Skip to content

Love part 1

17 November 2011

LOVE PART 1

Jam sudah berputar menuju angka 8. Cuky baru terbangun dari tidurnya. Kamarnya terletak di lantai dua restoran pizza kecil. Dari kamar itu hampir setiap pagi terdengar suara teriakan Cuky yang ketakutan dengan Tinkerbell, kucing putih berpita merah jambu yang tiba-tiba saja berada dikamarnya milik bosnya yang galak itu. Selera bosnya memang agak aneh.
‘’Ahhh!!!’’ teriak Cuky. Segera dibersihkannya seluruh badanya dari bulu-bulu kucing yang tersebar itu.
‘’Ihhh.’’ risihnya jijik. Sambil mengomel-ngomel tak jelas, diangkatnya wajahnya untuk melihat jam. Hasilnya, ia berteriak lagi.
‘’Terimakasih.’’ Bos yang merangkap menjadi kasir itu baru saja melayani seorang pembeli. Badanya gemuk dengan kepala yang kecil, agak kebesaran untuk topi koki yang dipakainya. Dia bukan koki, tapi koki adalah cita-citanya sejak kecil, mungkin itu yang membuatnya selalu memakai topi koki kemanapun ia pergi. Meski hasilnya terkadang tak sesuai harapan, wajar, karena kalau boleh jujur masakannya sama sekali tidak enak.
‘’Kemana anak itu ya? apa dia belum juga bangun?’’ heran Bos. Tak lama, Cuky berjalan tergapah-gopoh menuruni tangga. Bos melihat pelayan barunya itu dengan muka kesal.
‘’Lihatlah dia terlambat lagi.’’ Setelah menggerutu kecil, dilanjutkannya perkerjaannya.
Sementara itu seorang loper koran baru saja lewat di depan restoran pizza di kota Bandung itu. Ia melempar sebuah koran dan tepat mengarah mengenai kepala Cuky yang sedang berdiri diluar untuk menunggu Bus, ia seorang mahasiswa.
‘’Aisshh!’’ kesal Cuky. Dibacanya koran itu, ada sebuah rubrik disana, semacam berita selebriti. Dina sukses mencuri hati lewat film I Need a Girl, begitu tertulis disana. Sejenak Cuky tersenyum manis. Tubuhnya tidak berotot, matanya tertutupi kacamata lensa, tapi senyumnya yang mungkin membuat Dina jatuh cinta. Ya, benar Dina, aktris baru yang sedang naik daun itu. Ia jatuh cinta pada pelayan toko pizza seperti Cuky, padahal dilihat sepintas Cuky tidak terlalu tampan, cute mungkin iya. Saat ini Cuky teringat kembali janji mereka hari ini.
‘’Sebelum kuliah temui aku di perpustakaan kampus. Jangan terlambat, aku tidak bisa berlama disana.’’ Pinta Dina. Cuky menyanggupinya, malah ia menggangguk bersemangat saat itu.
Tanpa disadari Cuky, bus kampus sudah jauh melewati restoran pizza itu.
‘’Kemana busnya ya?’’ bos mendengar pertanyaan Cuky itu, lantas ia menjawabnya.
‘’Sudah lewat. Busnya sudah lewat barusan.’’
‘’Apa?’’ Cuky menepuk dahinya. ‘’Bodoh sekali aku ini!’’
Cuky kini sibuk berpikir, tidak mungkin menunggu bus biasa, bus kampus itu bus terakhir yang melewati restoran ini. Apa ia harus menunggu sampai jam satu siang, bus lain baru akan lewat. Semua itu membuatnya pusing. Diliriknya sepeda motor restoran pizza itu, sepeda motor dengan box tempat pizza dibagian belakannya.
‘’Aha!’’ Cuky tersenyum licik.
‘’Bos, aku pinjam motor ini ya!’’ izin Cuky. Bos yang mendengarnya, berniat melarangnya tapi gagal, pekerjanya itu jelas sudah jauh dari restoran pizza ini.
‘’Anak itu, lihat saja nanti.’’ Dengan segera, ditelponnya 666.
‘’Halo.’’
Cuky dengan hati yang begitu lega dan gembira, mengendarai sepeda motor merah itu, selama ia bekerja belum pernah ia diizinkan membawanya ke kampus, sudah dibilang, bosnya sangat galak. Tapi hari ini, ia bisa memakainya. Lebih dari itu, ia sangat senang karena akan bertemu Dina lagi. Tapi, helm merah itu mengganggunya.
‘’Aihh, helm ini. Sangat tidak nyaman. Apa ini helm bos, kecil sekali.’’ Setelah menggerutu, dipikirkannya lagi gadis itu.
‘’Dina, sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Ah gadis itu, bagaimana kabarnya ya? apa dia maih sesehat dulu, atau dia jauh lebih kurus. Kenapa dia harus bekerja sekeras itu ya, Dina…’’ Samar-samar didengarnya sirene polisi.
‘’Ah, kenapa berisik sekali. Apa ada penjahat di kota ini? Pasti mereka mengejar seorang pencuri.’’
‘’B1122, B1122, segera berhenti. B1122, diharap segera menepi. B1122, berhenti!’’ perintah polisi itu dengan microphone. Suaranya terdengar sangat jelas.
‘’B1122, mengganggu saja. Siapa dia itu, B1122. Ah, apa BI22???’’ Cuky berhenti tiba-tiba.
‘’Pak, Pak, aku tidak bersalah. Aku tidak berniat mencurinya. Aku hanya meminjam motor itu, tolong lepaskanlah aku. Pak…’’
‘’Diam!’’
Dibentak seperti itu Cuky diam juga. Sekarang ia berada dalam jeruji besi, meski belum memakai baju tahanan, masih bajunya yang tadi, kaus pink bersetelan jeans abu-abu.
‘’Bos ini, tega sekali dia.’’ Keluhnya.
Sementara itu Dina sedang menunggu di perpustakaan. Dengan dress merahnya, ia berpura-pura membaca buku seperti mahasiswa lainnya. Tapi, pikirannya tidak disana.
‘’Cuky, apa dia tidak akan datang?’’ dijatuhkannya wajahnya.
‘’Pak, jam berapa sekarang ini?’’ tanya Cuky khawatir pada Dina.
‘’Jam tiga.’’
‘’Jam berapa sekarang?’’ tanya Cuky beberapa saat setelah itu.
‘’Jam lima.’’
‘’Pak…’’
‘’Sekarang jam 9.’’
‘’Apa? Jam 9?’’ kaget Cuky.
Dina terbangun dari tidurnya, diangkatnya wajahnya dari atas buku.
‘’Apa ini sudah malam?’’ sepertinya ya. Sudah tidak ada lagi mahasiswa di perpustakaan, hanya ia seorang.
‘’Ya, aku yang menelelpon. Tidak, aku kesini untuk mencabut tuntutanku.’’ Beritahu bos yang baru datang.
Diluar kantor polisi, Cuky bersungut-sungut pada bosnya yang juga teman baik kedua orang tuanya yang sudah meninggal itu.
‘’Aihh, apa yang bos lakukan. Baru menjemputku semalam ini. Aku jadi tidak bisa kuliah kan? Tidak. Kuliah? Dina!’’ Cuky berlari segera, ia baru sadar, Dina pasti menunggunya tapi apa Dina masih disana. Ia harap begitu.
‘’Dina tunggulah aku.’’ Pintanya saat masih berada di taksi.
‘’Dina, bangun. Ini sudah malam.’’ Yuri menggoncang-goncangkan tubuh Dina untuk membangunkannya.
‘’Jam berapa ini?’’
‘’Sepuluh.’’ Dina melihat kesekeliling perpustakaan, Cuky belum juga datang.
Di dalam taksi…
‘’Pak bisa lebih cepat lagi. Aku sedang terburu-buru.’’
‘’Baik.’’
‘’Kenapa Pak?’’ tanya Cuky heran ketika taksi tiba-tiba berhenti.
‘’Maaf Tuan, jalannya macet.’’ Cuky menghela nafas panjangnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia keluar dari taksi dan segera berlari menyisip di antara banyaknya kendaraan yang terjebak macet. Tujuannya hanya satu, menemui Dina.
‘’Dina!’’ suara itu terdengar hingga ke telinga Dina. Gadis delapan belas tahun itu menoleh ke belakang ke arah sumber suara. Tidak ada siapapun disana, tidak ada yang memanggil namanya, tidak juga Cuky.
‘’Dina? Ada apa?’’heran Yuri.
‘’Ah, tidak.’’ Mereka kembali berjalan lagi, meninggalkan perpustakaan kampus itu. Berjalan masih dalam gelap.
‘’Dina! Dina! Dina!’’ panggil Cuky berkali-kali tapi tetap tak ada jawaban, dicarinya gadis itu di perpustakaan. Sangat sulit melihat disini, meskipun Cuky memakai kacamata, tapi ini sungguh gelap. Ia berjalan keluar perpustakaan dengan wajah murung. Didudukinya kursi di depan perpus itu, sambil menatap langit ia mulai bersuara.
‘’Gadis itu, dia pasti sudah lelah menungguku disini. Maaf…’’ Hening sejenak.
‘’Kenapa lama sekali?’’
Cuky menoleh, dibetulkannya kacamatanya. Tapi, ia yakin ia tak salah lihat. Itu benar Dina, kekasihnya. Ia berdiri, jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang saat Dina semakin mendekat. Dina jauh lebih cantik. Ditutupinya kegugupannya itu dengan sebuah suara permohonan maaf.
‘’Maaf.’’
‘’Aku sudah mendengarnya tadi.’’Dina mengatakan itu tanpa tersenyum, itu membuat Cuky sedikit aneh, tapi meski begitu, Cuky kembali pada dirinya, bodoh dan tak tahu apa-apa, kini berusaha berbicara santai dengan Dina, yang jauh berbeda.
‘’Mau jalan-jalan denganku. Atau kita makan pizza di restoran bagaimana? Kau mau kan?’’ Cuky menampakan senyum manisnya lagi, Dina hampir saja tersenyum membalasnya, tapi ia justru berkata sinis, suatu perkataan yang tak pernah sekalipun ia lontarkan pada Cuky dulu.
‘’Apa? Jalan-jalan dengan pelayan sepertimu. Kau, tadinya aku berpikir kau ini sangat baik dan selalu memenuhi janji, aku memilihmu diantara pria-pria yang mengejarku bahkan sebelum aku menjadi aktris seperti sekarang. Tapi, aku rasa kau sama saja. Pria sepertimu, aku tidak membutuhkannya.’’ Dina berlalu pergi. Sementara itu Cuky masih berdiri diam tak percaya. Matanya yang tertutupi lensa itu sama sekali tak berguna, kenapa harus melihat dengan jelas apa yang tidak seharusnya terlihat. Entahlah, tapi barangkali ia sedang menahan sakit hatinya.

~Bersambung~

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: