Skip to content

PostGirl

17 November 2011

PostGirl

Part 1
Hi…hi hmm, hmm, welcome to my stupid blog. Grrr…*tapi orang yang baca blog ini gak pada stupid kok, rilex* nah dibawah ini, bakalan ada cerbung saya berjudul PostGirl, penasaran? langsung baca dan komentar ya. Sangat mengharapkan kritik dan saran kalian semua, Cuyy…

~Hari ini hari selasa~ Ren telah membuat janji dengan Ify, sebuah makan siang special di restorant dekat kampus. Kenapa spesial? Itu karena ini akan menjadi lunch bersama mereka yang pertama, dan mugkin akan jadi yang terakhir, karena Ify sudah memutuskan untuk cuti kuliah, Ify berniat untuk memberi tahu kekasihnya itu siang ini.
Ify sudah menunggu sangat lama. Ia sedari tadi sudah hampir satu jam berdiri di parkiran mobil, menahan lelah dan capeknya hanya untuk bertemu Ren yang belum kunjung datang. Ify merogoh sakunya, dikeluarkannya sebuah handphone. Ditekannya beberapa nomor, dan itu sudah pasti ia menelpon Ren. Ren belum menjawab telpon dari cewek 18 tahunan ini, meskipun nampaknya telpon mereka sudah tersambung. Ify mendengar sesuatu, ia memasang muka serius dan berusaha berkonsentari, sebuah suara ringtone yang sama dengan hanphone Ren. Ia menoleh, berusaha mencari sumber suara. Dengan hanya sekali ia membalikkan badannya, ia sudah bisa melihat semuanya. Ren sedang berjalan menuju sebuah mobil bersama dengan seorang gadis yang Ify kenal, ia Cherly, anak pemilik kampus ini. Mereka berjalan mesra tanpa menyadari Ify yang sedang memperhatikan mereka, terlebih Ren.
‘’Ren..’’ Ify berjalan menghampiri mereka.
‘’Ify?’’ tanya Ren yang kelihatan sangat terkejut.
Ify diam, ia tidak memberikan jawaban apapun. Ia hanya berusaha menahan tangisnya, sekuat yang ia bisa. Mereka saling bertatapan, tidak lama karena Ify dengan cepat menyadari posisinya, tidak baik terus begini di depan Cherly, seseorang yang diyakini Ify sedang dekat dengan pacarnya, tidak sekarang mereka mantan. Ify berbalik, ia kemudian melangkah, namun langkahnya kembali terhenti.
‘’Fy, maaf.’’ Ucap Ren yang sepertinya tulus. Kini air matanya mulai terjatuh, terjatuh tanpa suara meski semakin deras akhirnya. Namun, ia tahu ia harus segera menjauh dari kehidupan Ren, dari tempat ini. Ify melangkah pergi.
Di sebuah acara meet and great penggemarnya, Nick, seorang aktor yang sedang naik daun memulai acaranya, ia berucap.
‘’Terimakasih telah datang, hey kalian, apa ini semua NiTime?’’ sapa Nick yang langsung disambut para NiTime, sebutan bagi penggemarnya. Sebenarnya, Nick bukanlah aktor yang sudah hebat dan sering bermain film atau pun drama, tapi karena wajahnya yang begitu tampan, ia langsung dipilih untuk menjadi leadmale sebuah drama remaja ‘’NoKiss, Nolove’’.
Seperti acara fans meeting lainnya, Nick harus meladeni permintaan tanda tangan. NiTime cukup tertib walaupun mereka agaknya sangat tidak sabar untuk bertatap muka secara langsung dengan idola mereka, itu terlihat jelas. Satu persatu mereka mendapat tanda tangan, dan perlahan antrian yang sangat panjang itu mulai menipis hingga 100 orang sudah tidak tersisa. 100 tanda tangan sudah ia bubuhkan di sebuah kertas untuk para penggemarnya kelas VVIP, kelas berduit.
Sebenarnya tadi Nick terlihat sangat malas untuk melanjutkan acara tanda tangan ini, sempat beberapa kali ia meminta istirahat dan para penggemarnya terlihat kecewa, mereka agaknya takut jika acara terhenti karena Nick keburu pergi. Tapi mana mungkin, buktinya Nick kembali bersemangat untuk melanjutkan tanda tangannya meskpun dalam hati ia masih kesal karena ada beberapa fans yang nekat menyentuhnya, padahal itu tidak diperbolehkan.
Nick baru tiba di apartemennya malam sekali, ia sempat marah-marah dengan managernya, manager Ja.
‘’Udah gue bilangin kan, gue itu gak suka acara beginian. Buat apa meet and great. Gue capek!’’
Setiap kali terjadi perselisihan diantara mereka Manager Ja hanya bisa diam, menenangkan dirinya yang sudah bosan karena ini terjadi hampir setiap malam. Sempat terpikir olehnya, apa Nick tidak ingin menjadi aktor? Menjadi selebriti atau orang terkenal? Entahlah, tapi sikapnya memang begini sejak mereka berdua bertemu, sangat manja dan keras kepala, dan pada akhirnya ia mengabaikan penggemarnya.
Nick masuk kamar ketika Manager Ja keluar dari apartemennya, mereka tinggal terpisah karena Nick tak mengijinkan seseorang dengan sembarangan masuk ke apartemen apalagi kamarnya, ia tidak suka itu.
Nick duduk di sofa di dalam kamarnya yang luas, seluruh isi kamarnya didominasi warna puith dan coklat. Di dindingnya terpasang sebuah poster yang sangat besar bergambar wajahnya sendiri, terkadang ia bisa menjadi sangat narsis.
Nick mengantuk, ia berusaha untuk tidak menguap, tapi gerakan badannya membuat sesuatu terjatuh ke lantai. Setumpuk surat kini berceceran di lantai marmernya, Bukan sebuah surat, tapi puluhan!
‘’Akhh!’’ kesalnya, entah kenapa ia sangat membenci ini. Sangat tidak suka jika banyak surat dari penggemar yang berhasil sampai ke apartemennya, padahal tidak banyak yang tahu dimana apatemennya. Nick sama sekali tidak tahu tentang itu, bagaimana surat itu bisa sampai kesini, ia hanya tahu setiap hari akan selalu ada surat yang menumpuk di meja kecil di dekat sofanya.
Matahari sudah mulai terbenam, tetapi masih banyak saja pengunjung yang hadir ke café ini, untuk sekedar minum coffee atau memesan makanan ringan yang tersedia. Ify adalah salah satu diantara mereka. Ia meminum pelan-pelan coffee susunya dan membiarkan coffee itu mendingin. Ia mengaduk-ngaduk coffee itu meski sebenarnya sudah tercampur rata. Ia hanya menatap semu pada cangkir leramik berwarna putih yang tepat berada di depannya. Ia hampir frustrasi.
‘’Terimakasih ya. Silakan datang kembali.’’ Seorang pelayan seumuran atau mungkin lebih tua barang beberapa tahun dari Ify mulai membereskan meja yang yang sudah ditinggali pengunjungnya. Ia menaruh dua cangkir kecil coffee dan ditaruhnya di atas nampan kecil, gelas itu harus segera dicuci. Ia hendak melangkah ke belakang, ke arah dapur tapi matanya lebih dulu tertuju pada Ify yang masih diam tanpa suara.
‘’Ada apa denganmu? Apa ini semua karena Ren ? Jawab aku Fy.’’ Tanya pelayan muda tadi, ia adalah Reza, sahabat satu-satunya Ify, temannya sejak kecil, sejak di panti asuhan, orang yang dipanggil Ify dengan sebutan kakak.
‘’Aku harus menemuinya.’’ Reza membuat seakan-akan ia berjalan pergi keluar café untuk menemui Ren, tapi Ify mencegah dengan suara lemahnya, yang hampir tidak terdengar kalau saja café itu masih buka.
‘’Jangan Kak.’’ Pinta Ify tanpa menatap Reza.
Reza hanya bisa pasrah menatap Ify yang malang dengan kasihan.
Sebenarnya, Ify tahu kalau Ren tidak benar-benar menyukainya, tapi gadis berkulit agak coklast ini tetap saja mau menerimanya.
Saat itu…
‘’Apa katamu? Kalian berkencan?’’ tanya Cherly memastikan, dulu Ify dan Cherly berteman baik, meski rasanya Cherly sering membicarakan Ify dibelakangnya.
Ify menganguk mengiyakan. Untuk beberapa saat Cherly diam.
‘’Kenapa?’’ tanya Ify yang mulai menangkap gelagat aneh Cherly.
‘’Oh, tidak. Itu hanya, apa kau yakin Ren benar-benar menyukaimu?’’
‘’Maksudmu?’’ tanya Ify tak mengerti.
‘’Ah tidak, lupakan saja itu tidak penting, ya tidak penting. Oh ya Fy, apa kau sudah bertemu Pak Adnan di kantor?’’ alih Cherly.
Nick bangun dari tempat tidurnya, ia menhentikan jam weker yang ia tahu pasti manager Ja yang mengaturnya.
‘’Aisshh, apa-apaan ini? Baru juga jam lima kenapa akau harus bangun?’’ Begitulah meski jam weker terus dipasang setiap hari, Nick juga tak akan bangun tepat waktu. Itu sudah pasti karena setelah ia mematikan jam wekernya ia akan melanjutkan tidurnya yang terhenti.
Reza terbangun dari tidurnya, ia mengangkat tubuhnya sendiri dan mulai melangkah menuju dapur, sesuatu yang harum telah membuatnya bangun lebih cepat. Ternyata Ify sedang memasak. Reza hanya diam memperhatikan gadis didepannya ini yang dengan cekatan memotong-motong tomat dan cabai, lalu ia masukkan ke dalam rebusan mie diatas kompor.
Reza mulai tidak bisa menahan rasa bahagiannya, ini pertama kalinya Ify memasak untuknya.
‘’Sedang masak ya?’’ Ify yang terkejut kemudian berbalik menghadap Reza.
‘’Ah, iya Kak, aku harus buktikan kalau aku ini pintar memasak.’’ Ungkap Ify, Reza hanya tersenyum geli. Ify memang terlihat agak aneh hari ini, kemarin ia datang dengan wajah kusutnya, sekarang keadaannya pasti sudah membaik, ia nampak begitu riang.
‘’Bagaimana?’’ tanya Ify yang penasaran akan rasa masakannya.
Reza tidak berucap satu patah kata pun, ia hanya menatap Ify lekat-lekat, ia tahu Ify memasaknya penuh ketulusan.
‘’He?’’ tanya Ify lagi.
‘’Kau tahu, ini enak sekali!’’ puji Reza yang langsung melebarkan senyumannya.
Ify tersenyum tidak begitu lebar, seolah ada sesuatu yang mengganjalnya, sesuatu yang seperti ingin dikatakannya.
‘’Kak…’’ sapa Ify.
‘’Hem.’’ Reza hanya berdehem kecil sambil terus melahap mie rebusnya seakan-akan mie ini memang sangat enak, padahal Ify saja ragu akan hal itu.
‘’Kak..aku..’’ gantung Ify.
Reza menghentikan makannya, ia sadar akan sikap aneh yang ditunujkan Ify padanya.
‘’Ada apa?’’ sekarang Reza mulai bertannya.
‘’Aku…aku cuti kuliah untuk sementara.’’ Ucap Ify sambil menundukkan wajahnya.
‘’Apa? Cuti kuliah? Tapi kenapa? Kau perlu biaya? Beritahu…’’
‘’Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu lagi Kak.’’ Potong Ify segera. Ia menatap wajah Reza yang nampak bingung. Ify sudah memperkirakan ini sejak semalam.
‘’Kau sama sekali tak merepotkanku, aku punya tabungan kau bisa memakainya.’’ Tawar Reza, ia memang seorang pria yang baik.
‘’Kak, tolong mengertilah.’’ Pinta Ify dengan suara lemah.
Nah gimana? Gimana? Cerbungnya aneh ya? jelek ya? atau lumayan? *dari pada lu manyun. Hehe.* Pokoknya apapun komentar kalian *asal jujur dan dari hati kalian yang paling dalam, ceilah..* Sheilla terima. Ok, wait for the next part and Keep Comment guys…

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: