Skip to content

LOVE PART 3

17 November 2011

LOVE PART 3

Perasaan Dina kini bercampur aduk, belum jelas apa maksud Juno memeluknya seperti ini. Juno, dia tidak melakukan ini sebagai salam perkenalan kan? Entahlah, Dina masih bisu. Sama sekali tak terpikirkan untuk meminta Juno melepaskannya.
‘’Bersikaplah profesional.’’ Bisik Juno dalam. Lalu perlahan dilepaskannya pelukan itu, berlalu pergi meninggalkan gadis berambut panjang yang gemetaran dalam ruangan.
Di suatu tempat, sepertinya sebuah café. Juno sedang mabuk-mabukan, sesekali ia tersenyum pada teman yang datang menyapanya. Seorang dari perempuan yang duduk di lengan kursi tempat duduknya, mencium pipinya. Juno tersenyum lagi.
‘’Dia bukan wanita seperti yang kubayangkan.’’ Ucapnya pelan.
Dina melepaskan sepatunya dan langsung terbaring di tempat tidurnya, dari wajahnya terlihat ia sangat kelelahan. Diingatnya lagi, kejadian itu. Saat Juno memeluknya. Dina, ia masih bingung pada apa yang terjadi. Apa Juno sengaja mempermainkannya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Beberapa saat setelah itu handphone Dina berbunyi. Dirabanya tempat tidur itu, lalu memulai pembicaraan dengan Yuri.
‘’Maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang, kau sudah sampai di rumah kan?’’
‘’Ya.’’ jawab Dina sekenanya.
‘’Hari ini aku ada rapat tentang drama tahun depan, mungkin aku akan pulang pagi, apa tidak masalah?’’
‘’Bukankah selalu begitu? Aku harap kau tak mengambil keputusan itu seorang diri, aku tidak terlalu suka berakting dalam drama, kau tahu kan?”
‘’Ya? ah, aku mengerti.’’ Permbiacaraan mereka tertutup, Dina melanjutkan tidurnya tapi malah membuka matanya lagi.
‘’Baik bos.’’ Cuky memberikan hormatnya yang seperti polisi pada bos dengan senyum yang mengembang.
‘’Kau sudah normal kembali sepertinya, cepat sekali.’’ Respon bos cepat. Ya, Cuky sudah kembali seperti biasanya, selalu ceria dan jauh dari kata putus asa, apapun itu ia akan mencoba mendapatkannya. Tidak peduli betapa suasahnya mengambil hati Dina lagi. Ia harus berhasil.
‘’Pelayan!’’ panggil seorang pengunjung yang baru datang, Cuky menghampirinya dengan bergairah.
‘’Sepertinya hanya aku yang merindukannya.’’ Pikir Dina dari dalam taksi, ditutupnya jendela taksi yang tadi terbuka sedikit.
‘’Jalan.’’ Perintahnya.
Dina membuka laptopnya sesaat setelah ia sampai di apartemen. Ini sudah malam, tapi sepertinya kantuk yang sempat menderanya tadi sudah hilang. Hal pertama yang dia ingat, twitter. Dina tersenyum sesekali membaca mention dari penggemarnya.
‘’Kak Dina banjir mention ya? yah, tolong balas mentionku yang ini saja. Right?’’ Tulis fans ber-user name @dededei ‘’Kakak, mengapa kau begitu cantik?” tulis yang lain.
‘’Jangan bekerja terlalu keras ya. Jaga kesehatanmu baik-baik.’’ Tulis @cukycuky. Dina berhenti membaca. Ia tahu, itu pasti mention dari Cuky.
Cuky sedang duduk-duduk di tangga restoran pizza yang sudah tutup sejam lalu. Ia terus mengamati handphonenya, menunggu balasan dari Dina. Tapi, Dina tak membalasnya. Sempat terpikir kalau gadis itu memang sudah benar-benar melupakannya. Tapi, demi rasa cintanya, ia tidak akan pernah menyalahkan Dina.
‘’Pasti dia tidak sempat membacanya.’’ Begitu katanya.
Dina masih berada di depan laptopnya, ia mulai mengetik. Cuky, iya aku tidak akan bekerja terlalu keras, aku disini baik-baik saja. Sayang, dia menghapusnya lagi.
‘’Sungguh, aku minta maaf.’’ Ditutupnya laptopnya malam itu. Bulan semakin tinggi, namun kemudian menghilang tegantikan matahari yang sinarnya membangunkan Dina lewat jendela kaca yang Yuri sengaja buka.
‘’Ini sudah pagi. Kita akan mempersiapkan penampilanmu nanti malam.’’ Dina memaksa dirinya untuk terbangun, dilihatnya Yuri yang sudah berpakaian rapi.
‘’Hari ini…’’ gumam Dina.
‘’Arghh!’’ Cuky menjerit lagi, sudah jelas ia alergi bulu kucing tapi kenapa Tinkerbell, si kucing milik bosnya itu sangat menyukainya? Cuky membersihkan bajunya dari bulu kucing yang berserakan, setelah Tinker, sapaan manis kucing itu lari terbirit-birit melihat Cuky yang marah saking takutnya.
‘’Cuky!’’ panggil bos dari bawah. Panggilan bosnya itu tak dihiraukannya, ia harus mandi sebelum bekerja. Tentu.
Dina bersama dengan Yuri melangkah masuk ke dalam salah satu rumah mode yang paling terkenal di negerinya. Banyak selebriti disini yang mendapatkan busana dari desain rumah mode d’unique. Tapi, bukankah hanya selebriti papan atas yang kesini. Dina menatap Yuri sekali lagi, gadis yang sepantaran dengannya itu hanya menganguk mengiyakan. Dina masuk seorang diri sementara Yuri sudah mengatakan pada aktrisnya jika ia harus bertemu seseorang. Dina melangkah penuh percaya diri, meskipun ada rasa takut jika ia bertemu selebriti lain disini, apa tidak apa-apa? Benar saja.
‘’Kau kesini juga rupanya?’’ Dina menoleh, keningnya berkerut, kenapa ia harus betemu pria itu disini. Juno yang sedang duduk di kursi di pojok ruangan besar itu menghampri Dina. Ia berbisik di telinga gadis itu lagi.
‘’Jangan pakai gaun merah lagi, kau mengerti?’’ Lagi-lagi merah, apa maksudnya semua ini.
‘’Nona, mari coba gaunnya.’’ Panggil seorang dari asisten desainer. Dina melangkah menghampirinya.
‘’Bagaimana jika ini?’’ tawar asisten desainer tadi pada Dina yang kini sudah berada di dalam sebuah ruang ganti. Dina menggeleng.
‘’Ini bagus untuk acara formal.’’ Jelas asisten desainer lainnya.
‘’Aku ingin gaun warna merah.’’
Sementara itu dari luar, desainer sekaligus pemilik rumah mode ini sedang berbincang-bincang hangat dengan Juno yang berdiri saling berhadapan.
‘’Ya, aku sangat menyukai jas ini.’’ Ungkap Juno.
‘’Benarkah? Kami sangat senang mendengarnya, bagaimana jika, waw, dia cantik sekali..’’
‘’Siapa?’’ Juno memalingkan wajahnya, dan tirai ruang ganti mulai terbuka. Semakin jelas terlihat. Dina, dia nampak anggun dengan gaun merah menyala yang dikenakannya. Berdiri manis, menghadap Juno dan desainer tadi. Juno sama sekali tidak tersenyum, ia justru terlihat marah. Tanpa pikir panjang, dihampirinya Dina dan ditariknya tangannya. Dibawanya ke ruangan lain yang tak terlihat.
‘’Cepat ganti!’’ Dina tidak menjawabnya.
‘’Aku bilang cepat ganti.’’
‘’Ada apa denganmu? Bukankah ini cocok dengan jas yang akan kau kenakan?’’ belanya.
‘’Apa? Kau ingin mempermainkanku kan?’’ Dina mulai diam lagi. Ditatapnya lekat-lekat wajah Juno, pria dingin itu.
‘’Aku mohon, jangan pakai gaun ini lagi.’’ Pintanya, ada nada memelas dari ucapanya.
Dina sudah berada di apartemennya lagi, ia akan berangkat sebentar lagi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Merah, warna itu.
‘’Bisakah kita mengganti gaun ini?’’ tanyanya pada Yuri.
Cuky ada kesempatan keluar malam ini, setelah semua pekerjaannya selesai.
‘’Aku akan kemana ya?’’ ia bingung juga. Biasanya ia akan bertanya pada Dina saat mereka jalan berdua, kemana mereka akan pergi. Tapi sekarang, tidak ada yang bisa ditanyainya. Ia terus berjalan dan menendang-nendang botol mineral yang ditemuinya. Membuatnya hampir saja terpelset. Aroma bakaran sate tercium dari sebelahnya, diikutinya sampai aroma itu tercium sangat jelas. Ia berhenti di sebuah restoran sate tanpa nama.
‘’Harum sekali, tapi sepertinya aku baru tahu ada restoran yang menjual sate disekitar sini?’’ gumamnya.
Cecile, salah satu J’yes yang hampir pingsan ketika bisa melihat Juno, idolanya secara langsung itu, berlari terburu-buru menuju restoran sate dan langsung duduk di meja tempat Cuky duduk.
‘’Siap-siap..’’ Cuky baru saja akan mengambil satu tusuk sate yang sudah diincarnya sejak tadi, tapi…
‘’Mmm, enak sekali.’’ Cuky terbengong-bengong melihat Cecile yang tanpa asal-usul yang jelas memakan sate incarannya begitu saja.
‘’Hei kau!’’ bentaknya.
~Bersambung~

I wait your comment

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: