Skip to content

PostGirl part 5

17 November 2011

PostGirl

Part 5
Buona Lettura..! Kekeke gak ngerti ya? ini tuh salah satu bahasa Nias..eh enggak deh bohong. Ampun!! Ok, ok. Buona Lettura is Happy reading in Italian.

Tidak ada suara yang keluar dari Nick atau pun Manager Ja, bukan karena mereka sibuk menghabiskan makanan yang ada di atas piring mereka, tapi sepertinya ada pikiran yang masih mengganjal di hati mereka masing-masing.
‘’Apa…’’ mulai Nick. Manager segera menghentikan makanannya, ia melihat Nick.
‘’Ya?’’
‘’Ah tidak, itu tidak penting!’’ Nick belum sempat melanjutkan makanannya, Manager Ja kembali berbicara.
‘’Tidak ada yang terjadi. Nyonya bilang, ia tidak mempermasalahkan masalah kemarin. Jadi, lanjutkan makananmu, bersantailah hari ini.’’ Jelas Manager Ja. Nick hanya tersenyum dengan gengsi.
Kembali ke Ify, ia masih sibuk dengan surat tadi yang masih tergenggam erat di tangannya. Ia berjalan di sekitar kompleks perkantoran dan ia merasa aneh dengan tempat ini.
‘’Ah, sebenarnya dimana ini? Aku merasa aku hanya berputar-putar di tempat ini saja. PostDol? PostDol?’’ ulangnya terus sambil mencari-cari lokasi alamat yang tercantum dalam surat.
‘’Ah, benarkah? Ini PostDol?’’ riangnya. Cukup terkejut juga karena mendapati PostDol berada dibelakangnya, saat ia berbalik.
Ia segera masuk ke dalam gedung besar itu. Sepertinya PostDol adalah sebuah kantor yang berada dalam gedung besar itu. Ify tahu karena ia pernah sekali pergi ke sini bersama Ren, mantan pacarnya. Ify melangkah masuk dan sangat terkejut saat seorang gadis menabraknya dari belakang. Untung ia tak terjatuh, meski rasanya sedikit sakit. Ia masuk sambil menarik koper bajunya.
‘’Lantai 7..’’ gumamnya saat akan memasuki lift.
Didalam lift ia hanya bisa memandang lurus ke depan, jika melihat kiri-kanannya, ia akan malu sendiri karena semua yang di dalam lift melihatinya dan juga kopernya, untuk apa membawa koper sebesar ini ke kantor? Mungkin itu pikir mereka. Tak lama lift pun terbuka dan beberapa orang yang yang berada dalamnya termasuk Ify berhambur keluar dengan langkah cepat.
Ify berjalan sambil melihat plang nama kantor. Ia tersenyum begitu tahu kantor PostDol sudah ada di depannya, tapi…siapa dia? Ify menepuk bahu gadis yang berada di depannya, sepertinya itu gadis taddi yang menabraknya.
‘’Maaf.’’ Ucap Ify memberitahu keberadaannya. Ify bingung juga mengapa seorang gadis pagi-pagi seperti ini berdiri membungkuk di depan pintu. Diperhatikannya gadis yang sepertinya sedang mengintip lewat celah pintu yang terbuka itu. Rambutnya diikat dua, kiri dan kanan tidak seperti rambutnya yang ikal dan terurai begitu saja. Ia memakai rok agak pendek dan berkaos bertuliskan, ah, PostDol? Hem dia pasti seorang pegawai, tapi kenapa ia tak masuk saja? Ify menyapanya sekali lagi.
‘’Hai, maaf, apakah kau?’’
‘’Diam!’’ bentaknya tanpa melihat ke arah Ify sedikit saja, ia masih serius memperhatikan seseorang yang berada di dalam. Ify penasaran, ia akhirnya ikut mengintip ke dalam. Seorang laki-laki sedang memakai jasnya dan berjalan keluar. Apa? Ia akan membuka pintu ini?
‘’Gubrak!’’ Ify dan gadis yang belum dikenalnya itu terjatuh ke lantai.
‘’Ada apa?’’ tanya pria itu yang sekarang sudah berada di depan pintu, bingung melihat seorang pegawainya dan Ify terjatuh ke lantai.
‘’Selamat pagi Bos.’’ Gadis itu berdiri dan segera menunduk memberi hormat. Ia menatap Ify yang masih berada di lantai, diberikannya tangannya agar Ify berdiri lagi.
Ify memegang tangan gadis itu dan melihat ke arah kartu identitas yang tergantung dilehernya. Ada nama gadis itu disana, Minie ‘’Dan dia? Siapa dia?’’ tanya Bos sambil melihat ke arah Ify. Ify diam sejenak, jujur pria ini sangat tampan dan juga tua, tidak, lebih enak jika ia disebut dewasa . Ya, Bos si pria dewasa.
‘’Ini.’’ Ucap Ify sambil memberikan surat yang tergengam di tangannya. Bos melihat surat itu.
‘’Terimakasih. Tapi, apa kau ini gadis tukang pos?’’ tanyanya. Ify menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
‘’Ah, bukan. Tadi seorang tukang pos menjatuhkannya, aku tidak tahu harus mengembalikannya kemana, disana tidak tertulis nama pengirimnya, jadi aku rasa akan lebih mudah jika aku antarkan saja suratnya, lagi pula jaraknya dekat.’’ Ungkap Ify panjang lebar.
Bos hanya mengangguk dan berpikir sejenak.
‘’Pegawai Min, bisa antarkan gadis ini, ah ya siapa namamu?’’
‘’Ify.’’
‘’Ya, Ify, pegawai min tolong antarkan dia ke restoran di bawah, kau juga harus sarapan sebelum bekerja.’’ Bos itu, sepertinya ia orang yang baik.
Ify melihat kesebelahnya, Minie, gadis yang baru dikenalnya itu sedang meleleh, tidak bisa berkedip melihat ke arah Bosnya yang tersenyum. Aneh, tapi Ify merasa Minie menyukai Bosnya yang tua. Ahay…
‘’Jadi kau semalam tidur di halte bus?’’tanya Minie, sepertinya ia tidak yakin dengan apa yang barus saja didengarnya.
Ify mengangguk membenarkan.
‘’Ify…’’
‘’Ya?’’ sepertinya mereka sudah saling mengenal dan cukup akrab.
‘’Lalu apa kau ini masih kuliah?’’ tanya Minie, Ify menghentikan makannya.
Ify menggeleng terlebih dahulu, baru setelah itu ia mulai memberitahu.
‘’Aku berniat mencari kerja hari ini. Tapi ya, bahkan ijazah mahasiswaku saja tidak ada.’’ Ify berusaha tersenyum agar tak terlihat menyedihkan. Minie hanya diam, tapi ia terlihat sedang berpikir tentang sesuatu. Sepertinya Minie berniat membantu Ify.
‘’Tolonglah Bos. Dia sudah membantumu, kau berhutang budi padanya. Tolong berikan dia pekerjaan ya. Ya ya ya?’’ pinta Minie.
Bos Dan (baca:Den) tidak memperdulikan Minie yang terus saja memohon. Ia sibuk membaca berkas-berkas yang berada di atas mejanya.
Tak disengaja, Ify mendengar kejadian itu dari balik pintu. Ia tersenyum dan berjalan pergi.
Di luar gedung, ia melihat Ronald, aktor yang sering muncul akhir-akhir ini keluar dari mobilnya. Ia berjalan masuk ke dalam gedung. Ify tidak mengacukannya, ia masih berdiri diam di luar gedung. Tapi sepertinya tadi ia melihat wajah Ronald yang sangat marah, dan beberapa surat. Surat? Apa ini ada hubungannya dengan PostDol. Dengan cepat Ify mengingat kembali obrolan Minie denganya di restoran tadi.
‘’Iya, PostDol itu Post Idol, jadi Fans bisa mengirimkan surat untuk idolanya langsung ke rumahnya.’’
‘’Langsung ke rumahnya?’’
‘’Ya, terkadang kami masuk diam-diam, atau menitipkan surat itu pada manager atau orang terdekat. Tapi, meski begitu ada saja artis yang marah karena merasa surat itu membebaninya.’’
Kembali ke Ify sekarang ini.
‘’Surat?’’
Ify berbalik dan segera berlari menuju kantor PostDol. Ada ketakutan dalam pikirannya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Bagaimana jika aktor itu membuat keributan, atau menutup kantor ini? Bukankah selebriti bisa melakukan apa saja? Tidak, bagaimana dengan Minie yang baik itu nanti, dan Bos yang disukai teman barunya itu. Arghh…
‘’Tunggu!’’ Cegah Ify. Ia mengambil nafasnya yang hampir habis karena terlalu lelah berlari. Tapi kemudian ia berlari lagi, menghampiri Ronald dan mereka kini saling berhadapan, meski Ronald terlalu tinggi, sehingga membuat Ify harus memandang ke atas.
‘’Ada apa?’’ Ify melihat sekelilingnya. Ada Minie dan juga Bos yang melihat ke arahnya dengan wajah bingung yang diartikan Ify bahwa mereka kagum padanya.
‘’Jangan lakukan itu. Aku tahu kau ini aktor hebat dan punya banyak penggemar, tapi tidak kah kau berpikir perasaan penggemarmu jika mereka tahu idolanya tidak mau membalas suratnya bahkan untuk sekedar membacanya. Apalagi, datang marah-marah ke kantor. Jadi, kumohon jangan lakukan itu.’’ Jelas Ify panjang lebar.
‘’Hai, Nona apa kau sudah selesai bicara?’’ ucap Ronald sambil menahan tawa.
‘’He? Sudah.’’ Sinis Ify.
‘’Bagaimana ini, apa dia pegawai barumu Pak Pos?’’ Ronald menoleh ke arah Bos, begitu pula dengan Ify.
‘’Maafkan dia.’’ Pinta Bos, Ify memandanginya heran. Lalu, Ronald tersenyum pada Ify, itu membuat Ify sedikit grogi.
‘’Tidak apa-apa. Tapi, kau salah orang. Aku kesini untuk memberitahu bahwa aku sudah pindah ke apartemenku yang baru. Jadi, kalian harus mencatat alamatnya. Kau mengerti?’’
‘’Apa? Jadii, ah, maaf, maafkan aku.’’ Ify menunduk malu.
Ronald sudah pergi. Ify, Minie dan Bos berada di dalam ruangan kantor yang kecil. Ify berdiri sedangkan Minie masih berusaha meminta maaf pada Bosnya soal Ify tadi.
‘’Sebenarnya siapa kau ini?’’ tanya Bos pada Minie.
‘’Ya?’’ bingung Minie.
‘’Kenapa harus kau yang meminta maaf. Hei kau, siapa namamu?’’
‘’Ify.’’Ucap Minie. Bos menatap Minie sekali lagi dan Minie menunduk lalu beranjak keluar. Ify tanpa disuruh langsung duduk di kursi yang tadi ditempati Minie. Ia menunduk tanpa berani melihat ke arah Bos.
‘’Maafkan aku Bos.’’
‘’Bos? Apa kau sangat terobsesi bekerja disini sehingga kau memanggilku Bos?’’
‘’Ah, maaf, maafkan aku.’’
‘’Meminta maaf berarti mengakui kesalahan. Itu baik karena itu berarti kau orang yang jujur. Tapi, jangan terus melakukan kesalahan setelah bekerja ya.’’
‘’Apa? Apa maksudmu?’’ Ify menatap Bos Dan, mencari jawaban pada matanya.
‘’Mulai sekarang kau harus memanggilku Bos. Kau mengerti?’’ Masih dalam kebingungan Ify, Bos sengaja meninggalkannya sendiri di dalam ruangan. Tak berapa lama, Minie masuk dengan beribu pertanyaan.
‘’Bagaimana? Apa kau dimarahi? Ah, jangan terlalu dipikirkan, dia memang orang seperti itu. Lagi pula kau ini bukan siapa-siapanya kan, jangan bertemu dengannya lagi. Tapi kau harus bertemu denganku, kau mengerti?’’ nasehat Minie.
‘’Kenapa semua orang disini selalu bertanya ‘kau mengerti?’ ya, aku mengerti.’’
‘’Apa maksudmu?’’ Ify tidak memberitahu lebih dulu, ia sangat senang dan segera berdiri untuk memeluk Minie.
‘’Ify, ada apa?’’ tanya Minie tak mengerti.
Mantenere Commento! *Keep comment in Italian*

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: