu terlihat. Tapi Ify tidak sesenang tadi saat ia berpikir ia harus tidur nyenyak hari ini. Ia…
‘’Bibi…’’ gumamnya pelan. Tanpa mengucap satu patah kata lagi, ia segera berlari menghampiri Bibi kos yang berada di depan kosnya.
‘’Bibi aku mohon jangan lakukan ini, aku mohon, aku akan segera membayarnya.’’ Pinta Ify.
‘’Apa? Membayarnya? Kau sudah tiga bulan tidak menyetor uang padaku, apa aku harus memberikanmu waktu lagi?’’ Bibi kos tidak menghiraukan omongan Ify tadi, ia langsung pergi meninggalakan gadis malang itu dengan sebuah koper baju yang tersisa.
Ify menangis, ia masih berdiri diam di depan kos lamanya ini dengan baju yang sudah basah terkena hujan. Entah kenapa hujan datang tiba-tiba, membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Tapi Ify tahu ia telah diusir dan ini bukan tempatnya lagi, ia harus segera pergi. Ify berjalan pergi, tak lama ia berhenti lagi, menengok lagi tempat kos kecil yang sudah ditinggalinya sejak dua tahun lalu, kemudian diyakinkannya dirinya lagi selepasnya ia pergi dengan tenang, berjalan pergi ditemani air hujan yang mengenang.
‘’Sebenarnya kita akan kemana?’’ tanya Nick pada Manager Ja yang duduk di sebelahnya.
‘’Bertemu seorang wanita.’’ Nick menoleh.
‘’Apa maksudmu?’’ Mobil pun melaju cepat tanpa diperintah.
Ify masih diam, sekarang ia berada di halte bus dekat cafe tempat Reza bekerja. Sangat dekat, saking dekatnya Ify bisa melihat café itu yang berdiri kokoh di depannya. Ify menggoyangkan kedua kakinya, beberapa kali ia sempat tersenyum seolah-olah tidak ada yang terjadi, seolah-olah semua berjalan seperti biasanya. Padahal, tidak.
‘’Grrr…Grrr..’’ Handphone Ify berbunyi. Melihat nomor yang masuk, ia tidak ingin mengangkatnya. Tidak mau karena itu Reza.
‘’Grrr…Grrr’’ Handphonenya berbunyi lagi, ini sudah kedua kalinya, tapi Ify ia belum ingin berbicara dengan Reza saat ini.
‘’Ada apa dengannya?’’ tanya Reza pada dirinya sendiri. Ia disebrang sana, di depan café yang sudah cukup ramai malam ini, berdiri mencoba menelepon Ify namun gagal karena gadis kecilnya itu sendiri yang tidak ingin mengangkat dan menjawab teleponnya meski ia mendengarnya dengan jelas.
‘’Aku akan coba sekali lagi.’’ Reza menekan beberapa tombol pada handphonenya, tak lama panggilan tersambung. Ify mendengarnya dari unjung sana.
‘’Grrr…Grrr’’
‘’Kumohon jangan menelponku terus, aku…’’ Ify tidak mau mengangkat telponnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, bukan juga ke arah Reza yang masih berdiri setia menunggu jawaban dari Ify. Seseorang yang sepertinya pelayan café lain menghampirinya.
‘’Hei, manager memanggilmu.’’ Beritahunya. Reza menatap handphonenya lagi, disaat yang bersamaan Ify melihat lagi ke arah handphone lamanya itu. Ada niat untuk menjawab panggilan masuk dari pria yang dipanggilnya kakak itu.
‘’Hei..’’ teriakkan pelayan tadi mengakhiri semuanya, Reza menutup teleponnya dan segera berjalan menuju ruangan manager.
‘’Hallo…’’ ucap Ify ragu. Tapi ia salah, Reza tidak menunggu sebentar lagi, panggilan itu telah berakhir.
‘’Di café itu.’’ Ucap Manager Ja memberitahu. Mobil pun mulai menepi menuju café mewah itu. Nick yang masih memegang handphonenya melihat ke arah halte bus, ia melihat Ify disana, meski begitu ia hanya bergumam kecil dalam mobil.
‘’Ada apa dengannya, menunggu bus semalam ini?’’
‘’Ya?’’ tanya manager Ja bingung mendengar suara anak didiknya barusan.
‘’Ah tidak, bukan apa-apa.’’
Ruangan itu sepi, hanya ada Reza si pelayan dan Manager café.
‘’Ini pergilah!’’ Manager café memberi sebuah amplop yang sepertinya berisi sejumlah uang. Reza menatap amplop itu.
‘’Apa…tuan memecatku?’’ tanya Reza ragu.
‘’Karena kau sudah tahu, tukar pakaianmu dan pergi.’’
‘’Tapi apa salahku?’’
‘’Aku tahu..kau ingin bertemu dengan Nyonya kan? Itu tujuanmu bekerja disini bukan?’’ selidik manager café.
‘’Sebenarnya apa maksud perkataan tuan?’’ Reza menatap manager tajam.
‘’Setelah kau bertemu dengannya..apa yang akan kau lakukan? Apa kau..’’
Reza berlutut memohon.
‘’Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu, aku mohon jangan memecatku. Tolonglah, aku hanya ingin melihatnya, tapi melihatnya dengan jelas. Bisakah?’’ tangisnya.
‘’Malam ini, ia akan datang.’’
Manager Ja dan Nick berjalan masuk ke arah café.
‘’Dimana dia?’’ tanya manager Ja pada seorang pelayan café yang menunggui mereka.
‘’Mari.’’ Pelayan itu memberi jalan, Manager Ja dan Nick mengikuti dari belakangnya.
‘’Permisi tuan.’’ Ucap pelayan itu meninggalkan mereka dengan seorang wanita 40 tahunan yang sudah menunggu mereka di meja pojok itu.
‘’Jadi ini aktor hebat itu? Siapa namamu? He?’’ mendengar pertanyaan itu, Nick segera melihat ke arah Manager Ja yang memberi anggukan.
‘’Nick, apa kau tak pernah mendengar nama itu? Tahu wajahku tapi tidak kenal, seperti gadis itu saja.’’ Kenalkan Nick yang berbuntut curhat tentang Ify.
‘’Ya?’’ ucap wanita itu agak bingung dengan sikap Nick.
‘’Maaf Nyonya, dia ini aktor baru.’’ Jelas manager Ja.
‘’Apa-apaan kau ini, walau aku ini aktor baru, bukankah aku lebih terkenal setidaknya mc tadi itu mengatakan aku sangat tampan berulang-ulang? Hei, apa kau menonton ‘CelebInLove’ tadi siang?’’
‘’Ah, aku tidak sempat.’’
‘’Pantas saja.’’ Sinis Nick.
‘’Maaf sekali lagi, ia masih harus banyak belajar. Maafkan aku.’’ Mohon Manager Ja lagi. Wanita itu tak menghiraukannya, ia hanya menatap Nick penuh senyum dan kegelian.
‘’Hei, untuk apa minta maaf padanya. Aku tidak mengenalnya, dan dia juga tidak mengenalku. Apa kau bilang tadi, banyak belajar, aku lebih tahu apa artinya belajar. Bertahun-tahun hidup sendirian tanpa Ayah dan juga Ibu. Mencari cara agar aku bisa mencuri makanan dari toko kecil, meski roti itu sangatlah murah. Apa kau pernah merasakan itu Nyonya?’’ tanya Nick lagi. Ia menceritakan semuanya tanpa kebohongan, tanpa ada rekayasa untuk mencari perhatian.
‘’Maaf aku harus ke belakang.’’ Wanita tadi mencoba menahan tangisnya lalu berjalan cepat menuju toilet, Reza menangkap gerak-geriknya, tersenyum sinis.
‘’Ada apa dengannya?’’ gumam Nick.
‘’Hei!’’ Manager Ja memukul kepala Nick.
‘’Ada apa denganmu? Apa aku ini salah? Aku salah ya?’’ heran Nick.
‘’Ya.Jelas kau salah. Kau yang tidak pernah menonton tv, dia itu Nyonya Rohali, apa kau belum pernah mendengarnya?’’
‘’Belum. Siapa dia?’’
‘’Dia pemilik café ini.’’
‘’Cuma pemilik café..’’ enteng Nick.
‘’Dan produser dramamu!’’
‘’Ya?’’ kaget Nick.
Wanita itu, Nyonya Rohali menangis di toilet. Ia menagis tersedu-sedu. Masih terbayang dipikirannya bagaimana cerita jujur dari seorang Nick. Tapi, kenapa ia harus menangis, menangis hanya karena mendengar cerita seperti itu, bahkan di pertemuan pertama mereka? Tidak sepertinya ini bukan yang pertama.
‘’Maaf.’’ Sebuah suara mengagetkan Nyonya dan itu membuatnya segera menutup keran air yang terbuak tadi.
‘’Nyonya, apa aku bisa masuk? Ini toilet pria.’’ Nyonya itu berbalik, ia mengalihkan pandangannya tanpa ingin melihat siapa yang datang, ia tak mungkin membiarkan wajah sedihnya ini terlihat. Itu akan membuatnya malu saja. Ia berlalu pergi, secepat itu sampai seseoranga yang datang yang ternyata Reza hanya bisa melihat kepanikannya saja, hanya itu.
‘’Dia…sepenting itukah menjadi wanita karir?’’ Reza menahan tangisnya, dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah, ia sangat membenci wanita itu, sepertinya ia mengenalnya dekat.
Wanita itu keluar, berjalan menuju meja tadi tanpa menoleh lagi kebelakang, tanpa melihat dan menyadari kalau ia sudah dibohongi, setidaknya Reza telah berbohong pada Nyonya jika ini toilet pria, meski ini toilet wanita.
Matahari mulai bergulir, sinarnya mulai menerangi bumi, menerpa wajah Ify yang tertidur di halte bus. Apa? Jadi, Ify sama sekali tidak menemui Reza, ia bahkan rela untuk tidur di halte bus hanya agar tidak bertemu Reza hari ini, kenapa? Entahlah, Ify akan memulai hidup mandiri, entah dengan cara apa.
‘’Siapa dia?’’
‘’Entahlah. Tapi ia tidak tidur disini semalaman kan?’’ bisik-bisik itu membuat Ify membuka matanya perlahan, mata yang semalam dipaksanya untuk tidak menangis. Ya, masalah sekecil ini tidak untuk ditangisi, Reza dia mungkin punya masalah yang lebih besar, sudah pasti!
Ify sudah membuka matanya sangat lebar, melihat bus yang pintunya teruka, lalu beberapa orang yang tadi berdiri disebelahnya masuk ke dalam bus itu, Ify hanya memperhatikannya, tidak ada niatan untuk masuk. Maka itu, dibenarkannya posisinya, posisi yang tadi sedikit tidak bebas itu, ia bisa duduk dengan tenang lagi.
‘’Sudah sepagi ini?’’ ucapnya saat Bus sudah tidak terlihat.
Diperhatikannya sekelilingnya, ia belum pernah menghirup udara Jakarta yang ternyata cukup bersih ini, meski sebentar lagi juga akan tercemar. Diperhatikannya orang-orang yang berjalan, mobil yang melaju, maupun sepeda yang dikayuh, yang melewati halte bus itu. Dilihatnya satu-satu, hem mereka berbeda mulai dari cara mereka melihatnya, ada yang memandangnya sinis, merendahkan, tidak melihat ke arahnya atau ini jarang sekali seseorang di atas sepeda yang dikayuhnya ia menyapa Ify, seorang laki-laki tua dengan baju kumalnya, pak Pos.
‘’Selamat pagi.’’ Ify bingung seketika. Apa ia harus menjawab sapaan orang asing yang belum dikenalnya, ya meski ia orang asing, apa ia juga orang jahat? Belum tentu!
‘’Ya, pagi.’’ Ify menatapnya hingga sepeda itu meluncur lancar tanpa kemacetan.
‘’Baru kali ini, eh, apa itu?’’ Ify terkejut melihat sebuah yang sepertinya surat berwarna putih berada di tengah jalan, tapi surat apa itu, tadi Ify tidak melihatnya.
‘’Tit Tit Tiiittt’’ bunyi klakson mobil.
‘’Maaf, maafkan aku.’’ Pinta Ify, ia salah juga menyebrang tidak hati-hati, untuk tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
‘’PostDol?’’ ucapnya bingung membaca nama yang tertulis di atas amplop, nama penerimanya.
‘’Apa harus? Tapi inikan bukan punyaku, bukan juga tugasku untuk mengantarkan surat ini.’’ Ify sudah akan membuangnya, ketika ia kembali teringat laki-laki tua di atas sepeda yang dikayuhnya, ia ingat kakek itu menjatuhkan suratnya.
‘’Kakek? Ah, pasti kakek itu yang menjatuhkannya. E..tapi bagaimana aku mengembalikannya. Tidak bukan dikembalikan, lebih baik jika aku antarkan saja. Apa tadi? PostDol? Ya, PostDol.’’ Pikir Ify sambil berjalan-jalan diatas trotoar.
Reza masih bekerja, ia sedang membersihkan meja café ketika manager datang dan menatapnya, entah karena rasa kasihan atau kesal. Itu tidak bisa ditebak.
‘’Huh.’’ Reza membuang nafasnya.
‘’Haruskah? Tidak bisakah? Apa tidak bisa dia berhenti memikirkan anaknya itu dan menganggapku saja sebagai anak yang hilang itu? Hah?’’ Kesalnya, ia kemudian mengangkat wajahnya melihat wajah yang sudah penuh dengan amarah di kaca toilet.
‘’Tidak. Aku bukan pengemis!’’ Manager, lagi-lagi dia melihatnya dari balik pintu.
Keep comment guys, I wait it…

PostGirl part 3

PostGirl

Part 3
In Previous part, kita udah baca kalau Ify yang ketabrak oleh Nick secara tiba-tiba dipaksa Nick untuk masuk ke dalam mobilnya, buat menghindari NiTime yang mengejarnya, so… Happy Reading Friends..kekeke

Nick yang melihatnya menjadi kesal sendiri. Ia segera memasukan kepala Ify yang tadi berhasil muncul keluar lalu mengunci kaca jendela mobil. Ify melihat ke arah Nick dengan tatapan pasrah dan berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi, apa benar pria tampan disebelahnya ini hendak menculikanya, tapi untuk apa? Tidak ada yang menguntungkan dari Ify!
‘’Untuk apa?’’ tanya Ify memulai, ia menatap Nick yang masih serius mengendarai mobil BMW hitamnya.
‘’Maksudmu?’’ Nick tidak menoleh sedikit pun pada gadis aneh disebelahnya ini.
‘’Untuk apa kau menculikku?” Nick yang mendengarnya langsung menepikan mobilnya, sepertinya NiTime sudah tidak mengikutinya lagi.
‘’Kau merasa aku menculikmu begitu?’’ sekarang Nick malah balik bertanya, itu membuat Ify bertambah bingung.
‘’Tunggu, aku beritahu padamu, aku ini tidak cantik, aku juga tidak kaya atau punya banyak uang, aku tidak punya keluarga dan aku hanya tinggal sendiri di kamar kos yang kecil yang aku sendiri tidak tahu kapan aku akan diusir. Jadi, tolong lepaskan aku. Aku mohon.’’ Nick tertawa, sangat keras sekali.
‘’Apa ini lucu?’’ tegur Ify.
‘’Lucu sekali, gadis cerewet!’’ Ia menatap Ify tajam, menahan tawanya.
‘’Hei, apa benar dia Nick?’’
‘’Bukan, mana mungkin Nick pergi ke klinik seperti ini? Dia pasti punya dokter pribadi!’’ Bisik-bisik seperti itu sudah terdengar sejak tadi, bisik-bisik kecil yang terdengar di klinik kecil masih di daerah Jakarta. Nick yang berdiri dengan coolnya di depan pintu ruang dokter , pas memakai kacamata dan jaket serta topi sebagai pelengkapnya, Nick masih dalam penyamarannya.
‘’Terimakasih dokter.’’ Pamit Ify, ia segera keluar dari ruang klinik itu dengan sebuah perban pada sikunya yang tadi berdarah. Nick melihat Ify yang berjalan melewati pintu tanpa melihat ke arahnya.
‘’Kau tidak kenapa-napa kan?’’ Nick masih di posisi yang sama, bertanya tapi tidak terlihat khawatir, sepertinya ia masih belum yakin dan masih berpikir apa Ify masih belum mengenalinya, padahal ia sangat populer, menurutnya.
‘’Ya, aku tidak apa-apa.’’ Ify mulai berjalan lagi, setelah langkahnya tadi terhenti.
‘’Tunggu! Apa kau tidak mengenaliku?’’ aneh, apa maksud pertanyaan bodoh ini?
Ify berbalik, ia melihat ke arah Nick.
‘’Memangnya, siapa kau?’’ Nick sedikit terkejut. Apa gadis ini tidak menonton drama dan iklan, atau ia memang tidak memiliki televisi?
Nick berjalan, ia menghampiri Ify. Dengan cepat, ia mendekatkan wajahnya, berbisik di telinganya sambil tersenyum.
‘’Siapa aktor paling populer saat ini?’’ Ify tidak memberikan respon apa-apa.
‘’Atau siapa pemeran Shinwa dalam drama Because I love you? He? Kau pasti tahu kan?’’
‘’Siapa memangnya?’’ Pertanyaan Ify tadi membuat Nick menarik kembali wajahnya. Ia memandangi gadis di hadapannya ini dari atas sampai bawah, sungguh gais biasa yang menurutnya tidak cantik.
‘’Sekarang, apa kau mengenalku?’’ tanya Nick sambil melepaskan kaca mata coklatnya, ia tersenyum puas.
‘’Nick! Nick! Benar dia Nick!’’ belum sempat Nick mendengar jawaban dari Ify, para NiTime sudah keburu mengenalinya, ia langsung berlari keluar, dan terjadi lagi kejar-kejaran di antara mereka.
Masih di dalam klinik, Ify bertanya pada dirinya sendiri.
‘’Siapa tadi? Nick? Siapa dia?’’ Ify benar-benar tidak up-date. Hufft!
‘’Huh, apa benar gadis itu tidak mengenalku? Dasar, gadis aneh!’’ umpat Nick di dalam mobilnya. Ia mendengar lagu lewat handpohennya, sebuah lagu dari seorang penyanyi wanita populer, Grace. Dari mimik wajahnya, bagaimana Nick mendengar lagu itu dengan sangat asik, ia sepertinya menyukai lagu itu, atau mungkin ia menyukai Grace.
Yeayy…
‘’Ada apa?’’ tanya Nick pada seseorang yang menelponnya di sebrang sana, sepertinya itu dari manager Ja.
‘’Cepat kembali!’’ perintahnya.
‘’Tidak, aku libur hari ini!’’ tegas Nick, ia mau mematikan handphonenya sebelum Manager Ja berteriak sangat keras.
‘’Lihat dibelakangmu!’’ Nick melihat dari kaca spionnya.
‘’Argghh!’’ kagetnya saat tahu ada banyak pengawal berjas di belakang mobilnya, mereka menunggu Nick keluar dari mobil.
‘’Hallo semua, hari ini ‘CelebInLove’ akan mengahadirkan bintang tamu special, Nick dari drama Because I Love You, yeayy, kalian pasti sudah tidak sabarkan bagaimana penampilannya hari ini? Jadi…’’ Zee, dari Girlband ‘99’ membawakan acara untuk program tv live di sebuah studio. Ia melihat ke arah kreativ yang berada di belakang kamera, mencari tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
‘’Lanjutkan!’’ bisik seorang kreativ wanita sanbil menggerakan tangannya sebagai isyarat.
‘’Ya, tapi kalian harus bersabar dulu, kita akan…’’ lanjut Zee, agaknya acara sedikit tertunda karena insiden kaburnya Nick tadi.
‘’Apa sudah bisa dimulai acaranya?’’ tanya kreativ tadi pada Nick yang masih bersiap di ruang make-up.
Nick menatapnya, kreativ itu tak bisa menyembunyikan perasaan kikuknya, ia tidak bisa berbohong, Nick sangat tampan jika dilihat dari dekat.
‘’Tidak bisakah kau menungguku sebentar lagi?’’
Acara dimulai, Nick memperkenalkan dirinya, meski ia sendiri merasa hal ini tidak perlu, apa ada seorang lagi seperti gadis itu, gadis yang tidak mengenalinya?
‘’Hai, Namaku Nick, apa kabar semua?’’ yah, meski Nick sangat malas, ia harus bersikap sopan, meski rasanya itu hanya di depan kamera.
‘’Oh ya, tidakkah kalian berpikir Nick sangat tampan?’’ Entah untuk keberapa kalinya Zee menanyakan hal itu pada pemirsa televisi, ia sudah sering mengulanginya sejak sepuluh menit lalu. Nick sebenarnya ingin berkata seperti ini ‘’Ya, aku tahu aku sangat tampan, jadi tolong jangan permalukan dirimu sendiri!’’ Tapi, bagaimanapun Nick adalah seorang intertainer, ia tidak akan mempermalukan Zee di acara televisi, meskipun ya Zee sudah mempermalukan dirinya sendiri. Jadi, Nick hanya tersenyum menanggapinya.
‘’Bagaimana? Aku terlihat tampan kan? Lihat gadis itu, buat malu saja!’’ ucap Nick saat sudah berada di dalam mobil bersama Manager Ja. Manager Ja yang melihatnya hanya bisa pura-pura tersenyum, tapi aktornya ini tidak bodoh, ia tahu itu.
‘’Kau harus persiapkan dirimu, nanti malam aku akan mengajakmu ke suatu tempat.’’ Beritahu Manager Ja mengakhiri obrolan singkat di antara mereka.
Sudah semalam ini tapi Ify masih belum sampai di tempat kosnya, ia tadi agak kebingungan dengan lokasi klinik kecil, jadi ya itu dia sedikit tersasar.
‘’Sudah semalam ini, ah aku lelah, aku harus segera tidur sampai di tempat kos.’’ Pikirnya.
Ia masih berjalan pulang ketika tempat kos yang berada di dalam gang itu terlihat. Tapi Ify tidak sesenang tadi saat ia berpikir ia harus tidur nyenyak hari ini. Ia…
‘’Bibi…’’ gumamnya pelan. Tanpa mengucap satu patah kata lagi, ia segera berlari menghampiri Bibi kos yang berada di depan kosnya.
‘’Bibi aku mohon jangan lakukan ini, aku mohon, aku akan segera membayarnya.’’ Pinta Ify.
Keep komen yaw!! Bagus gak bagus tetep komen *maksa*.