Skip to content

Masih Temen Kan?

17 November 2011

MASIH TEMEN KAN?

Aku berjalan di dalam kesendirian, aku mencoba tak mengingatmu. Sepenggal lirik lagu dari band Kerispatih ini rasanya sedikit banyak cocok untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Perasaan bimbang dan penuh dilema, yang akhirnya memunculkan dua pertanyaan klise dalam benakku, aku yang salah atau dia? Entahlah, sudah satu minggu aku tak menemui jawabannya. Sejak 14 April lalu.
Saat itu di sekolah…
‘’Lin….’’ teriaknya. Chi, begitu ia biasa disapa langsung masuk ke dalam kelas dengan raut wajah memerah saking gembiranya.
‘’Sabar Chi, sabar…emangnya ada apa sih?’’ tanyaku penasaran. Chi tidak langsung menjawabnya, ia mengambil nafas panjang lebih dulu.
‘’Aku…’’
‘’He?’’
‘’Aku…’’
‘’Iya, kamu kenapa?’’ aku menjadi tidak sabar juga.
‘’Aku menang lomba menulis!’’ teriaknya. Ia berjingkrak-jingkrak kegirangan. Aku hanya bisa tersenyum, lebih tepatnya memaksakan senyumku agar mengembang. Jujur, kabar itu membuatku terkejut.
Sepanjang pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Sepanjang itu juga, aku beberapa kali melihat ke arah Chi yang duduk agak dibelakang, hari ini ia nampak bersemangat sekali sepertinya.
‘’Uhhh, ada apa denganku?’’ tanganku tanpa diperintah spontan memukul-mukul kepalaku. Membuatnya sadar. Tapi aku benar-benar merasa iri padanya, ya sebenarnya itu dari dulu. Aku dan Chi sudah berteman sejak SD, sejak itu pula banyak yang membandingkanku dengannya. Ya kuakui, aku kalah segalanya darinya. Aku kalah tinggi, populer, dan juga kalah pintar. Bukan hanya itu, aku bahkan harus merelakan orang yang kucintai untuknya. Dan sekarang, apa aku harus kalah lagi darinya. Dari dulu kami sering bertukar cerpen buatan sendiri, jauh sebelum ia berani ikut dalam lomba menulis, aku sudah menerima beberapa penghargaan. Tapi, kenapa dia, Chi yang baru pertama kali mengikuti lomba harus merebut juara dariku. Ini sungguh tak adil!
‘’Lin, besok kan ulang tahun Chi, kamu mau kasih apa ke dia?’’ Mega bertanya padaku suatu saat. Aku lupa, besok memang ulang tahun Chi. Kupandangi Mega yang masih menunggu jawaban dariku.
‘’Kenapa?’’ mungkin Mega risih juga kupandangi terus menerus.
‘’Tidak. E..kamu besok datang kan Meg?’’
‘’Pasti dong. Siapa sih yang gak mau datang ke ulang tahun Chi yang mewah itu.’’ Ucapnya sambil berlalu pergi ke tempat duduknya karena bel masuk sudah berbunyi.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Bukan, jangan salah paham dulu. Aku tidak bisa tidur bukan karena bingung harus memberi kado apa untuk Chi, tapi lebih dari itu. Aku mulai menghitung kancing baju bonekaku.
‘’Datang, tidak, datang, tidak, datang, ti…dak. Benar gak usah datang!’’ ini jawabanku.
Pagi ini, aku sedikit terlambat.
‘’Udah ya Mah, Lindan pergi dulu ya. Dah…’’ dengan terburu-buru aku pamit dan segera menuju angkutan umum yang sudah menunggu di depan rumah. Hanya angkot bukan mobil seperti Chi. Lagi-lagi aku iri.
‘’Maaf Bu. Saya telat.’’ Tidak kusangkan Guru Matematika kami yang biasanya sering telat justru datang lebih cepat dariku. Aduhh…
‘’Kenapa mesti telat sih? Ah, bodohnya aku!’’ Kukutuki diriku sendiri di tengah lapangan ini. Percaya atau tidak ini baru pertama kalinya aku terlambat, dan pertama kalinya aku dihukum gara-gara itu. Argghhh!
‘’Apa? Bersihin lapangan basket seluas ini? Aku tidak sanggup Bu. Ampun! Ampun!’’ keluhku tidak pada siapa-siapa. Sambil terus menyapu lapangan, aku menyanyi-nyanyi sendiri, menghilangkan sebal. Sebuah lagu asal-asalan, yang kubuat spontan, tanpa nada yang pas.
‘’Aku terlambat, sekarang dihukum. Kenapa harus terlambat. Aku malu, kamu tahu? Aku malu. Malu sekali. Kamu tahu?..’’
‘’Aku tahu kok. Jadi aku akan membantumu disini. Mau dibantu kan? Kalau tidak mau, aku akan tetap membantumu.’’ Kudengar suara sumbang yang mengalun juga dengan nada yang acak-acakan. Lagu spontan dari Chi. Apa? Chi?
‘’Kenapa?’’ tanyaku tanpa berniat untuk menatap wajahnya.
‘’Seharusnya aku yang tanya kenapa? Kamu kok gak dateng sih ke ulang tahunku semalem?’’ Aku diam.
‘’Itu gak penting!’’ ketusku.
‘’Lin, kamu kenapa? Kamu marah ya sama aku?’’ dengan wajah polosnya Chi menatapku heran.
‘’Pergi!’’ usirku.
‘’Gak. Cepet kasih tau kamu kenapa? Aku salah apa?’’
‘’Kamu gak perlu tahu. Itu cuma masalah gadis bodoh sepertiku. Sekarang mending kamu pergi!’’
‘’Gak.. aku mohon. Kasih tahu aku, aku itu kan temen kamu, masa kamu gak cer..’’
‘’Temen. Ya, temen yang hebat. Kamu punya segalanya, sedang aku tidak. Aku bodoh, kamu pintar. Aku naik angkot. Kamu naik mobil. Tidak itu bukan masalah. Tapi Edo, aku menyukainya Chi, tapi dia justru menyukaimu.’’
‘’Kami tidak pacaran Lin.’’
‘’Iya, itu prinsipmu. Kamu tidak akan pacaran di SMP. Tapi nanti, apa aku gak tahu. Kamu juga suka sama dia kan?’’ Bentakku.
‘’Lin..’’
‘’Sekarang, kamu yang anak baru malah menang lomba menulis.’’
‘’Aku mohon Lin, jangan kaya gitu. Kamu itu cuma…’’ aku memutus kata-katanya lagi.
‘’Ya, aku emang iri. Bukan cuma, tapi bener-bener iri. Kenapa harus kamu, harus selalu kamu Chi, kenapa?’’
Aku pun menangis, sekarang Chi sudah tahu semua isi hatiku saat ini.
Seminggu itu…aku tidak berbicara apapun dengan Chi, sedikit pun. Kami bahkan tidak saling menyapa. Teman-teman merasa aneh pada sikap kami, tapi mereka tidak berani menanyakan hal itu. Baik padaku, atau Chi.
Sore ini, aku ada pengembangan diri. Senang rasanya, karena aku akan bertemu Edo, dan juga Chi. Ah, aku harap aku tidak bertemu dengannya lagi.
‘’Hai..Hai..’’ sapaku ceria pada semua teman-teman yang hadir. Aku tidak melihat Chi diantara mereka, itu membuatku senang bukan main.
‘’Hai Meg…’’ sapaku pada Mega.
‘’Lin, dicariin Edo tuh!’’
‘’Edo?’’
Dengan semangat berlebihan aku pun segera masuk ke dalam kelas, menghampiri Edo yang berdiri menungguku.
‘’Kenapa? Kamu nyariin aku kan Do?’’ Edo mengangguk.
‘’Chi, Chi, bertahanlah. Aku mohon, bertahanlah. Jangan seperti ini, tunggu aku. Jangan pergi. Aku mohon, tunggu aku.’’ Kukerahkan seluruh tenangaku untuk berlari, berlari secepat mugkin. Berlari menembus dinginnya angin laut, berlari menembus semua keirian dan rasa benci yang tiba-tiba hilang saat mendengar kabar dari Edo.
‘’Ini tentang Chi…’’
‘’Oh kalau Chi, aku gak mau denger!’’
‘’Chi sakit. Dia menderita kanker otak sejak setahun lalu. Dia ada dirumah sakit sekarang. Meski dia melarang aku buat ngasih tahu soal ini ke kamu. Aku pikir aku harus memberitahumu soal ini, Chi, dia tak ada harapan lagi. Dia menunggumu!’’
Kulangkahkan kakiku semakin cepat, makin dekat. Chi, aku mohon tunggu aku.
‘’Chi…’’ tubuhku hampir tumbang melihat Chi yang terbaring lemah di kasur rumah sakit, serba putih. Kuhampiri dirinya yang tak menyadari kedatanganku, ia masih menutup mata, dengan tubuh dipasangi infus dan tabung oksigen.
‘’Chi…’’ aku menangis, membasahi telapak tangannya yang kugenggam.
‘’Lindan…’’ samar-samar kudengar suara seseorang. Aku tak memeperdulikannya, aku tetap menagis, tak mau melepaskan genggaman tanganku.
‘’Lindan…’’ ulangnya lagi. Aku yakin, ada yang berbisik memanggi namaku. Aku tak percaya. Jari-jari itu bergerak lemah, kuangakat wajahku yang sudah basah dengan air mata.
‘’Kamu nangis ya? Kamu kenapa Lin, jangan nangis gitu ah, kamu kan udah besar.’’
Dia. Apa dia ini memang hebat, menyembunyikan penderitaannya selama ini? Bahkan mencoba tersenyum padaku, aku tahu kamu hebat Chi. Tapi, jangan tersenyum. karena kamu akan terlihat bodoh.
‘’Maaf…maafin aku Chi. Aku iri sama kamu. Maafin aku Chi.’’
‘’Iri? Kamu kenapa iri sama aku. Kamu hebat kok, kalau soal lomba menulis itu, aku baru punya satu penghargaan, sedangkan kamu, kamu sudah sering juara. Jadi buat apa iri sama orang sepertiku? He?’’
Aku pun mengangguk.
‘’Jadi?’’
‘’Jadi kita masih temenan kan?’’ tanyaku. Kini giliran Chi yang mengangguk, memberi jawaban yang meyakinkan.
Satu tahun sudah berlalu, sejak saat itu tak ada rasa benci yang menderaku. Tidak, masih ada sedikit rupanya.
Saat itu di sekolah…
‘’Chi!’’ panggilku padanya. Seorang gadis tinggi semampai, dengan rambut pendek yang berbando persis seperti Chi yang kukenal dulu, datang menghampiriku.
‘’Kenapa?’’
‘’Kamu ini Chi atau bukan sih?’’ Aku masih ragu, sejak setahun lalu.
Chi yang kupanggil tadi tertawa terbahak-bahak.
‘’Kamu masih gak percaya? Oke, mau lihat…’’ dia mau menunjukkan tanda lahir di pahanya, dengan sigap kucegah ia.
‘’Jangan! Aku percaya! Tapi kenapa kalian begitu mirip?’’ Chi kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
‘’Ya, itu karena kami kembar Nona Lindan!’’ ungkapnya. Sebenarnya, sudah berkali-kali ia menjelaskan kenyataan itu. Tapi, jujur aku baru kali ini berurusan dengan anak kembar.
‘’Kenapa? Kamu iri ya? Ah, kamu iri karena Chi memiliki saudara kembar bernama Chinta sepertiku? He?’’
‘’Tidak! Aku tak mau memiliki saudar kembar aneh sepertimu.’’ Ketusku. Sambil terus menaikkan daguku lebih tinggi aku berjalan didepannya. Tak lama, dia menyusul, menaruh tangannya di bahuku.
‘’Oh ya, jangan panggil aku Chi. Panggil aku Chinta, kamu ngerti? Ingat!’’
‘’Hushh!’’ kali ini ia berjalan di depan, aku sok sibuk membersihkan bahuku yang disentuh olehnya. Dalam hati aku berbicara sendiri.
‘’Chi, saudara kembarmu itu sangat lucu!’’

Tamat

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: