Skip to content

PostGirl

PostGirl

Part 2
Ok, ketemu lagi dengan cerbung anehku ini. Di part kemaren, Ify memohon pada Reza, cowok yang udah dianggapnya Kakak ini agar mengijinkannya hidup mandiri, bukan mandi sendiri ya, keke..Dan Reza hmm, cowok ini cuma bisa pasrah. Nah sekarang lanjut bacanya.
Happy reading friends…

Bunyi bel apartemen Nick terdengar sejak tadi, Nick berusaha untuk tidak mempedulikannya, tapi itu benar-benar mengganggu tidurnya.
‘’Aishhh, mengganggu saja.’’ Ia melangkah keluar dari kamarnya dan menuju pintu apartemen, ia membukakan pintu.
‘’Ada apa?’’ ia setengah menatap setengah tidak pada manager Ja yang berdiri di hadapannya.
‘’Kenapa kau tidak bersiap-siap?’’ tanya Manager Ja, ia memperhatikan Nick yang masih acak-acakan.
‘’Kenapa memangnya? Bukankah ini hari minggu?’’
‘’Ya, kau benar tapi ada show hari ini.’’
Nick masih berada di kamarnya, ia sudah mandi dan berganti pakaian, tapi ia tidak mau juga keluar. Di luar, Manager Ja duduk menunggu di sofa. Ia terus memperhatikan jam yang terus berputar, ini acara live, jika telat akan sangat memalukan.
Sementara Manager Ja masih memperhatikan jam, di dalam kamar Nick sibuk berpikir, ia sedang menyusun rencana untuk kabur. Ia sangat membenci variety show. Dan ini hari minggu, kenapa ia harus bekerja juga?
‘’Bagaimana ini, aku harus bagaimana? Aha!’’ Nick setengah berteriak, ia takut suaranya akan terdengar oleh manager Ja. Dibukanya handphonenya, lalu ia memulai mebuka twitter, di tweetnya ~I’m in Laksamada Hotel, come!’’ Ia tersenyum licik.
Sekarang fans sudah memenuhi tempat parkir hotel, beberapa diantaranya memaksa masuk, tapi tetap saja tidak bisa.Nick , dia memang terkenal punya banyak fans, dengan wajah sangat tampan yang dimilikinya, ia dengan gampang meraih popularitas. Bahkan lebih banyak fans fanatic yang ia miliki ketimbang penggemar yang biasa saja, itu sudah pasti, yang datang ke hotel adalah fans fanaticnya. Dua orang berjalan menuju kerumunan itu, yang meski sudah dijaga seketat mungkin, tetap saja semakin kisruh.
‘’Kau yakin ini hotel yang dimaksud Mr. Melted?’’ Mr melted, itu adalah nama yang diberikan fans untuknya, mereka, para fans itu selalu meleleh setiap melihat Nick beradu akting di layar kaca. Hem, Mr. Melted.
‘’Iya, kalau bukan ini, memangnya ada Laksamada Hotel lain?”
Gadis itu menganguk mendapat jawaban temannya itu. Tak lama, mereka yang masih berseragam SMP itu masuk memenuhi kerumunan para NiTime.
‘’Masuk!’’ seseorang yang tadi mengetuk pintu masuk dengan tergesa-gesa. Manager Ja heran dan bertanya pada Tuan Adnan, supirnya.
‘’Ada apa?’’
‘’Ada banyak fans diluar, semua menjadi tak terkendali.’’ Jelasnya, Manager Ja bangkit dan pergi keluar mengikuti supirnya.
Nick menempelkan telinganya pada pintu kamarnya, ia sedang menerka-nerka apakah Manager Ja sudah pergi atau belum, dan tidak ada suara yang terdengar, ia yakin Manager Ja pasti sudah pergi. Dengan tetap mencoba tak berisik, ia keluar dan menutup pintu kamarnya kembali, lalu berjalan pergi. Ia harus kabur sebelum Manager kembali.
‘’Nick! Nick!’’ panggil NiTime terus menerus, Nick mendengarnya sangat jelas, ia bahkan berjalan sembunyi-sembunyi bukan untuk menhindari fansnya tapi Manager Ja.
‘’Sudah saya katakan, Nick tidak ada disini!’’ tegas Manager Ja, saat Nick masih melangkah, mencoba berjalan keluar. Dengan memakai jaket putih, dan sebuah topi, ditambah kaca mata membuatnya berhasil melewati lobi dan para fans itu. Hem, penyamaran yang sederhana sebenarnya.
‘’Terimakasih ya kak, terimakasih atas bantuanmu selama ini. Selamat tinggal.’’ Pamit Ify. Reza hanya menatapnya lemah, matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi, memang Ify tidak akan pergi jauh, ia hanya tidak akan mampir setiap hari ke café dan rumah kecilnya, karena Ify berencana mencari pekerjaan, tapi tetap saja, ia merasa kehilangan.
Ify tak mendapat jawaban apapun dari Reza, meski begitu, ia tetap berbalik dan melangkah menjauh, melewati gang itu perlahan.
‘’Ify!’’ panggil Reza. Ify berhenti dan berbalik.
‘’Ya?’’ tanyanya.
‘’Apa kau menyayangiku?’’ Ify sedikit bingung.
‘’Hem, maksudku, jika kau menyayangiku, kembali padaku, aku akan selalu menunggumu. Jangan lupa makan, jangan terlalu lelah bekerja, kau mengerti?’’ Ify menganguk penuh senyum. Kemudian ia berjalan lagi, semakin menjauh.
‘’Ingat pesan kakakmu ini!’’ teriak Reza yang samar-samar di dengat Ify.
‘’Ah, ada apa ini? Kenapa lampu merah!’’ kesal Nick yang membawa sendiri mobilnya, yap ia berhasil kabur.
Sementara itu di apartemen, Manager Ja masih sibuk dengan NiTime yang merepotkan itu. Supirnya datang dan membawa kabar yang mengejutkan.
‘’Tidak ada. Dia sudah pergi.’’ Manager Ja menahan emosinya, ia sangat kesal, Nick telah menipunya.
‘’Cepat cari dia!’’ perintahnya.
Bunyi klakson mobil di belakang Nick terus berbunyi sejak tadi, Nick tak menyadarinya karena ia malah tertidur, sampai seseorang menggedor kaca mobilnya. Ia membukanya.
‘’Maaf. Maafkan aku.’’ Ucapnya sopan. Ia memperhatikan gadis yang menatapnya dengan tatapan aneh dan sedikit tidak percaya itu, Nick harap dia bukan NiTime.
‘’Hei lihat, dia Nick.’’ Nick yang terkejut langsung menutup pintu mobilnya dan berusaha pergi, ia melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
Terjadi adegan kejar-kejaran antara Nick dan NiTime, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh Nick sebelumnya. Ia tetap memimpin berada di depan, dan beberapa mobil berusaha mengikutinya dari belakang.
Ia terus melaju dengan sangat cepat, dan ia menekan klakson dengan kaget sambil berteriak.
‘’Hei nona, minggirlah!’’ teriaknya dari dalam mobil yang tentu tak di dengar oleh gadis yang berjalan santai di depannya. Jalan itu memnag sangat sempit dan hanya cukup satu mobil yang bisa melaluinya.
‘’Aaaa!’’ teriak Nick kaget sambil menekan rem kaki pada mobilnya. Ia menyembunyikan kepalanya di bawah stir mobil dan perlahan mengangkat wajahnya dengan setengah takut. Ia tidak melihat gadis itu, ia telah menghilang. Apa gadis itu terabrak olehnya? Arghh tidak! Nick keluar dan mencari gadis itu. Nick menutup pintu mobilnya, dan ia mendapati gadis itu berada di trotoar sedang merintih kesakitan denga siku yang berdarah.
‘’Hei..Apa kau tidak apa-apa?’’ tanya Nick langsung. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatapa Nick. Nick tersenyum.
‘’Jadi kau yang menabrakku? Ha?’’ Ify, ya gadis itu adalah Ify, ia mulai berdiri.
‘’Kau tahu siapa aku kan? Aku Nick.’’ Ungkap Nick penuh percaya diri.
‘’Tidak.’’ Ceplos Ify.
‘’Benarkah kau tidak tahu?’’ Nick terlihat curiga, ia masih yakin Ify adalah salah satu NiTime-nya.
‘’Auhh.’’ Jerit Ify sambil memegangi sikunya. Nick dengan spontan memegang siku Ify dan mencoba memeriksa lukanya. Ify lagi-lagi menunjukan sikap yang menurut Nick aneh, ia memukul lengan Nick dan mulai marah-marah.
‘’Apa-apaan kau ini, jangan sentuh aku!’’
‘’Apa?’’ Nick yang masih bingung mendengar suara-suara NiTime yang memnaggilnya agak jauh.
‘’Iku aku!’’
‘’Apa?’’ tanya Ify.
‘’Cepat ikut aku!’’
‘’Tidak mau!’’ Ify berjalan pergi, tapi Nick menariknya dan memaksanya masuk, Ify masuk juga. Mereka akhirnya kabur bersama.
Di dalam mobil Ify berusaha membuka kaca mobil dan berteriak minta tolong.
‘’Tolong! Tolong aku! Hei, aku diculik Tolong aku!’’ teriaknya sekuat mungkin.
Grrr… udah nyampe part 2, gimana? Apa? Apa? Apa? Dimana? Dimana? Dimana komen kalian? Don’t be silent readers guys!

Iklan

PostGirl

PostGirl

Part 1
Hi…hi hmm, hmm, welcome to my stupid blog. Grrr…*tapi orang yang baca blog ini gak pada stupid kok, rilex* nah dibawah ini, bakalan ada cerbung saya berjudul PostGirl, penasaran? langsung baca dan komentar ya. Sangat mengharapkan kritik dan saran kalian semua, Cuyy…

~Hari ini hari selasa~ Ren telah membuat janji dengan Ify, sebuah makan siang special di restorant dekat kampus. Kenapa spesial? Itu karena ini akan menjadi lunch bersama mereka yang pertama, dan mugkin akan jadi yang terakhir, karena Ify sudah memutuskan untuk cuti kuliah, Ify berniat untuk memberi tahu kekasihnya itu siang ini.
Ify sudah menunggu sangat lama. Ia sedari tadi sudah hampir satu jam berdiri di parkiran mobil, menahan lelah dan capeknya hanya untuk bertemu Ren yang belum kunjung datang. Ify merogoh sakunya, dikeluarkannya sebuah handphone. Ditekannya beberapa nomor, dan itu sudah pasti ia menelpon Ren. Ren belum menjawab telpon dari cewek 18 tahunan ini, meskipun nampaknya telpon mereka sudah tersambung. Ify mendengar sesuatu, ia memasang muka serius dan berusaha berkonsentari, sebuah suara ringtone yang sama dengan hanphone Ren. Ia menoleh, berusaha mencari sumber suara. Dengan hanya sekali ia membalikkan badannya, ia sudah bisa melihat semuanya. Ren sedang berjalan menuju sebuah mobil bersama dengan seorang gadis yang Ify kenal, ia Cherly, anak pemilik kampus ini. Mereka berjalan mesra tanpa menyadari Ify yang sedang memperhatikan mereka, terlebih Ren.
‘’Ren..’’ Ify berjalan menghampiri mereka.
‘’Ify?’’ tanya Ren yang kelihatan sangat terkejut.
Ify diam, ia tidak memberikan jawaban apapun. Ia hanya berusaha menahan tangisnya, sekuat yang ia bisa. Mereka saling bertatapan, tidak lama karena Ify dengan cepat menyadari posisinya, tidak baik terus begini di depan Cherly, seseorang yang diyakini Ify sedang dekat dengan pacarnya, tidak sekarang mereka mantan. Ify berbalik, ia kemudian melangkah, namun langkahnya kembali terhenti.
‘’Fy, maaf.’’ Ucap Ren yang sepertinya tulus. Kini air matanya mulai terjatuh, terjatuh tanpa suara meski semakin deras akhirnya. Namun, ia tahu ia harus segera menjauh dari kehidupan Ren, dari tempat ini. Ify melangkah pergi.
Di sebuah acara meet and great penggemarnya, Nick, seorang aktor yang sedang naik daun memulai acaranya, ia berucap.
‘’Terimakasih telah datang, hey kalian, apa ini semua NiTime?’’ sapa Nick yang langsung disambut para NiTime, sebutan bagi penggemarnya. Sebenarnya, Nick bukanlah aktor yang sudah hebat dan sering bermain film atau pun drama, tapi karena wajahnya yang begitu tampan, ia langsung dipilih untuk menjadi leadmale sebuah drama remaja ‘’NoKiss, Nolove’’.
Seperti acara fans meeting lainnya, Nick harus meladeni permintaan tanda tangan. NiTime cukup tertib walaupun mereka agaknya sangat tidak sabar untuk bertatap muka secara langsung dengan idola mereka, itu terlihat jelas. Satu persatu mereka mendapat tanda tangan, dan perlahan antrian yang sangat panjang itu mulai menipis hingga 100 orang sudah tidak tersisa. 100 tanda tangan sudah ia bubuhkan di sebuah kertas untuk para penggemarnya kelas VVIP, kelas berduit.
Sebenarnya tadi Nick terlihat sangat malas untuk melanjutkan acara tanda tangan ini, sempat beberapa kali ia meminta istirahat dan para penggemarnya terlihat kecewa, mereka agaknya takut jika acara terhenti karena Nick keburu pergi. Tapi mana mungkin, buktinya Nick kembali bersemangat untuk melanjutkan tanda tangannya meskpun dalam hati ia masih kesal karena ada beberapa fans yang nekat menyentuhnya, padahal itu tidak diperbolehkan.
Nick baru tiba di apartemennya malam sekali, ia sempat marah-marah dengan managernya, manager Ja.
‘’Udah gue bilangin kan, gue itu gak suka acara beginian. Buat apa meet and great. Gue capek!’’
Setiap kali terjadi perselisihan diantara mereka Manager Ja hanya bisa diam, menenangkan dirinya yang sudah bosan karena ini terjadi hampir setiap malam. Sempat terpikir olehnya, apa Nick tidak ingin menjadi aktor? Menjadi selebriti atau orang terkenal? Entahlah, tapi sikapnya memang begini sejak mereka berdua bertemu, sangat manja dan keras kepala, dan pada akhirnya ia mengabaikan penggemarnya.
Nick masuk kamar ketika Manager Ja keluar dari apartemennya, mereka tinggal terpisah karena Nick tak mengijinkan seseorang dengan sembarangan masuk ke apartemen apalagi kamarnya, ia tidak suka itu.
Nick duduk di sofa di dalam kamarnya yang luas, seluruh isi kamarnya didominasi warna puith dan coklat. Di dindingnya terpasang sebuah poster yang sangat besar bergambar wajahnya sendiri, terkadang ia bisa menjadi sangat narsis.
Nick mengantuk, ia berusaha untuk tidak menguap, tapi gerakan badannya membuat sesuatu terjatuh ke lantai. Setumpuk surat kini berceceran di lantai marmernya, Bukan sebuah surat, tapi puluhan!
‘’Akhh!’’ kesalnya, entah kenapa ia sangat membenci ini. Sangat tidak suka jika banyak surat dari penggemar yang berhasil sampai ke apartemennya, padahal tidak banyak yang tahu dimana apatemennya. Nick sama sekali tidak tahu tentang itu, bagaimana surat itu bisa sampai kesini, ia hanya tahu setiap hari akan selalu ada surat yang menumpuk di meja kecil di dekat sofanya.
Matahari sudah mulai terbenam, tetapi masih banyak saja pengunjung yang hadir ke café ini, untuk sekedar minum coffee atau memesan makanan ringan yang tersedia. Ify adalah salah satu diantara mereka. Ia meminum pelan-pelan coffee susunya dan membiarkan coffee itu mendingin. Ia mengaduk-ngaduk coffee itu meski sebenarnya sudah tercampur rata. Ia hanya menatap semu pada cangkir leramik berwarna putih yang tepat berada di depannya. Ia hampir frustrasi.
‘’Terimakasih ya. Silakan datang kembali.’’ Seorang pelayan seumuran atau mungkin lebih tua barang beberapa tahun dari Ify mulai membereskan meja yang yang sudah ditinggali pengunjungnya. Ia menaruh dua cangkir kecil coffee dan ditaruhnya di atas nampan kecil, gelas itu harus segera dicuci. Ia hendak melangkah ke belakang, ke arah dapur tapi matanya lebih dulu tertuju pada Ify yang masih diam tanpa suara.
‘’Ada apa denganmu? Apa ini semua karena Ren ? Jawab aku Fy.’’ Tanya pelayan muda tadi, ia adalah Reza, sahabat satu-satunya Ify, temannya sejak kecil, sejak di panti asuhan, orang yang dipanggil Ify dengan sebutan kakak.
‘’Aku harus menemuinya.’’ Reza membuat seakan-akan ia berjalan pergi keluar café untuk menemui Ren, tapi Ify mencegah dengan suara lemahnya, yang hampir tidak terdengar kalau saja café itu masih buka.
‘’Jangan Kak.’’ Pinta Ify tanpa menatap Reza.
Reza hanya bisa pasrah menatap Ify yang malang dengan kasihan.
Sebenarnya, Ify tahu kalau Ren tidak benar-benar menyukainya, tapi gadis berkulit agak coklast ini tetap saja mau menerimanya.
Saat itu…
‘’Apa katamu? Kalian berkencan?’’ tanya Cherly memastikan, dulu Ify dan Cherly berteman baik, meski rasanya Cherly sering membicarakan Ify dibelakangnya.
Ify menganguk mengiyakan. Untuk beberapa saat Cherly diam.
‘’Kenapa?’’ tanya Ify yang mulai menangkap gelagat aneh Cherly.
‘’Oh, tidak. Itu hanya, apa kau yakin Ren benar-benar menyukaimu?’’
‘’Maksudmu?’’ tanya Ify tak mengerti.
‘’Ah tidak, lupakan saja itu tidak penting, ya tidak penting. Oh ya Fy, apa kau sudah bertemu Pak Adnan di kantor?’’ alih Cherly.
Nick bangun dari tempat tidurnya, ia menhentikan jam weker yang ia tahu pasti manager Ja yang mengaturnya.
‘’Aisshh, apa-apaan ini? Baru juga jam lima kenapa akau harus bangun?’’ Begitulah meski jam weker terus dipasang setiap hari, Nick juga tak akan bangun tepat waktu. Itu sudah pasti karena setelah ia mematikan jam wekernya ia akan melanjutkan tidurnya yang terhenti.
Reza terbangun dari tidurnya, ia mengangkat tubuhnya sendiri dan mulai melangkah menuju dapur, sesuatu yang harum telah membuatnya bangun lebih cepat. Ternyata Ify sedang memasak. Reza hanya diam memperhatikan gadis didepannya ini yang dengan cekatan memotong-motong tomat dan cabai, lalu ia masukkan ke dalam rebusan mie diatas kompor.
Reza mulai tidak bisa menahan rasa bahagiannya, ini pertama kalinya Ify memasak untuknya.
‘’Sedang masak ya?’’ Ify yang terkejut kemudian berbalik menghadap Reza.
‘’Ah, iya Kak, aku harus buktikan kalau aku ini pintar memasak.’’ Ungkap Ify, Reza hanya tersenyum geli. Ify memang terlihat agak aneh hari ini, kemarin ia datang dengan wajah kusutnya, sekarang keadaannya pasti sudah membaik, ia nampak begitu riang.
‘’Bagaimana?’’ tanya Ify yang penasaran akan rasa masakannya.
Reza tidak berucap satu patah kata pun, ia hanya menatap Ify lekat-lekat, ia tahu Ify memasaknya penuh ketulusan.
‘’He?’’ tanya Ify lagi.
‘’Kau tahu, ini enak sekali!’’ puji Reza yang langsung melebarkan senyumannya.
Ify tersenyum tidak begitu lebar, seolah ada sesuatu yang mengganjalnya, sesuatu yang seperti ingin dikatakannya.
‘’Kak…’’ sapa Ify.
‘’Hem.’’ Reza hanya berdehem kecil sambil terus melahap mie rebusnya seakan-akan mie ini memang sangat enak, padahal Ify saja ragu akan hal itu.
‘’Kak..aku..’’ gantung Ify.
Reza menghentikan makannya, ia sadar akan sikap aneh yang ditunujkan Ify padanya.
‘’Ada apa?’’ sekarang Reza mulai bertannya.
‘’Aku…aku cuti kuliah untuk sementara.’’ Ucap Ify sambil menundukkan wajahnya.
‘’Apa? Cuti kuliah? Tapi kenapa? Kau perlu biaya? Beritahu…’’
‘’Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu lagi Kak.’’ Potong Ify segera. Ia menatap wajah Reza yang nampak bingung. Ify sudah memperkirakan ini sejak semalam.
‘’Kau sama sekali tak merepotkanku, aku punya tabungan kau bisa memakainya.’’ Tawar Reza, ia memang seorang pria yang baik.
‘’Kak, tolong mengertilah.’’ Pinta Ify dengan suara lemah.
Nah gimana? Gimana? Cerbungnya aneh ya? jelek ya? atau lumayan? *dari pada lu manyun. Hehe.* Pokoknya apapun komentar kalian *asal jujur dan dari hati kalian yang paling dalam, ceilah..* Sheilla terima. Ok, wait for the next part and Keep Comment guys…

Masih Temen Kan?

MASIH TEMEN KAN?

Aku berjalan di dalam kesendirian, aku mencoba tak mengingatmu. Sepenggal lirik lagu dari band Kerispatih ini rasanya sedikit banyak cocok untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Perasaan bimbang dan penuh dilema, yang akhirnya memunculkan dua pertanyaan klise dalam benakku, aku yang salah atau dia? Entahlah, sudah satu minggu aku tak menemui jawabannya. Sejak 14 April lalu.
Saat itu di sekolah…
‘’Lin….’’ teriaknya. Chi, begitu ia biasa disapa langsung masuk ke dalam kelas dengan raut wajah memerah saking gembiranya.
‘’Sabar Chi, sabar…emangnya ada apa sih?’’ tanyaku penasaran. Chi tidak langsung menjawabnya, ia mengambil nafas panjang lebih dulu.
‘’Aku…’’
‘’He?’’
‘’Aku…’’
‘’Iya, kamu kenapa?’’ aku menjadi tidak sabar juga.
‘’Aku menang lomba menulis!’’ teriaknya. Ia berjingkrak-jingkrak kegirangan. Aku hanya bisa tersenyum, lebih tepatnya memaksakan senyumku agar mengembang. Jujur, kabar itu membuatku terkejut.
Sepanjang pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Sepanjang itu juga, aku beberapa kali melihat ke arah Chi yang duduk agak dibelakang, hari ini ia nampak bersemangat sekali sepertinya.
‘’Uhhh, ada apa denganku?’’ tanganku tanpa diperintah spontan memukul-mukul kepalaku. Membuatnya sadar. Tapi aku benar-benar merasa iri padanya, ya sebenarnya itu dari dulu. Aku dan Chi sudah berteman sejak SD, sejak itu pula banyak yang membandingkanku dengannya. Ya kuakui, aku kalah segalanya darinya. Aku kalah tinggi, populer, dan juga kalah pintar. Bukan hanya itu, aku bahkan harus merelakan orang yang kucintai untuknya. Dan sekarang, apa aku harus kalah lagi darinya. Dari dulu kami sering bertukar cerpen buatan sendiri, jauh sebelum ia berani ikut dalam lomba menulis, aku sudah menerima beberapa penghargaan. Tapi, kenapa dia, Chi yang baru pertama kali mengikuti lomba harus merebut juara dariku. Ini sungguh tak adil!
‘’Lin, besok kan ulang tahun Chi, kamu mau kasih apa ke dia?’’ Mega bertanya padaku suatu saat. Aku lupa, besok memang ulang tahun Chi. Kupandangi Mega yang masih menunggu jawaban dariku.
‘’Kenapa?’’ mungkin Mega risih juga kupandangi terus menerus.
‘’Tidak. E..kamu besok datang kan Meg?’’
‘’Pasti dong. Siapa sih yang gak mau datang ke ulang tahun Chi yang mewah itu.’’ Ucapnya sambil berlalu pergi ke tempat duduknya karena bel masuk sudah berbunyi.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Bukan, jangan salah paham dulu. Aku tidak bisa tidur bukan karena bingung harus memberi kado apa untuk Chi, tapi lebih dari itu. Aku mulai menghitung kancing baju bonekaku.
‘’Datang, tidak, datang, tidak, datang, ti…dak. Benar gak usah datang!’’ ini jawabanku.
Pagi ini, aku sedikit terlambat.
‘’Udah ya Mah, Lindan pergi dulu ya. Dah…’’ dengan terburu-buru aku pamit dan segera menuju angkutan umum yang sudah menunggu di depan rumah. Hanya angkot bukan mobil seperti Chi. Lagi-lagi aku iri.
‘’Maaf Bu. Saya telat.’’ Tidak kusangkan Guru Matematika kami yang biasanya sering telat justru datang lebih cepat dariku. Aduhh…
‘’Kenapa mesti telat sih? Ah, bodohnya aku!’’ Kukutuki diriku sendiri di tengah lapangan ini. Percaya atau tidak ini baru pertama kalinya aku terlambat, dan pertama kalinya aku dihukum gara-gara itu. Argghhh!
‘’Apa? Bersihin lapangan basket seluas ini? Aku tidak sanggup Bu. Ampun! Ampun!’’ keluhku tidak pada siapa-siapa. Sambil terus menyapu lapangan, aku menyanyi-nyanyi sendiri, menghilangkan sebal. Sebuah lagu asal-asalan, yang kubuat spontan, tanpa nada yang pas.
‘’Aku terlambat, sekarang dihukum. Kenapa harus terlambat. Aku malu, kamu tahu? Aku malu. Malu sekali. Kamu tahu?..’’
‘’Aku tahu kok. Jadi aku akan membantumu disini. Mau dibantu kan? Kalau tidak mau, aku akan tetap membantumu.’’ Kudengar suara sumbang yang mengalun juga dengan nada yang acak-acakan. Lagu spontan dari Chi. Apa? Chi?
‘’Kenapa?’’ tanyaku tanpa berniat untuk menatap wajahnya.
‘’Seharusnya aku yang tanya kenapa? Kamu kok gak dateng sih ke ulang tahunku semalem?’’ Aku diam.
‘’Itu gak penting!’’ ketusku.
‘’Lin, kamu kenapa? Kamu marah ya sama aku?’’ dengan wajah polosnya Chi menatapku heran.
‘’Pergi!’’ usirku.
‘’Gak. Cepet kasih tau kamu kenapa? Aku salah apa?’’
‘’Kamu gak perlu tahu. Itu cuma masalah gadis bodoh sepertiku. Sekarang mending kamu pergi!’’
‘’Gak.. aku mohon. Kasih tahu aku, aku itu kan temen kamu, masa kamu gak cer..’’
‘’Temen. Ya, temen yang hebat. Kamu punya segalanya, sedang aku tidak. Aku bodoh, kamu pintar. Aku naik angkot. Kamu naik mobil. Tidak itu bukan masalah. Tapi Edo, aku menyukainya Chi, tapi dia justru menyukaimu.’’
‘’Kami tidak pacaran Lin.’’
‘’Iya, itu prinsipmu. Kamu tidak akan pacaran di SMP. Tapi nanti, apa aku gak tahu. Kamu juga suka sama dia kan?’’ Bentakku.
‘’Lin..’’
‘’Sekarang, kamu yang anak baru malah menang lomba menulis.’’
‘’Aku mohon Lin, jangan kaya gitu. Kamu itu cuma…’’ aku memutus kata-katanya lagi.
‘’Ya, aku emang iri. Bukan cuma, tapi bener-bener iri. Kenapa harus kamu, harus selalu kamu Chi, kenapa?’’
Aku pun menangis, sekarang Chi sudah tahu semua isi hatiku saat ini.
Seminggu itu…aku tidak berbicara apapun dengan Chi, sedikit pun. Kami bahkan tidak saling menyapa. Teman-teman merasa aneh pada sikap kami, tapi mereka tidak berani menanyakan hal itu. Baik padaku, atau Chi.
Sore ini, aku ada pengembangan diri. Senang rasanya, karena aku akan bertemu Edo, dan juga Chi. Ah, aku harap aku tidak bertemu dengannya lagi.
‘’Hai..Hai..’’ sapaku ceria pada semua teman-teman yang hadir. Aku tidak melihat Chi diantara mereka, itu membuatku senang bukan main.
‘’Hai Meg…’’ sapaku pada Mega.
‘’Lin, dicariin Edo tuh!’’
‘’Edo?’’
Dengan semangat berlebihan aku pun segera masuk ke dalam kelas, menghampiri Edo yang berdiri menungguku.
‘’Kenapa? Kamu nyariin aku kan Do?’’ Edo mengangguk.
‘’Chi, Chi, bertahanlah. Aku mohon, bertahanlah. Jangan seperti ini, tunggu aku. Jangan pergi. Aku mohon, tunggu aku.’’ Kukerahkan seluruh tenangaku untuk berlari, berlari secepat mugkin. Berlari menembus dinginnya angin laut, berlari menembus semua keirian dan rasa benci yang tiba-tiba hilang saat mendengar kabar dari Edo.
‘’Ini tentang Chi…’’
‘’Oh kalau Chi, aku gak mau denger!’’
‘’Chi sakit. Dia menderita kanker otak sejak setahun lalu. Dia ada dirumah sakit sekarang. Meski dia melarang aku buat ngasih tahu soal ini ke kamu. Aku pikir aku harus memberitahumu soal ini, Chi, dia tak ada harapan lagi. Dia menunggumu!’’
Kulangkahkan kakiku semakin cepat, makin dekat. Chi, aku mohon tunggu aku.
‘’Chi…’’ tubuhku hampir tumbang melihat Chi yang terbaring lemah di kasur rumah sakit, serba putih. Kuhampiri dirinya yang tak menyadari kedatanganku, ia masih menutup mata, dengan tubuh dipasangi infus dan tabung oksigen.
‘’Chi…’’ aku menangis, membasahi telapak tangannya yang kugenggam.
‘’Lindan…’’ samar-samar kudengar suara seseorang. Aku tak memeperdulikannya, aku tetap menagis, tak mau melepaskan genggaman tanganku.
‘’Lindan…’’ ulangnya lagi. Aku yakin, ada yang berbisik memanggi namaku. Aku tak percaya. Jari-jari itu bergerak lemah, kuangakat wajahku yang sudah basah dengan air mata.
‘’Kamu nangis ya? Kamu kenapa Lin, jangan nangis gitu ah, kamu kan udah besar.’’
Dia. Apa dia ini memang hebat, menyembunyikan penderitaannya selama ini? Bahkan mencoba tersenyum padaku, aku tahu kamu hebat Chi. Tapi, jangan tersenyum. karena kamu akan terlihat bodoh.
‘’Maaf…maafin aku Chi. Aku iri sama kamu. Maafin aku Chi.’’
‘’Iri? Kamu kenapa iri sama aku. Kamu hebat kok, kalau soal lomba menulis itu, aku baru punya satu penghargaan, sedangkan kamu, kamu sudah sering juara. Jadi buat apa iri sama orang sepertiku? He?’’
Aku pun mengangguk.
‘’Jadi?’’
‘’Jadi kita masih temenan kan?’’ tanyaku. Kini giliran Chi yang mengangguk, memberi jawaban yang meyakinkan.
Satu tahun sudah berlalu, sejak saat itu tak ada rasa benci yang menderaku. Tidak, masih ada sedikit rupanya.
Saat itu di sekolah…
‘’Chi!’’ panggilku padanya. Seorang gadis tinggi semampai, dengan rambut pendek yang berbando persis seperti Chi yang kukenal dulu, datang menghampiriku.
‘’Kenapa?’’
‘’Kamu ini Chi atau bukan sih?’’ Aku masih ragu, sejak setahun lalu.
Chi yang kupanggil tadi tertawa terbahak-bahak.
‘’Kamu masih gak percaya? Oke, mau lihat…’’ dia mau menunjukkan tanda lahir di pahanya, dengan sigap kucegah ia.
‘’Jangan! Aku percaya! Tapi kenapa kalian begitu mirip?’’ Chi kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
‘’Ya, itu karena kami kembar Nona Lindan!’’ ungkapnya. Sebenarnya, sudah berkali-kali ia menjelaskan kenyataan itu. Tapi, jujur aku baru kali ini berurusan dengan anak kembar.
‘’Kenapa? Kamu iri ya? Ah, kamu iri karena Chi memiliki saudara kembar bernama Chinta sepertiku? He?’’
‘’Tidak! Aku tak mau memiliki saudar kembar aneh sepertimu.’’ Ketusku. Sambil terus menaikkan daguku lebih tinggi aku berjalan didepannya. Tak lama, dia menyusul, menaruh tangannya di bahuku.
‘’Oh ya, jangan panggil aku Chi. Panggil aku Chinta, kamu ngerti? Ingat!’’
‘’Hushh!’’ kali ini ia berjalan di depan, aku sok sibuk membersihkan bahuku yang disentuh olehnya. Dalam hati aku berbicara sendiri.
‘’Chi, saudara kembarmu itu sangat lucu!’’

Tamat

Comeback part 4

COMEBACK

Part 4

In Previous part Ceri yang ikut seleksi ditetapkan tidak lolos, alhasil dia gak bisa masuk LAS, Landry Art School, sekolah seni paling populer di Jakarta. Ok, gimana ya nasib Ceri selanjutnya? Read!

Ceri menangis, kali ini ia benar-benar tidak mau dikasihani. Kemudian, ia berusaha tersenyum.
‘’Tidak apa-apa, dan juga terimakasih, aku akan terus berusaha, aku belum memastikan sendiri bahwa aku tidak punya bakat. Jadi, aku akan terus berusaha.’’
Kay berada di restaurant, ini sudah malam, tapi Kay belum juga pulang. Ya, pulang kemana? Amerika? Ayah tidak bisa dihubungi, ia juga tak punya keluarga lain.
‘’Maaf tuan, restaurant akan ditutup, sebaiknya anda meninggalkan tempat ini, besok kami buka jam 8 pagi.’’ Kata seorang pelayan laki-laki yang menghampirinya.
Kay memegang botol soda di tangannya. Ia nampak kesal saat ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi tergeletak di meja.
‘’Jam berapa ini?’’ tanyanya.
‘’Jam 12 tuan.’’
‘’Apa aku harus membayar semua ini?’’ Kay mulai tidak sadar dengan ucapannya sendiri.
‘’Tentu, ini daftarnya.’’ Pelayan itu memberikan daftar pesanan di atas meja, Kay memeriksanya, lalu mengambil uang dari sakunya.
‘’Apa ini cukup?’’
‘’Ya.’’ Kay melangkah pergi setelah membayar. Ia beberapa kali hampir terjatuh dan sebelum pelayan itu membantunya, ia sudah berdiri , dan mulai berjalan lagi.
Ceri berjalan keluar gerbang, ia berhenti seperti tak sanggup meninggalkan sekolah ini, meninggalkan LAS, sama seperti meninggalkan impiannya, dan impian seseorang padanya, yang ia sendiri tak tahu pasti apa orang itu benar-benar menggantungkan impian itu padanya. Tidak, ia sudah berjanji tadi. Benar, apa dengan meninggalkan LAS berarti meninggalkan impian, Ceri salah, masih banyak jalan menuju Roma, ia akan berusaha, dan terus berusaha. Setelah yakin, Ceri menatapnya kembali, LAS, yang akan ia tinggalkan, walaupun masih ada sedikit keinginan untuk bersekolah disini, sudahlah, ia harusnya sudah yakin dengan yang sebelumnya, sekali lagi ia meyakinkan dihatinya bahwa banyak jalan menuju Roma lalu melangkah menjauh.
Kay berjalan di tempat yang ia biasa lalui dengan mobil. Ia menatap ke langit hitam diatasnya.
‘’Kurasa tidak akan hujan lagi.’’ Konyol memang, langit hitam bukan karena akan hujan, ini sudah malam, benar-benar malam, jam 12 malam.
Ia melipat tangannya di depan dadanya, lalu melangkah ke depan, mulai berjalan. Ia mengingat sesuatu, suatu saat dimalam seperti ini, di tempat ini, namun tidak dalam keadaan seperti ini, tapi sepertinya suasana tidak banyak yang berubah.
‘’Yah, coba lihat sungainya.’’ Kata Kay kecil pada Ayahnya sambil meihat sugai dibawahnya meski pagar pembatas masih lebih tinggi darinya.
‘’Wah, perahunya bagus sekali ya.’’ kata Ayah sambil melihat ke arah sungai yang jauhnya lebih dari 15 meter dari atas jalan beraspal, di sebuah terowongan, tempat mereka berdiri memandang.
‘’Benar, lampunya sangat terang, ayah…’’ Kay mengalihkan pandangannya ke wajah yang lebih bercahaya itu.
‘’Ya?’’
‘’Apa yang mereka cari?’’ tanya Kay yang ingin tahu.
‘’Ikan, udang, mungkin juga kepiting. Banyak, mereka akan senang jika membawa banyak ikan ke rumah, keluarga mereka juga seperti itu.’’
‘’Tapi Ayah, kenapa Ayah membawa kelelahan ke rumah, sedangkan Bibi yang membawa ikan dan udang?’’
Ayah tertawa mendengar ucapan anaknya itu, sementar Kay kecil kebingungan melihat sikap ayahnya, ia memandang ke ayahnya lagi, menunggu jawaban.
‘’Ayah tidak mendapat ikan di sungai.’’ Katanya berusaha mengehentikan tawanya, tapi setelah itu ia tertawa lagi.
‘’Kasihan sekali Ayah, tidak apa-apa Yah, Kay akan membantumu mencarinya.’’ Kay kecil menaikkan kakinya ke arah pijakkan pagar pembatas yang kokoh, disaat itu tawa Ayah benar-benar tertahan, ia panik. Secepat ia berpikir secepat itu pula ia meletakkan tangannya di pinggang anaknya dan menurunkannya. Ia menangis, lalu berlutut dan memeluk anaknya.
‘’Jangan seperti itu lagi.’’ Ia menangis.
Kay menaikkan kakinya ke arah pijakkan pagar pembatas yang kokoh setelah 12 tahun berlalu. Ia mungkin berpikir Ayahnya akan menjemputnya, menurunkannya, berlutut lalu memeluknya sambil menangis di balik punggunya yang kecil saat itu, padahal Kay melihat sedikit air mata yang menetes itu. Sungguh pikiran anak kecil, justur lebih pantas disebut khayalan bodoh.
Ceri dari arah yang sama sedang berjalan di bawah terowongan terbuka itu, di bawah air sungai yang mengalir.
‘’Ini tempat yang cocok jika seseorang putus asa, ia bisa ceria lagi dengan suasannya, atau bahkan,…’’ Ceri melihat ke arah Kay secara tidak sengaja. Ia berpikir lalu melanjutkan kata-katanya dalam kepanikkan.
‘’Bunuh diri, ada yang bunuh diri.’’ Ceri berlari ke arah Kay. Ia mendekati Kay pelan-pelan, setelah dirasa cukup aman ia mulai berbicara.
‘’Jangan, ini berbahaya.’’ Kay tidak memperhatikkannya.
‘’Jangan, apa masalahmu sebenarnya.’’
‘’Apa, apakah kau butuh teman untuk bercerita, aku bisa menjadi temanmu.’’ Lanjutnya, tak ada respon apa-apa, Ceri panik, ia memegangi tangan Kay.
‘’Jangan, ini tidak membantumu menyelesaikan masalah.’’
‘’Apa maksudmu?’’ Kay melihat ke arah Ceri.
‘’Hah?, kumohon jangan bunuh diri.’’ Ceri memohon.
‘’Bunuh diri?’’ Kay menatapnya bingung.
‘’Kau berniat mengakhiri hidupmu kan?’’ tanya Ceri, Kay mengalihkan pandangannya ke arah sungai, lalu menurunkan kakinya dari pijakkan. Ia memandang Ceri lagi, memandangannya lekat-lekat.
‘’Jangan bodoh.’’ Katanya.
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Ceri tak mengerti, ia masih merasa apa yang dilakukannya ini benar. Kay tidak mempedulikkannya, ia berjalan meninggalkan Ceri yang masih berdiam diri.
‘’Pemuda itu! Apa maksudnya menyebutku bodoh?, liat saja kalau kita bertemu lagi.’’ Ceri berjalan di jalanan yang belum ia lewati sejak ke Jakarta. Daerah lain yang belum dikenalnya.
‘’Kemana aku harus pergi? Kembali ke panti, ah, aku tidak punya alasan untuk itu. Lalu harus kemana aku?’’ Ceri menatap langit.
‘’Aku harap tidak akan hujan.’’
Kay membeli minuman di emperan toko, masih dengan gaya dan baju yang sama. Memakai topi pink, dengan headphone warna putih terpasang di telinganya, serasi dengan t-shirt pink untuk cowok yang dipasangkan dengan jeans putih, sepatu putih bergaris pink, gaya anak zaman sekarang.
Jam satu pagi sudah terlewat sejak tadi namun beberapa mobil masih berlalu-lalang di sekitar jalan tempat Kay berdiri. Kay meneguk sedikit demi sedikit minuman soda kalengnya. Sudah banyak ia meminum soda hari ini, entah apa yang akan terjadi.
Kay melihat sebuah plat nomor mobil yang dikenalnya, tapi ia tak ingat, apa yang membuatnya lupa disaat seperti ini.
Sementara dari dalam mobil itu…
‘’Baik, aku akan segera ke sana, iya, jangan khawatir.’’
Mobil itu melaju ketika Kay mulai mengingatnya, ia membanting kaleng sodanya yang sudah diteguknya habis dan menginjaknya, ia sangat kesal, lebih kesal dari yang sebelumnya.
Kay keluar dari taksi dan segera melangkah maju memasuki kantor Max Entertaiment, agencynya. Sudah tidak ada waktu untuk memperhatikan para pegawai dan orang-orang yang menatapnya antara siapa ini dan mengapa Kay berada disini.
Kay menaiki tangga menuju lantai dua. Ia terus melangkah dan diam-diam ia berpikir berapa lama ia telah keluar sehingga tempat ini terasa asing baginya. Tak perlu permisi atau mengetuk pintu, Kay masuk. Sekarang ia sedang berhadapan langsung dengan laki-laki berumur sekitar 45 tahun yang diketahui adalan Direktur Al dari papan nama di atas mejanya yang juga menunjukkan bahawa dia adalah seorang direktur. Ia nampak lebih tinggi karena berdiri sehingga Direktur harus melihat ke atas, menaikkan dagunya dengan congak.
‘’Untuk apa kau kemari?’’ tanya Direktur Al yang sedikit terkejut dengan kedatangan Kay.
‘’Menurutmu untuk apa aku kemari?’’ tanyanya balik.
‘’Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, silakan keluar, aku akan ada rapat.’’ Direktur berdiri dari kursinya dan melangkah menuju pintu.
‘’Bagaimana dengan kontrakku?’’ tanya Kay ada nada memohon yang berusaha ia tutupi namun gagal.
‘’Sudah tidak ada harapan. Aku sarankan kau mencari agency lain yang mau menerimamu.’’ Katanya sambil berlalu, meninggalkan Kay dalam keterpurukkan.
Kay berjalan dalam keputusasaan ketika seorang gadis muda menabraknya.
‘’Maaf.’’ Katanya.
‘’Tidak masalah.’’ Kay melangkah lagi sambil berpikir dalam diam, siapa gadis ini, dia masih sangat muda, Kay belum pernah melihatnya disini, apa dia… Kay berlari, ia mencari gadis itu.
Ia membuka pintu itu, ada rasa takut di hatinya, tapi lebih menyesal lagi jika ia tak membukanya.
‘’Jangan lakukan.’’ Teriak Kay dengan suara lantang. Gadis itu sedang berada dalam ruangan itu bersama Direktur Al. Kay berjalan menghampiri gadis itu dan melepaskan bollpoint yang ada ditangannya.
‘’Hei, ada apa ini?’’ Direktur harus dibuat terkejut untuk kedua kalinya karena kehadiran Kay yang begitu tiba-tiba.
‘’Ikut aku.’’ Kata Kay pada Gadis dihadapannya yang menatapnya bingung.
‘’Ikut aku atau kau akan menyesal.’’ Jelas Kay yang sebenarnya masih membuat gadis itu bingung.
‘’A..aku tidak ingin ikut denganmu, lepaskan aku.’’ Gadis itu berusaha melepaskan genggaman Kay dari tangannya. Kay memaksanya berdiri dan menariknya pergi. Tapi sebelum ia melangkah lebih jauh untuk keluar dari ruangan itu, Direktur telah meninjunya dan membuat sekitar bibirnya berdarah.
‘’Ahhh’’ Gadis itu terlihat sangat terkejut dan bingung dengan apa yang sedang terjadi di ruangan itu. Tapi kemudian dengan cepat ia duduk kembali di kursi yang sebenarnya tidak ada didalam tadi, dan menandatandanginya dengan bollpoint yang terletak di meja, merasa tak diacuhkan Kay menatapnya pasrah.
Kay berjalan di pinggiran Jalan kota Jakarta, wajahnya terlihat murung seketika. Ia melepaskan headphonenya dan mendengar suara-suara orang, bukan suara mengejek tapi justru seperti suara tepuk tangan. Kay mulai bernyanyi, wajahnya tak berubah, ia masih sama, tapi ingatannya mengatakan bahwa saat itu, ketika langit di Jakarta sudah sangat gelap setengah tahun yang lalu.
‘’Hajimete kimi o atta to, Bokuno mewa sugata okukizu mirarete mite imasu. Sonotoki kara kimi o wasurerarenai, kimi wa hajimete, boku no kokoro itta hito. Shisaki hokano kage wa, boku kara kimi o ubai tota, naze ka sono ni na attaka. Itsumademo matte iru, boko ni modoru tame maita koyobawa wa, sore dewa ieru, Itsumademo matte iru, boko ni modoru tame maita koyobawa wa, sore dewa ieru, sore dewa ieru, a aishiteru.’’
‘’Prok prok prok.’’ Bunyi suara tepuk tangan membahana di seluruh café kecil itu. Kay setengah tahun lalu menunduk sambil tak henti-hentinya berterimakasih kemudian ia turun dari panggung dan menghampiri seseorang. Seorang gadis yang tidak telihat bertepuk tangan, ia hanya tersenyum.
‘’Kakak. Terimakasih ya sudah datang.’’ Kata Kay saat itu.
‘’Hei, ada apa denganmu Kay, Kakak tidak datang berterimakasij, Kakak datang berterimakasih juga, lain kali Kakak tidak datang kalau tidak dibelikan es-krim.’’ Gadis yang memang lebih tua darinya itu merengek pura-pura, lalu mereka tertawa bersama.
‘’Ini.’’ Pembicaraan menjadi serius, Kakak memberikan sebuah kertas dalam amplop besar.
‘’Kontrak kerja, tolong pikirkan lagi.’’ Kay seketika menjadi kesal, ia menatap surat kontrak itu lalu membuang muka, tanpa menatap Kakak, ia bertanya namun lebih seperti pernyataan.
‘’Tidakkah ini terlalu cepat.’’
‘’Kau bilang ingin bersamaku, besok, lusa dan seterusnya aku tidak mungkin ke café ini. Ini kesempatan baik, aku akan punya banyak waktu untukmu.’’ Kay menunduk, ia lalu mendengar dari berisiknya café, dering handphone baru Kakak.
‘’Iya, baiklah aku kesana.’’ Ada raut kebahagiaan di wajah Kakak saat berbicara di telpon, kemudian wajah itu tak terlihat, Kakak melangkah keluar ketika musik masih berisik.
Kay setengah tahun kemudian, Kay kembali ke saat ini, menatap mobil yang berlalu lalang. Sebersit harapan tenggelam saat baru saja ia menelpon Ayahnya entah untuk keberapa kali, ada apa dengan Ayah, ia mengantongi handphonenya, berteriak-teriak kesal di dalam hati lalu berjalan lagi.
Kay berjalan tenang meski tanpa arah dan tujuan. Ia masih menanti dan berpikir bahwa ia akan segera terbangun dari mimpi buruknya ini. Hari ini, ia harap hanyalah mimpi.
Ceri masih melangkah, sepertinya ia sudah jauh dari tempat ia pertama dan entah mungkin terakhir kali bertemu Kay, pria yang ia sangka hendak bunuh diri. Perasaanya menjadi tidak enak, ia merasa seperti diperhatikan. Ia merasa….Tidak. Ada apa sebenarnya, apa ada yang mengikutinya. Ceri menoleh kebelakang, ia…ada sekelompok preman yang belum sempat dihitung Ceri jumlahnya berjalan dibelakangnya, mengikutinya.
‘’Satu, dua, tiga…’’ Ia berlari, Ceri berlari secepat mugkin, tapi lagi-lagi ia bukan pelari yang jago. Meski begitu, ia harus melakukannya sebaik mungkin, menghindari para preman seram ini. Ia berbelok ke arah kiri tapi para preman itu masih mengkitunya, ia berbelok lagi kesebelah kanan, memasuki gang baru, mereka masih mengejarnya, mereka tahu saja. Ceri kehilangan akal, ia nampak berdiri ketakutan, dan dibelakang para preman itu mulai terlihat, apa yang harus dilakukannya. Tidak, tidak ada. Seseorang menarik tangannya, membuatnya hampir saja terjatuh.

Comeback part 3

COMEBACK

Part 3
Ceri mencuri-curi pandangan lewat sisi kanan dan kirinya, orang yang dibelakangnya jelas merasa tak nyaman atas sikap Ceri ini, sehingga Ceri meminta maaf secepatnya, untuk beberapa kali, walaupun hatinya terus merasa gugup dan menerka-nerka sesuatu.
‘’Berikan formulirnya.’’ Kata seorang perempuan yang sepertinya seorang guru di sana.
‘’Apa? Ah, aku kehilangan formulir itu di jalan.’’
‘’Selanjutnya.’’ Perempuan itu menoleh ke belakang.
‘’Maafkan aku, tapi tidak bisakah, aku ikut seleksi.’’
‘’Kami tidak menerima seseorang yang lalai disini.’’ Mata tajamnya menoleh ke arah Ceri dan membuat Ceri mengalihkan pandangannya ke bawah.
‘’Selanjutnya.’’ Katanya lagi sebelum Ceri sempat melangkahkan kakinya. Dengan langkah kaku yang tak diharapkannya, ia terus berjalan menatap terus ke lantai, dan ketika riuh rendah suara yang kelihatan bersorak-sorai, Ceri mengangkat wajahnya. Seseorang yang ditemuinya di terminal bus, gadis cantik dengan kulit putih mulus dan potongan rambut pendeknya, sedang berjalan mendekatinya.
‘’Hi, kita berjumpa lagi ya.’’

‘’Ah, iya, apa kita ini memang jodoh ya?’’ selidik Ceri dengan gaya bercanda.
‘’Mungkin.’’ Ceri tertawa, tapi gadis itu tak mebuka bibir merahnya sedikit pun, tetap mengatup. Ceri menghentikan tawanya, dan berusaha menyembunyikan rasa malunya. Saat ia ingin berkata lagi, ada sebuah suara tedengar dari loudspeaker di aula itu.
‘’Thella, nomor 254. Thella, nomor 254.’’ Gadis di handapannya itu berbalik, ia melankah maju beberapa langkah, lalu melihat kebelakang, masih ada Ceri disana. Semua orang memperhatikan mereka.
‘’Kau kesini untuk audisi juga kan?’’ Ceri tidak menjawabnya, ia merasa ragu, apa yang akan dilakukannya sekarang, dan setelah pikirannya mulai sadar kembali, ia tak melihat Thella di manapun, ia sudah masuk, ke sebuah ruangan untuk seleksi.
‘’Senang bertemu denganmu, sudah berapa lama ya?’’ Seorang guru yang sepertinya mengenal Thella lebih, menyambutnya dengan hangat.
‘’Aku hampir lupa, untung kau mengingatkannya.’’ Katanya sinis pada perempuan yang kira-kira berusia 35 tahun, 17 tahun di atasnya.
Perempuan itu menatapnya aneh namun berusaha untuk tidak berbicara sendiri, mengungkapkan dengan sebalnya betapa malunya ia.
‘’Baiklah, kau boleh menyanyi sekarang.’’
Thella mulai bernyanyi, sebuah lagu sedih yang menusuk perasaan, membuat dua orang juri lainnya menyeka matanya berkali-kali walau satu diantara mereka adalah laki-laki.
Dari luar, semua melihat ke arah tv yang tersambung dengan ruang seleksi. Ceri, tanpa arah dan tujuan, melangkah, dan secara tak sengaja mendengar suara indah itu, yang disetiap nafasnya terasa kesakitan, walaupun Ceri sendiri belum pernah merasakanya, tapi mungkin ia pernah, tanpa disadarinya, saat ia belum bisa memahami apapun ia kehilangan orangtuanya, keluarga satu-satunya sebelum perempuan yang ia panggil bunda membawanya ke panti asuhan, dan mengurusnya samapai sebesar ini, sampai seperti gadis yang benar-benar Ceri, manis, dan selalu ceria, yang mulai mengalihkan pandangannya ke arah tv itu lagi.
‘’Dia hebat ya.’’ Puji seseorang yang dibarengi dengan anggukan yang lainnya.
Thella bernyanyi dengan sangat baik tapi sepertinya ia tak mengerahkan semua kemampuannya, ia sudah yakin akan lulus seleksi, untuk apa bekerja terlalu keras yang pasti ia punya bakat.
‘’Wah, keren ya.’’ yang lainnya saling bercerita, membicarakan Thella yang baru saja selesai menyanyikan lagunya.
‘’Hei, diam, kita harus mendengar keputusannya.’’ Kata seseorang dan lainnya diam, termasuk Ceri yang terus menatap ke arah tv.
‘’Bagus. Aku tak perlu banyak bicara, sudah tahu apa keputusannya?’’
Thella memandang ke perempuan yang berbicara itu, yang sepertinya masih berusaha sok akrab.
‘’Ya, tentu. Oh ya aku ingin bertanya.’’
‘’Hem?’’ selidik guru itu.
‘’Sebagus apakah suaraku tadi?’’ Ia tak memberikan jawaban, hanya memandangnya aneh.
‘’Wah, apa artinya ini dia diterima?’’ ada nada tidak suka dengan kehadiran Thella di Landry Art Scholl ini.
‘’Yah, itu sudah pasti.’’ Kata seorang lain yang merasakan hal yang sama.
‘’Mengapa dia memilih sekolah disini ya?, bukankah ia lebih baik sekolah di amerika?, kalau aku jadi dia…’’
‘’Hei kau tak mungkin jadi dia.’’ Seorang pria menyela gadis yang berbicara seblumnya. Sebelum sempat Ceri bertanya, hal yang sama dalam hatinya, seorang berteriak.
‘’Hei, itu dia.’’ Semua mata kini mengarah kepada Thella yang baru saja keluar dari ruang seleksi. Thella tidak melihat ke arah mereka, hanya pada Ceri. Ia maju beberapa langkah mendekati Ceri.
‘’Kau harus masuk ke sini, akan kubuktikan kalau kita berjodoh.’’ Katanya dingin. Ceri menjadi bingung, ia berdiri mematung tak mengerti, tapi ia cukup penesaran, akan jodoh diantara mereka.
Thella sudah menghilang, ia sudah pergi meninggalkan LAS, Landry Art School dengan keputusan terbaik, keputusan yang jelas ia inginkan, tapi bagaimana dengan Ceri?. Sudah banyak para calon siswa meninggalkan aula, menuju ruang seleksi, beberapa menit kemudian, mereka keluar dengan bermacam-macam ekspresi, kegagalan atau keberhasilan, dan Ceri diantara keduanya. Ia belum pulang, sementara yang lain sudah pulang. Ia mondar-mandir di depan pintu ruang seleksi, dan ketika seorang gadis yang spertinya menjadi peserta terakhir keluar dari ruangan dengan wajah lemas, terlihat bodoh tak berdaya, Ceri masuk, dan menutup pintu itu, disaat itu ia samar-samar mendengar teriakan kegembiraan yang sepertinya berasal dari gadis tadi yang telah keluar.
‘’Benar, masih ada satu murid seharusnya yang masuk, tapi, ini sudah cukup, tidak perlu terlalu banyak, yang penting kualitas mereka terjamin.’’ Guru yang sok akrab dengan Thella tadi berbicara dengan kedua guru yang duduk disebelahnya tanpa memperhatikan guru laki-laki yang sibuk memeriksa data siswa pada laptopnya di seblah kanannya.
‘’Apa waktunya sudah habis?’’ tanya Ceri yang mengagetkan semua yang disana, mereka mengangkat wajah mereka.
‘’Siapa kau?’’ tanya guru laki-laki itu.
‘’Namaku Ceri, ah, selamat sore.’’ Katanya kaku.
‘’Ini sudah malam.’’ Seorang guru perempuan lainnya memberitahu.
‘’Oh, maaf, selamat malam.’’ Dua guru perempuan itu membuang muka, sementara guru laki-laki itu terlihat antusias dengan kehadiran Ceri.
‘’Aku kesini untuk ikut seleksi.’’ Ceri melanjutkan.
‘’Tapi Formulirmu tidak ada disini.’’ Guru laki-laki itu melihat ke arah laptopnya dan mencari data.
‘’Formulirku berada di tasku yang telah dicuri, oleh sebab itulah aku menunggunya sampai selarut ini.’’
‘’Jangan banyak alasan, kami sudah mendapat murid terbaik, silakan keluar.’’
‘’Guru Cha.’’ Guru laki-laki itu terlihat tak suka dengan apa yang diucapkan Guru Cha, guru yang sok akrab.
‘’Tunjukkan kemampuanmu.’’ Kata Guru Cha.
‘’Apa?”
‘’Kita akan lihat apa kau punya kemampuan.’’
Ceri mulai bernyanyi, berbeda dengan lagu yang dibawakan Thella, Ceri menyanyikan lagu Dilema, milik Cherrybelle, dengan musik ceria yang hanya mengalun dipikirannya.
Semua terdiam ketika Ceri menyelesaikan nyanyiannya.
‘’Itu lagi siapa?’’ tanya Guru Cha.
‘’Ini lagu Cherrybelle.’’ Jawab Ceri sambil tersenyum.
‘’Aku pikir ini lagumu, buruk sekali.’’ Katanya lagi, dua orang guru lainnya menatap Guru Cha.
‘’Bisa tunjukkan kemampuanmu yang lain?’’
‘’Yang lain?’’ Ceri kelihatan sedang berpikir.
‘’Kau bisa dance?’’ Ceri menggeleng, ia menatap Guru Cha dengan wajah memelas, mungkin berharap Guru Cha akan membantunya, padahal tidak.
‘’Sayang sekali, silakan keluar.’’
‘’Itu artinya aku tidak lolos seleksi?’’
‘’Ya, tepat sekali.’’
‘’Apa tidak bisa kau menerimaku, aku akan berusaha.’’
‘’Jangan mengemis, aku tidak suka sikap seperti itu. Kau pikir hanya dengan menyanyi asal-asalan kau bisa masuk sekolah ini, benar sekolah ini menyukai anak yang mau berusaha, tapi tidak kah kau berpikir, kau tidak punya bakat?’’
~Bersambung~

Comeback part 2

COMEBACK

Part 2
Di part Sebelumnya, Kay yang dikejar tiga siswi SMA tak sengaja masuk ke dalam ruang ganti di sebuah toko pakaian. Naas, ada cewek yang sedang ganti baju di dalamnya, Hmm gawat! Happy Reading kawanku..

Kay dengan refleks menutup mulutnya. Si cewek berusaha untuk melepaskan tangan cowok yang tak dikenalnya ini, namun sulit dan bahkan hampir saja membuatnya tidak bisa bernafas. Kay memperhatikan ka arah bawah, dan melihat sepatu sekolah anak-anak itu berjalan-jalan mencari-cari ke setiap sisi toko pakaian.
‘’Dimana dia?’’ tanya seorang cewek pada temanya yang lain, sementara Kay masih menutup mulut si cewek.
‘’Aku tidak tahu, mungkin dia tidak ada disini.’’ Sahut cewek yang lain. Si cewek yang bersama Kay berusaha melepaskan tangan Kay kemudian pasrah.
‘’Ayo kita pergi.’’ Kay menghembuskan nafasnya, ia sangat lega.
‘’Kenapa kita tidak memeriksa ruang ganti itu?’’ kata cewek dengan suara yang berbeda dengan kedua cewek lainnya. Tanpa memerlukan jawaban dari yang lain, ia melangkah menuju ke arah Kay dan si cewek yang belum ditahu namanya. Kay merasakan si cewek yang mulai mendekat, bahkan dapat mendengar langkah kakinya dengan jelas, Kay menahan nafasnya. Ia sudah pasrah ketika melihat tangannya memegangi tirai, hendak membukanya.
‘’Tidak perlu, aku yakin dia tidak ada disini, kita bisa meminta tanda tanganya lain kali, ayo kita pergi.’’ Ajak yang lain.
‘’Jadi mereka fansku?” Kay berbicara sendiri tanpa menyadari cewek disebelahnya yang berusaha berteriak, dan memukul-mukul tangan Kay. Setelah cukup lama menunggu Kay selesai berpikir, si cewek akhirnya dapat mengambil nafasnya lagi. Kay melepaskan tangannya. Suasana hening, mereka saling bertatapan. Si cewek kelihatan sangat marah, namun tak dapat berbicara, ia hanya menatap dengan bingung, dan akhirnya Kay yang memulai.
‘’Maaf, aku…’’
‘’Apa kau gila?, apa maksudmu tadi, apa kau pikir ini lelucon, masuk ke dalam ruang ganti begitu saja, tanpa tahu apakah ada orang disana.’’ Luapnya.
‘’Iya, aku salah, aku minta maaf.’’ Kay menjadi kesal karena si cewek tidak menerima permintaan maafnya, tapi ia cukup tahu, ia tidak berada pada posisi yang menguntungkan. Si cewek hanya mendengus kesal, memalingkan wajahnya.
‘’Bagus sekali.’’ Kata si cewek sambil memperhatikan belanjaannya. Ia kini sedang berada di luar toko bersama Kay. Mendengar kat-kata si cewek, Kay hanya bisa tersenyum paksa.
‘’Ini.’’ Si cewek memberikan sejumlah uang ratusan ribu yang ia ambil langsung dari dompetnya tadi.
‘’Apa ini?’’ tanya Kay tak mengerti.
‘’Kau pikir aku tidak punya uang?, sudahlah ambil saja, sepertinya kau berhutang pada orang yang mengejarmu tadi. Darrr, Kay mau meletus. Apa?, berhutang?, sampai saat ini pun, ia tak pernah berhutang. Ada apa dengan cewek ini, apa ia tak mendengar gadis-gadis itu mengejarnya untuk meminta tanda tangan?, ah, apa ia tak mengenal Kay, yah Kay pikir itu sudah baik, dari pada gadis itu harus mengetahui sisi buruk dirinya.
Entah mengapa Kay menerima begitu saja uang dari gadis itu.
‘’Baiklah, aku pergi.’’ Gadis itu pamit. Kay memandanginya.
‘’Hei…’’ Gadis itu menghentikan langakahnya. Ia berbalik pada Kay.
‘’Ya?’’
‘’Aku ingin tahu siapa namamu.’’ Kay benar-benar aneh, untuk apa Kay menanyakan nama gadis itu, apa ia berharap untuk bertemu dengannya lagi. Entahlah.
‘’Aku Thella.’’ Katanya cepat.
‘’Apa?, kau berbicara terlalu cepat jadi…’’
‘’Thella, T-H-E-L-L-A.’’ putusnya. Mereka berdua saling menatap, tersenyum di tengah kegelapan malam.
Kay berjalan, ia memandang ke arah depan tapi pikirannya sedari tadi melayang memikirkan Thella. Kadang ia tersenyum sendiri, memarahinya untuk kecerobohan yang dibuatnya, apa penting untuk memikirkan gadis itu, begitu katanya berulang kali, sampai akhirnya ia menyadari ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
‘’Ahh’’ Ia menepuk dahinya, dan berkata betapa bodohnya ia.
‘’Aku tidak mungkin kembali, koper itu pasti sudah hilang.’’ Pasrahnya tanpa bisa berpikir jernih.
Kali ini, ia mengambil kembali handphonenya, dan setelah menyadari tak kunjung ada jawaban, ia memasukkan kembali ke dalam celana jeans ketatnya, tanpa berniat untuk menelpon ayahnya malam ini.
Hujan mengguyur, membuat Kay memasukkan jarinya ke dalam jaket abu-abunya, namun ia menutup kepalanya dengan topi jaketnya lebih dulu. Ia memalingkan wajahnya, berusaha mencari tempat untuk berteduh. Ia berlari menuju halte bus terdekat. Udara masih sangat dingin, Kay duduk di bangku, bukan untuk menunggu bus, ia hanya lelah, berusaha bermalam disini, walaupun ia nampak ragu.
Matahari terbit disebelah timur, pagi hari yang cerah baru saja dimulai. Seorang gadis dengan tinggi kira-kira 162 cm, sedang berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri lalu tersenyum simpul, di kedua pipinya terlukis dua lesung pipit, dan kulitnya yang coklat, menambahnya menjadi sangat manis.
‘’Ini sudah lebih baik, tapi aku harus mencobanya lagi.’’ Ia memulai menyanyi dengan suara merdunya, lagu Dilema, milik girlband Indonesia, Cherrybelle atau yang biasa disebut Chibi.
‘’Tuhan tolong aku, ku tak dapat menahan rasa di dadaku, ingin aku memiliki, namun dia ada yang punya. Tuhan bantu aku, ternyata dia kekasih sahabatku entah apa yang harus kukatakan, hatiku bimbang jadi tak menentu….’’
‘’Ceri, ayo, kita akan terlambat!’’ panggil seorang ibu dari arah luar.
Ceri segera berbalik pergi, namun ia kembali lagi dan mengambil tasnya yang ketinggalan.
Mereka menunggu bus, tapi udara sejuk pegunungan membuatnya tidak bosan,
Ia memandangi sekali lagi desanya. Berpikir, apa ini yang terakhir kali, ia melihat desanya?. Kemudian untuk sejenak, ingatannya lari membawa perasaannya.
‘’Hai.’’ Sapa seorang gadis kecil dengan memakai dress pink dengan pita yang diselipkannya di rambut hitamnya. Seorang gadis kecil yang berdiri tepat di depannya menatapnya aneh, kemudian segera berlari di balik tubuh lemah bundanya. Ia nampak sangat ketakutan.
‘’Ceri, ada apa denganmu, ayo jabat tangannya.’’ Bunda memandangi Ceri penuh rasa kekhwatiran, dan rasa bingung terhadap sikap Ceri itu. Ceri kecil tak kunjung menjabat tangan gadis di depannya yang masih tersenyum. Ia justru berlari menuju kamarnya. Ayah dan ibu dari gadis yang tak dikenalnya itu, menatap penuh rasa kecewa, tapi juga berusaha memahami sifat Ceri, bukankah ia hanya anak 5 tahun yang tak mengetahui apa-apa.
Ceri tersadar dari lamunanya saat Bunda mulai berbicara.
‘’Apa kau ingin benar-benar pergi nak?’’ tanya Bunda.
‘’Iya, aku sudah berlatih, akan sia-sia jika…’’ Ceri berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan tidak menatap Bunda.
‘’Ceri, tidak bisakah kau tetap tinggal disini?’’
‘’Maafkan aku Bunda, tapi ini impianku, aku ingin mengejarnya, aku akan memulainya sekarang.’’
‘’Ini belum permulaan, kau masih jauh dari garis awal, untuk mencapai akhir, banyak yang akan dikorbankan.’’ Ceri mendengar suara isakan, ia memalingkan wajahnya berusaha menatap Bunda. Ia kemudian berbalik menyamping ke arah bundanya dan memeluknya tanpa suara, semua hening, kemudian terdengar suara bus yang datang.
Ceri merasa agak tidak nyaman berada dalm bus tujuan Jakarta ini, walaupun keadaan diluar sangat indah dipandang, dengan gunung-gunung yang berjejeran saling menatap dengan bus ini, diselingi burung-burung yang memandu perjalanan dengan kicauan suara mereka. Tapi, agaknya jika menatap lebih dekat ke dalam, Ceri agak sebal juga pria-pria muda yang terus menatap ke arahnya, membuatnya terus mengalihkan pandangan, agar tidak bertemu pandang dengan mereka bertiga.
Siang sudah tiba bersamaan dengan bus itu juga, matahari telah menjulang tinggi bersamaan dengan Ceri yang melangkah keluar bus.
‘’Ini pertama kalinya.’’ Bisiknya pelan seorang diri ketika ia baru saja menapakkan kakinya di terminal bus, ia membuka tasnya, ingin mengambil handphone di dalamnya, dan berniat mengabari bunda tentang perjalanannya.
‘’Heandphoneku?, heandphoneku dimana?’’ Dari wajah gadis 16 tahun itu nampak raut kepanikan yang menyelimutinya, dan dari arah belakang, tidak diduga-duga tiga orang tadi mengambil tasnya secara paksa, dan meninggalkan Ceri yang berusaha mengejarnya, dan saat sebuah mobil BMW silver melaju mendekatinya, tanpa ia tahu, dan saat ia tahu, itu membuatnya semakin panik.
Ceri berhenti seketika, ia tak mampu menarik kakinya membawanya melangkah. Ia hanya mendengar suara mobil yang dipaksa berhenti. Setelah menyadari tidak terjadi apa-apa setelah beberapa detik, ia membuka matanya. Hal yang pertama dipastikannya adalah kakinya masih menapak di tanah, bukan melayang, dan yang pertama dilihatnya adalah mobil itu, mobil yang hampir menabraknya, yang berikutnya pandangannya teralihkan oleh seorang gadis yang keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahnya.
‘’Maafkan aku, maaf, aku…’’ menundukkan wajahnya.
‘’Jangan berlari secepat itu, kau sedang berlatih untuk lomba lari ya?’’
Setelah cukup yakin bahwa gadis di depannya tidak marah, Ceri mengangkat wajahnya.
‘’Maaf.’’ Ulangnya sekali lagi. Thella, Si gadis menatap Ceri dengan diam dan tatapan tajam, berusaha mengingat sesuatu.
‘’Ada apa?’’
‘’Wajahmu familiar, aku seperti pernah mengenalmu.’’
‘’Benarkah?’’
‘’Iya, tapi aku tidak bisa mengingatnya, ah sudahlah, mugkin hanya perasaanku saja.’’ Thella melangkah masuk ke dalam mobilnya. Ceri memandangnya saat mobil melaju di depannya dan ia mobil itu semakin menjauh, Ceri melanjutkan perjalanannya dan mengeluh betapa bodohnya ia saat tahu ia kehilangan tasnya.
Sebuah bus berhenti di depannya, dan getaran suaranya membuat Kay terbangun. Ia masih setengah sadar, dan berusaha meyakinkan dirinya, bahwa yang terjadi kemarin bukan mimpi, walaupun ia terus-terusan mencari kemungkinan yang lain.
‘’Iya terimakasih.’’ Seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan, menuruni bus dan Kay tak sengaja memperhatikannya. Ia menangkap sebuah ide dan dengan cepat berdiri, berpura-pura sedang terburu-buru masuk ke dalam bus. Tubuhnya bertabrakan dengan laki-laki itu, dan dengan anehnya, laki-laki itu meminta maaf.
‘’Maafkan aku.’’ Kay tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia terus berjalan seolah-olah akan ketinggalan bus.
‘’Berhenti.’’ Dan bus pun berhenti. Ia turun dan orang-orang memandanginya lebih banyak dari saat dia masuk.
‘’Benar itu dia, dasar plagiat.’’ Begitulah orang-orang terus berbisik, mengiringi kepergian Kay dari bus seperti sebuah nyanyian. Kay tidak mempedulikan itu sekarang, nyatanya ia terus bergerak, melangkahkan kakinya.
Bus sudah meninggalkannya jauh dari yang bisa terlihat. Kay berjalan ke arah yang sama. Ia menarik sesuatu dari saku belakang celana jeansnya yang dipakai kemarin. Sebuah dompet hitam keluar, dompet yang sepertinya bukan miliknya, kar’na miliknya jauh berbeda, lebih bergengsi. Kay membuka dompet itu, ia menarik seluruh uang lembarannya, ia ingin membuang dompet itu, tapi belakangan ia berpikir lagi, ia membuka kembali dan mengambil beberapa uang recehan dari dalamnya, lalu membuang dompet itu ke arah belakang. Tidak berpikir seseorang akan menemukannya.
‘’Wahh…’’ Decak kagum seperti itu yang pertama kali diucapkan Ceri. Gadis dengan rambut dikepang dua ini, melihat kedepannya berusaha untuk tak berkedip, ia takut jika ia membuka matany lagi, tempatnya akan berubah, tak seindah tempat ini lagi. Dengan ragu-ragu ia masuk ke dalam, melewati gerbang, dan tanpa bertanya pada siapapun ia masuk ke aula besar itu. Banyak orang berkumpul disini, wanita maupun pria tak ada bedanya, semua terus berlatih, mencoba kemampuan mereka sebagaimana yang dilakukan Ceri tadi pagi di depan cermin. Tak sengaja mata Ceri tertuju pada antrian beberapa orang yang memegang formulir di tangan mereka. Ia berjalan, melewati antrian itu, semua yang mengantri menatapnya dengan pandangan tak suka, agaknya cukup lama sampai akhirnya ia menyadari arti tatapan itu dan mulai melangkah ke belakang untuk mengantri.
Ceri mencuri-curi pandangan lewat sisi kanan dan kirinya, orang yang dibelakangnya jelas merasa tak nyaman atas sikap Ceri ini, sehingga Ceri meminta maaf secepatnya, untuk beberapa kali, walaupun hatinya terus merasa gugup dan menerka-nerka sesuatu.
‘’Berikan formulirnya.’’ Kata seorang perempuan yang sepertinya seorang guru di sana.
‘’Apa? Ah, aku kehilangan formulir itu di jalan.’’
‘’Selanjutnya.’’ Perempuan itu menoleh ke belakang.
‘’Maafkan aku, tapi tidak bisakah, aku ikut seleksi.’’
‘’Kami tidak menerima seseorang yang lalai disini.’’ Mata tajamnya menoleh ke arah Ceri dan membuat Ceri mengalihkan pandangannya ke bawah.
‘’Selanjutnya.’’ Katanya lagi sebelum Ceri sempat melangkahkan kakinya. Dengan langkah kaku yang tak diharapkannya, ia terus berjalan menatap terus ke lantai, dan ketika riuh rendah suara yang kelihatan bersorak-sorai, Ceri mengangkat wajahnya. Seseorang yang ditemuinya di terminal bus, gadis cantik dengan kulit putih mulus dan potongan rambut pendeknya, sedang berjalan mendekatinya.
‘’Hi, kita berjumpa lagi ya.’’
~Bersambung~

Comeback part 1

COMEBACK

Part 1

Kay menjadi nama yang paling sering disebut di telivisi dan paling sering ditulis di majalah akhir-akhir ini. Ada apa?. Berita yang baru seminggu tersebar itu ternyata tentang pengakuan seorang pencipta lagu, Soni Wijaya, yang mengaku telah memiliki hak cipta atas sebuah lagu yang telah ditulisnya dua tahun lalu. Lalu apa hubungannya dengan Kay yang sekarang sedang diburu-buru wartawan dan sedang menanti kejatuhan namanya, entah secepat apa. Pasti ada hubungannya, Kay adalah penyanyi yang populer dengan lagu debutnya itu, lagu yang disebut-sebut memplagiati lagu Soni. Miris sebenarnya, Kay yang baru sebulan debut itu sebenarnya tidak tahu menahu mengenai persoalan ini sebelum isu yang bukan sekedar isu ini tercuat, pastinya. Sial memang, jika dilihat-lihat, lagu pertamanya, yang seharusnya menjadi pembuktian akan penampilan pertamanya harus memberikan sakit hati dari perlakuan para antis, walaupun masih ada yang berpihak padanya tapi rasanya 1:1000. Kay juga akhirnya tahu kalau fansnya yang menamakan dirinya Kaynous tidak sepenuhnya setia, mereka bahkan dengan jelas menyesal telah memberikan dukungan positif di awal karir mantan idolanya, mereka juga mengatakan bahwa mereka sangat malu dengan semua yang dilakukan Kay. Tapi, kenapa harus Kay yang selalu disalahkan?. Tapi, lagi-lagi para antis maupun penggemar tak setianya tidak pernah mempersalahkan hal itu.
Sepertinya semua itu tidak penting sekarang bagi para wartawan, mata mereka harus terus melingak-linguk diantara banyak wartawan yang juga melakukan hal sama. Ada yang membawa kamera, perekam suara, atau hanya membawa pulpen dan sebuah buku kecil, untuk menulis apa yang akan dikatakan Kay, yang sudah mereka tunggu dua hari lalu di depan kantor managementnya, Max Entertaiment. ‘’Itu dia!’’ seorang wartawan cowok yang berdiri paling depan, berteriak memberitahu kalau Kay sudah menampakkan batang hidungnya, dan muka yang mungkin sedang menahan malu akan semua cercaan yang sudah dialamatkan padanya di dunia maya, yang berakibat twitternya di hack antis, yang menurutnya lebih baik ketimbang harus melihat timelinenya dipenuhi kata-kata sadis yang pernah sekali dilihatnya.
‘’Bagaimana tanggapan anda tentang semua pemberitaan yang muncul baru-baru ini?’’ tanya seorang wartawan cewek yang mungkin terlihat sedikit kagum dengan ketampanan Kay, yang lebih tampan jika dilihat aslinya ketimbang difoto. Kay tidak menjawab, ia yang memakai jaket putih dan menutupi kepalanya, mungkin masih berpikir, seberapa populernya dia saat ini, sampai-sampai para wartawan terus memburunya dengan pertanyaan yang sama yang pernah ia baca di sebuah media online, memang aneh jika kita pikirkan, ketika semua artis lain yang terlibat skandal akan menutup semua akses internet, bahkan mematahkan kartu handphonenya sendiri, tapi Kay tidak, ia pernah membaca artikel yang menjelek-jelekkannya di sebuah forum internet, membaca komentar menyindir atau lebih terkesan mencaci. Tapi, ia juga merasa malu dan ada saatnya ia terpaksa mematikan handphonenya.
‘’Benarkah anda merasa depresi?’’ Kay tidak bisa menjawab, mungkin juga tidak mau, ia masih terus mencoba melangkah sedikit demi sedikit menuju mobil yang sudah menunggunya di hadapannya, di bantu lima orang pertugas keamanan, Kay terus melangkah, meskipun sulit. Tapi, lagi-lagi ia harus mendengar pertanyaan yang sama, yang pernah didengarnya dari tv, beberapa waktu lalu.
‘’Maaf’’ kali ini ia mulai bersuara, tampak tak yakin, masih tak yakin dengan apa yang baru saja dikatakannya sekarang ia malah melanjutkan kata-katanya, ‘’Kalian tak akan bisa menemuiku lagi, aku minta maaf pada penggemarku, maaf pada para antis, pada tv, majalah, radio yang tak akan bisa menanyakan hal itu lagi padaku, selamat tinggal’’
‘’Jadi, benarkah itu, apa anda akan benar-benar meninggalkan Jakarta, lalu kemana anda akan pergi, ke luar negeri kah?’’ kali ini Kay mengambil sikap seperti sebelumnya, ia bungkam. Ia dengan kekeuh terus berusaha berjalan, seorang petugas sepertinya sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, ia nampak tak sabar, dan balik mendorong para wartawan itu menjauhi Kay , yang entah ia tahu alasan kenapa banyak wartawan yang merumpun disini, dan menggaggu malamnya di kantor. Wajah para wartawan itu sedikit agak ketakutan, tapi lebih banyak diantaranya, yang tak mau memusingkan itu, ia hanya perlu tahu kalau ia sangat membutuhkan berita tentang Kay si Plagiat. Memang seperti itulah jiwa seorang jurnalis.
Beruntung sekali ini, kalau memang Kay benar-benar akan meninggalkan Jakarta, ia sudah menempuh langkah pertama dengan sukses, masuk mobil. Seperti itulah.
Matahari sudah mulai meninggi, Kay tidak bisa melihatnya dari dalam mobil, tapi ia dapat merasakannya, kekeringan di hatinya, belum terpikir kapan hati itu akan mencair. Ia harap secepatnya. Ia memegang sebuah cincin dengan simbol yang tak pernah ia tahu dan coba ia pikirkan sebelumnya, entah kenapa ia tak memakainya, apa ia alergi cincin dengan warna putih, tak bermotif, dan tidak pernah berkarat?. Tidak, ia punya alasan lain dan itu pasti.
‘’Bisakah kita pergi ke suatu tempat?’’ tanyanya pada supir yang belum ia kenal namanya itu. Tanpa menganguk si supir tua itu melihat dari kaca di hadapannya.
Kay tidak mampu menahan kesedihannya, semua rasa bersalahnya belum bisa tertumpahkan dengan tangisannya sekarang, masih banyak yang membekas, dan seharusnya menjadi lebih baik, tapi ini justru menjadi lebih buruk. Tangan kiri Kay masih memegang cincin yang tak pernah luntur walaupun sudah ratusan kali diusapnya satu hari ini, tapi matanya tidak tertuju pada cincin itu, melainkan pada wajah ibunya yang terlukis di dinding jalanan, ia memegang bagian rambutnya yang terlukis warna hitam.
‘’Ibu kaulah penulis terhebat di dunia, aku mengagumimu, tapi aku justru merasa tak sebaik dirimu, aku lari dan memilih pekerjaan ini, sekarang aku menyesal, bukan, aku tidak menyesal kar’na tidak memilih jalan sepertimu, tapi aku pikir, tapi aku tidak yakin, aku berpikir, ini bukan yang terbaik, aku akan menemui ayah. Aku berharap, orang tidak akan merusak lukisan ini, aku sangat berharap mereka mengaguminya, sama seperti aku. Maafkan aku, kau pasti menjadi sangta sering mendengar kata maaf dariku, tapi aku benar- benar melakukan banyak kesalahan. Selamat tinggal.’’ Ia masih berkata dalam hati, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, tapi kesedihannya justru semakin meluap-lupa. Kay menarik tangannya, ia memasukkannya ke saku celana jeans sebelah kanannya sementara saku disebelah kiri, sudah dimasuki tangan yang lain. Ia memandang sekali lagi lukisan itu dan berusaha tersenyum.
‘’Tuan, banyak wartawan yang menunggu, apa sebaiknya…’’ kata-kata supir itu diputus oleh Kay.
‘’Tidak perlu, aku tidak perlu takut.’’ Katanya setengah yakin.
Mobil itu kembali melaju perlahan menuju arah sebuah rumah di komplek perumahan elit di kota Jakarta. Wartawan kini sudah menyadarinya, mereka mengerubuni mobil itu, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang datang silih berganti anatra mulut demi mulut yang berkoar-koar dengan segala bentuk ekspresi mereka, berharap Kay akan menjawab satu atau dua pertanyaan atau mereka hanya dapat meliput gambar Kay diam seribu bahasa sambil memasuki rumah, atau mencetak berita yang sama di majalah mereka. Supir dengan topi yang menutupi rambut pendeknya yang sedikit beruban dimakan usia, dan mengisyratkan laki-laki yang sekarang sedang keluar dan membukakan pintu mobil itu sudah nampak tua.
Tapi sebelum pintu mobil dibuka, Kay mengambil sesuatu dari saku kanannya. Permen. Yeah, ternyata sebuah permen pembersih mulut, untuk apa?, entahlah, tapi seperti, kenapa kau harus memakai sisir untuk merapikan rambutmu, kenapa bukan sapu, mungkin juga seperti kenapa kau harus membuka bibirmu saat berbicara dan mengatupkannya saat kau selesai berbicara. Benar, tidak perlu alasan.
Kay sudah bersiap-siap dengan semua pertanyaan yang akan dilontarkan kepadanya, segera ia memasang headphonenya, setelah seorang wartawan tv sepertinya melontarkan sebuah pertanyaan aneh. Kenapa, apa maksudnya?, untuk apa menanyakan apa ia akan sering tidur di rumah, yeah walaupun sekali lagi masih ada hubungannya, ia akan kehilangan semua jobnya dan menghilang sehingga bisa menebus tagihan tidurnya sebulan ini. Tapi, apa tidak ada pertanyaan lain. Hufffth!!!…
Beberapa wartawan terus melontarkan pertannyaan-pertannyaan mereka meskipun Kay sudah menempelkan headphonenya, arggh, apa mereka belum mengerti juga. Sepertinya sudah. Mereka mulai membicarakan Kay.
‘’Lihat, aku benar-benar senang melihatnya jatuh seperti ini, tidak akan ada lagi Kaynous yang menyebalkan.’’ mulai seorang wartawan yang membawa sebuah perekam suara.
‘’Aku juga berpikir seperti itu, lihatlah, tidak akan lama lagi, Kay akan pergi.’’ Sahut seorang wartawan cewek yang memakai topi yang kelihatan sekali hanya untuk sekedar gaya.
‘’Benar Kay yang sombong itu’’ sahut yang lain.
‘’Aku benar-benar senang.’’
‘’Yeah, mari kita merayakan kepergian Kay dan Kaynous dari musik.’’
‘’Yeah…’’ kata-kata itu diputus oleh Kay yang berteriak. Apa, bagaimana ia tahu, mengapa ia marah, apa ia mendengarkan semuanya, semua yang berbicara dan mengata-ngatai Kay dan fansnya, sesuatu yang mungkin terjadi.
‘’Jangan katakan lagi!’’ Ia menarik headphonenya dan memperlihatkan bagaimana tidak ada kabel yang tersambung dan mengisyaratkan bahwa ia mendengar semua, semuannya yang menyakitkan.
‘’Apa kalian ingin aku pergi?, itu yang kalian mau, katakan!’’ Sejenak semua hening, mereka saling bertatapan, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
‘’Tidak, kalian akan kehilangan berita kalau aku pergi dengan cepat. Katakan saja yang ingin kalian tahu dariku, aku akan menjawabnya’’ katanya lagi, mengahadapi keputusasaan. Mereka saling bertatap satu sama lain, para wartawan itu. Dan ketika seorang kameramen acara tv menurunkan kameranya, mereka yang membawa kamera mengikutinya, untuk tidak mengambil gambar. Perlahan satu diantara mereka meninggalkan tempat itu, selanjutnya begitu, sampai tidak ada yang tersisa, sampai akhirnya tinggal Kay sendiri disana, berdiri entah sedang menatap apa, untuk kemudian berjalan masuk menuju rumahnya. Ia melepas headphonenya. Ia masih berjalan, sampai ia menyadari sesuatu. Untuk apa asistennya kemari?, bagaimana ia bisa masuk dan mendorong koper ukuran sedang milik Kay. Kay menatapnya, asisten prianya, yang juga sedang , mengalihkan pandangannya, berusaha untuk menatap Kay. Kay menyerngitkan dahi, berusaha untuk berpikir.
‘’Aku…’’ kata asistennya memulai, wajahnya menunduk.
‘’Aku akan pergi.’’ Katanya pasrah dan begitu dingin.
Malam ini dingin sekali, Kay memasang jaket abu-abunya, sekarang ia sudah mulai tenang karena ia berpikir tidak akan ada lagi wartawan yang mengejarnya setelah kejadian tadi, walaupun ia sedikit bingung, kemana ia akan pergi. Ia melangkah, terus berjalan menyusuri jalan sempit. Rasanya, sangat takut untuk pergi ke tempat yang banyak orang. Mengingat apa yang sedang terjadi padanya. Ia mengambil handphonenya, dari balik saku jeansnya. Kenapa ia tidak berpikir, untuk menelpon ayah dan pergi ke Amerrika saja, bukankah itu tujuan untamanya, melarikan diri. Tidak aktif.
‘’Tunggu lima menit lagi, benar.’’ Ia menelpon lima menit kemudian, meskipun ia tidak yakin, rasanya lebih cepat dari lima menit. Masih sama.
‘’Mungkin, tiga menit lagi.’’ Tetap tak aktif. Ia mulai putus asa.
‘’Aku akan menghitung mulai dari 60, 60,59,58,57,…46,45,…32,31,30,…21,…11,…5,4,3,2,1, ya, aku akan menelponnya.’’ Ia mengangangkat handphonenya, menempatkannya di telinganya. Menunggu. Aktif. Ia menungggui jawaban, tidak ada jawaban. Ia menelpon lagi, berkali-kali. Tetap sama, ia benar-benar putus asa.
‘’Jangan pedulikan orang lain, aku harus menginap di hotel.’’ Katanya berusaha menyemangati diri.
Baru saja ia sampai, ia sudah membayangkan sesuatu yang buruk. Bagaimana, jika ia akan bertemu dengan anti fansnya, dan mereka mengejarnya, melemparkan barang-barang ke arah Kay, dan tertawa mengejek.
‘’Ah, aku tidak sanggup.’’ Ia mundur beberapa langkah dari gerbang rumah sakit. Tapi sepertinya ia menabrak sesuatu. Ia berbalik. Benar saja, apa yang dipikirkannya benar. Tiga anak SMA tersenyum di depannya, membuat Kay sangat ketakutan.
‘’Tunggu, kita bisa bicara baik-baik. Sebenarnya aku…’’
Ia menggantungkan kata-katanya dan berlari, mereka mengejarnya. Kay berlari, ia sangat ketakutan seperti akan dimakan oleh para pelahap maut, di film Harry Potter. Ia masuk ke sebuah toko, ia sangat tergesa-gesa, dan berpikir pendek, bersembunyi di balik ruang ganti, entah apa ia sudah melihat kalau tirainya tertutup dan berarti…
‘’Aaaaa’’ teriak seorang cewek. Ia hampir saja melepas bajunya.
~Bersambung~