Skip to content

PostGirl part 4

17 November 2011

PostGirl

Part 4
Okay, ketemu lagi deh. Gak kerasa udah part 4 nih, jangan bosen-bosen ya baca tulisanku ini, *seneng banget kalau bisa menghibur*. Please Reading…
Ia masih berjalan pulang ketika tempat kos yang berada di dalam gang itu terlihat. Tapi Ify tidak sesenang tadi saat ia berpikir ia harus tidur nyenyak hari ini. Ia…
‘’Bibi…’’ gumamnya pelan. Tanpa mengucap satu patah kata lagi, ia segera berlari menghampiri Bibi kos yang berada di depan kosnya.
‘’Bibi aku mohon jangan lakukan ini, aku mohon, aku akan segera membayarnya.’’ Pinta Ify.
‘’Apa? Membayarnya? Kau sudah tiga bulan tidak menyetor uang padaku, apa aku harus memberikanmu waktu lagi?’’ Bibi kos tidak menghiraukan omongan Ify tadi, ia langsung pergi meninggalakan gadis malang itu dengan sebuah koper baju yang tersisa.
Ify menangis, ia masih berdiri diam di depan kos lamanya ini dengan baju yang sudah basah terkena hujan. Entah kenapa hujan datang tiba-tiba, membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Tapi Ify tahu ia telah diusir dan ini bukan tempatnya lagi, ia harus segera pergi. Ify berjalan pergi, tak lama ia berhenti lagi, menengok lagi tempat kos kecil yang sudah ditinggalinya sejak dua tahun lalu, kemudian diyakinkannya dirinya lagi selepasnya ia pergi dengan tenang, berjalan pergi ditemani air hujan yang mengenang.
‘’Sebenarnya kita akan kemana?’’ tanya Nick pada Manager Ja yang duduk di sebelahnya.
‘’Bertemu seorang wanita.’’ Nick menoleh.
‘’Apa maksudmu?’’ Mobil pun melaju cepat tanpa diperintah.
Ify masih diam, sekarang ia berada di halte bus dekat cafe tempat Reza bekerja. Sangat dekat, saking dekatnya Ify bisa melihat café itu yang berdiri kokoh di depannya. Ify menggoyangkan kedua kakinya, beberapa kali ia sempat tersenyum seolah-olah tidak ada yang terjadi, seolah-olah semua berjalan seperti biasanya. Padahal, tidak.
‘’Grrr…Grrr..’’ Handphone Ify berbunyi. Melihat nomor yang masuk, ia tidak ingin mengangkatnya. Tidak mau karena itu Reza.
‘’Grrr…Grrr’’ Handphonenya berbunyi lagi, ini sudah kedua kalinya, tapi Ify ia belum ingin berbicara dengan Reza saat ini.
‘’Ada apa dengannya?’’ tanya Reza pada dirinya sendiri. Ia disebrang sana, di depan café yang sudah cukup ramai malam ini, berdiri mencoba menelepon Ify namun gagal karena gadis kecilnya itu sendiri yang tidak ingin mengangkat dan menjawab teleponnya meski ia mendengarnya dengan jelas.
‘’Aku akan coba sekali lagi.’’ Reza menekan beberapa tombol pada handphonenya, tak lama panggilan tersambung. Ify mendengarnya dari unjung sana.
‘’Grrr…Grrr’’
‘’Kumohon jangan menelponku terus, aku…’’ Ify tidak mau mengangkat telponnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, bukan juga ke arah Reza yang masih berdiri setia menunggu jawaban dari Ify. Seseorang yang sepertinya pelayan café lain menghampirinya.
‘’Hei, manager memanggilmu.’’ Beritahunya. Reza menatap handphonenya lagi, disaat yang bersamaan Ify melihat lagi ke arah handphone lamanya itu. Ada niat untuk menjawab panggilan masuk dari pria yang dipanggilnya kakak itu.
‘’Hei..’’ teriakkan pelayan tadi mengakhiri semuanya, Reza menutup teleponnya dan segera berjalan menuju ruangan manager.
‘’Hallo…’’ ucap Ify ragu. Tapi ia salah, Reza tidak menunggu sebentar lagi, panggilan itu telah berakhir.
‘’Di café itu.’’ Ucap Manager Ja memberitahu. Mobil pun mulai menepi menuju café mewah itu. Nick yang masih memegang handphonenya melihat ke arah halte bus, ia melihat Ify disana, meski begitu ia hanya bergumam kecil dalam mobil.
‘’Ada apa dengannya, menunggu bus semalam ini?’’
‘’Ya?’’ tanya manager Ja bingung mendengar suara anak didiknya barusan.
‘’Ah tidak, bukan apa-apa.’’
Ruangan itu sepi, hanya ada Reza si pelayan dan Manager café.
‘’Ini pergilah!’’ Manager café memberi sebuah amplop yang sepertinya berisi sejumlah uang. Reza menatap amplop itu.
‘’Apa…tuan memecatku?’’ tanya Reza ragu.
‘’Karena kau sudah tahu, tukar pakaianmu dan pergi.’’
‘’Tapi apa salahku?’’
‘’Aku tahu..kau ingin bertemu dengan Nyonya kan? Itu tujuanmu bekerja disini bukan?’’ selidik manager café.
‘’Sebenarnya apa maksud perkataan tuan?’’ Reza menatap manager tajam.
‘’Setelah kau bertemu dengannya..apa yang akan kau lakukan? Apa kau..’’
Reza berlutut memohon.
‘’Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu, aku mohon jangan memecatku. Tolonglah, aku hanya ingin melihatnya, tapi melihatnya dengan jelas. Bisakah?’’ tangisnya.
‘’Malam ini, ia akan datang.’’
Manager Ja dan Nick berjalan masuk ke arah café.
‘’Dimana dia?’’ tanya manager Ja pada seorang pelayan café yang menunggui mereka.
‘’Mari.’’ Pelayan itu memberi jalan, Manager Ja dan Nick mengikuti dari belakangnya.
‘’Permisi tuan.’’ Ucap pelayan itu meninggalkan mereka dengan seorang wanita 40 tahunan yang sudah menunggu mereka di meja pojok itu.
‘’Jadi ini aktor hebat itu? Siapa namamu? He?’’ mendengar pertanyaan itu, Nick segera melihat ke arah Manager Ja yang memberi anggukan.
‘’Nick, apa kau tak pernah mendengar nama itu? Tahu wajahku tapi tidak kenal, seperti gadis itu saja.’’ Kenalkan Nick yang berbuntut curhat tentang Ify.
‘’Ya?’’ ucap wanita itu agak bingung dengan sikap Nick.
‘’Maaf Nyonya, dia ini aktor baru.’’ Jelas manager Ja.
‘’Apa-apaan kau ini, walau aku ini aktor baru, bukankah aku lebih terkenal setidaknya mc tadi itu mengatakan aku sangat tampan berulang-ulang? Hei, apa kau menonton ‘CelebInLove’ tadi siang?’’
‘’Ah, aku tidak sempat.’’
‘’Pantas saja.’’ Sinis Nick.
‘’Maaf sekali lagi, ia masih harus banyak belajar. Maafkan aku.’’ Mohon Manager Ja lagi. Wanita itu tak menghiraukannya, ia hanya menatap Nick penuh senyum dan kegelian.
‘’Hei, untuk apa minta maaf padanya. Aku tidak mengenalnya, dan dia juga tidak mengenalku. Apa kau bilang tadi, banyak belajar, aku lebih tahu apa artinya belajar. Bertahun-tahun hidup sendirian tanpa Ayah dan juga Ibu. Mencari cara agar aku bisa mencuri makanan dari toko kecil, meski roti itu sangatlah murah. Apa kau pernah merasakan itu Nyonya?’’ tanya Nick lagi. Ia menceritakan semuanya tanpa kebohongan, tanpa ada rekayasa untuk mencari perhatian.
‘’Maaf aku harus ke belakang.’’ Wanita tadi mencoba menahan tangisnya lalu berjalan cepat menuju toilet, Reza menangkap gerak-geriknya, tersenyum sinis.
‘’Ada apa dengannya?’’ gumam Nick.
‘’Hei!’’ Manager Ja memukul kepala Nick.
‘’Ada apa denganmu? Apa aku ini salah? Aku salah ya?’’ heran Nick.
‘’Ya.Jelas kau salah. Kau yang tidak pernah menonton tv, dia itu Nyonya Rohali, apa kau belum pernah mendengarnya?’’
‘’Belum. Siapa dia?’’
‘’Dia pemilik café ini.’’
‘’Cuma pemilik café..’’ enteng Nick.
‘’Dan produser dramamu!’’
‘’Ya?’’ kaget Nick.
Wanita itu, Nyonya Rohali menangis di toilet. Ia menagis tersedu-sedu. Masih terbayang dipikirannya bagaimana cerita jujur dari seorang Nick. Tapi, kenapa ia harus menangis, menangis hanya karena mendengar cerita seperti itu, bahkan di pertemuan pertama mereka? Tidak sepertinya ini bukan yang pertama.
‘’Maaf.’’ Sebuah suara mengagetkan Nyonya dan itu membuatnya segera menutup keran air yang terbuak tadi.
‘’Nyonya, apa aku bisa masuk? Ini toilet pria.’’ Nyonya itu berbalik, ia mengalihkan pandangannya tanpa ingin melihat siapa yang datang, ia tak mungkin membiarkan wajah sedihnya ini terlihat. Itu akan membuatnya malu saja. Ia berlalu pergi, secepat itu sampai seseoranga yang datang yang ternyata Reza hanya bisa melihat kepanikannya saja, hanya itu.
‘’Dia…sepenting itukah menjadi wanita karir?’’ Reza menahan tangisnya, dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah, ia sangat membenci wanita itu, sepertinya ia mengenalnya dekat.
Wanita itu keluar, berjalan menuju meja tadi tanpa menoleh lagi kebelakang, tanpa melihat dan menyadari kalau ia sudah dibohongi, setidaknya Reza telah berbohong pada Nyonya jika ini toilet pria, meski ini toilet wanita.
Matahari mulai bergulir, sinarnya mulai menerangi bumi, menerpa wajah Ify yang tertidur di halte bus. Apa? Jadi, Ify sama sekali tidak menemui Reza, ia bahkan rela untuk tidur di halte bus hanya agar tidak bertemu Reza hari ini, kenapa? Entahlah, Ify akan memulai hidup mandiri, entah dengan cara apa.
‘’Siapa dia?’’
‘’Entahlah. Tapi ia tidak tidur disini semalaman kan?’’ bisik-bisik itu membuat Ify membuka matanya perlahan, mata yang semalam dipaksanya untuk tidak menangis. Ya, masalah sekecil ini tidak untuk ditangisi, Reza dia mungkin punya masalah yang lebih besar, sudah pasti!
Ify sudah membuka matanya sangat lebar, melihat bus yang pintunya teruka, lalu beberapa orang yang tadi berdiri disebelahnya masuk ke dalam bus itu, Ify hanya memperhatikannya, tidak ada niatan untuk masuk. Maka itu, dibenarkannya posisinya, posisi yang tadi sedikit tidak bebas itu, ia bisa duduk dengan tenang lagi.
‘’Sudah sepagi ini?’’ ucapnya saat Bus sudah tidak terlihat.
Diperhatikannya sekelilingnya, ia belum pernah menghirup udara Jakarta yang ternyata cukup bersih ini, meski sebentar lagi juga akan tercemar. Diperhatikannya orang-orang yang berjalan, mobil yang melaju, maupun sepeda yang dikayuh, yang melewati halte bus itu. Dilihatnya satu-satu, hem mereka berbeda mulai dari cara mereka melihatnya, ada yang memandangnya sinis, merendahkan, tidak melihat ke arahnya atau ini jarang sekali seseorang di atas sepeda yang dikayuhnya ia menyapa Ify, seorang laki-laki tua dengan baju kumalnya, pak Pos.
‘’Selamat pagi.’’ Ify bingung seketika. Apa ia harus menjawab sapaan orang asing yang belum dikenalnya, ya meski ia orang asing, apa ia juga orang jahat? Belum tentu!
‘’Ya, pagi.’’ Ify menatapnya hingga sepeda itu meluncur lancar tanpa kemacetan.
‘’Baru kali ini, eh, apa itu?’’ Ify terkejut melihat sebuah yang sepertinya surat berwarna putih berada di tengah jalan, tapi surat apa itu, tadi Ify tidak melihatnya.
‘’Tit Tit Tiiittt’’ bunyi klakson mobil.
‘’Maaf, maafkan aku.’’ Pinta Ify, ia salah juga menyebrang tidak hati-hati, untuk tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
‘’PostDol?’’ ucapnya bingung membaca nama yang tertulis di atas amplop, nama penerimanya.
‘’Apa harus? Tapi inikan bukan punyaku, bukan juga tugasku untuk mengantarkan surat ini.’’ Ify sudah akan membuangnya, ketika ia kembali teringat laki-laki tua di atas sepeda yang dikayuhnya, ia ingat kakek itu menjatuhkan suratnya.
‘’Kakek? Ah, pasti kakek itu yang menjatuhkannya. E..tapi bagaimana aku mengembalikannya. Tidak bukan dikembalikan, lebih baik jika aku antarkan saja. Apa tadi? PostDol? Ya, PostDol.’’ Pikir Ify sambil berjalan-jalan diatas trotoar.
Reza masih bekerja, ia sedang membersihkan meja café ketika manager datang dan menatapnya, entah karena rasa kasihan atau kesal. Itu tidak bisa ditebak.
‘’Huh.’’ Reza membuang nafasnya.
‘’Haruskah? Tidak bisakah? Apa tidak bisa dia berhenti memikirkan anaknya itu dan menganggapku saja sebagai anak yang hilang itu? Hah?’’ Kesalnya, ia kemudian mengangkat wajahnya melihat wajah yang sudah penuh dengan amarah di kaca toilet.
‘’Tidak. Aku bukan pengemis!’’ Manager, lagi-lagi dia melihatnya dari balik pintu.
Keep comment guys, I wait it…

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: